
"Jangan mangap kayak gitu, aku sudah yakin dengan keputusan ini, makanya aku menyuruh kamu kemari. Ambillah semua baju bajuku yang di lemari, itu kalau kamu gak keberatan. Kalau gak mau, kamu bisa kasihkan ke yang mau saja.
Banyak yang belum kepakai dan masih terbungkus plastik, karena sekarang aku tidak membutuhkan pakaian pakaian itu." Erna dengan sikap tenang mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, dengan sambil terus mengunyah martabak ketan hitam kesukaannya.
"Ini mbak Erna beneran serius?
Terus apartemennya kosong atau mau disewakan?
Biar aku saja yang sewa!" sahut Arin semangat dan berharap Erna mau menyewakan apartemen miliknya pada dirinya.
"Kamu serius mau sewa apartemen ku ini?
Berani bayar berapa?" sahut Erna cuek dan tidak terlalu menanggapi ucapan Arin.
"Aku serius mbak!
Mbak Erna mau sewakan berapa tiap bulannya, atau langsung satu tahun.
Kalau aku yang sewa, mbak kan bisa kesini jalan saja, iya kan?" balas Arin penuh harap.
Karena dia sudah gak betah tidak nggak di apartemen tempatnya menyewa, ada seseorang yang terus mengganggunya, mau dijadikan istri mudanya, padahal istrinya masih cantik dan segar.
"Kalau kamu serius, tempati saja. Dan untuk harga sewanya, seikhlasnya saja. Tapi kamu harus menjaga dan merawat apartemen ku ini. Dan ingat, tidak boleh ada zina di sini. Meskipun aku terlihat urakan dan selalu dengan pakaian seksiku, aku tidak pernah menjual tubuhku, kehormatan ku masih terjaga dan akan aku berikan untuk suamiku nantinya." sahut Erna serius dengan tatapan lekat diarahkan pada Arin yang juga tengah menatapnya tak percaya.
"Kamu gak percaya kalau aku masih perawan?" Erna melihat ke arah Arin dan melontarkan pertanyaan yang membuat Arin langsung gelagapan karena merasa tidak enak.
"Bukan begitu, aku cuma kagum saja sama mbak Erna. Masih bisa mempertahankan kehormatan, sementara godaan diluar sana sangat menggiurkan. Aku saja hampir tergoda, kalau tidak ingat dengan dosa, mungkin aku akan terjebak di dunia kelam itu.
Semoga aku bisa menyusul mbak Erna ke pesantren. Tabunganku belum cukup kalau harus tidak bekerja lagi." sahut Arin mengungkapkan perasaannya.
"Kamu bisa minta, Alman untuk mencarikan job yang lain, tidak harus dengan Makai bikini, model baju muslimah juga sedang naik daun, cobalah putar haluan. Rejeki sudah diatur oleh Tuhan, percayalah." Erna memberi saran pada Arin untuk menjadi model d Ngan pakaian yang lebih sopan.
"Akan aku coba bicara sama Alman. Semoga ada yang mau menerimaku. Aku juga ingin hijrah kayak kamu, Mbak!" sahut Arin penuh harap dan mengambil sepotong pizza lalu memakannya dengan rakus, membuat Erna langsung terpana dengan tingkah Arin yang selalu begitu kalau sedang banyak pikiran.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Risma tengah menikmati masa kehamilannya dengan sangat bahagia, dicintai suami, orang tua, dan juga anak anaknya.
Meskipun Pandu tengah berada diluar kota, tapi setiap saat selalu menghubunginya, menanyakan kabarnya dan juga anak anak, membuat Risma merasakan sangat dicintai oleh suaminya itu.
Saat tengah berada di teras belakang sambil mengawasi kedua anaknya yang sedang bermain air, Bu Fatma datang dan meminta Risma untuk segera kedepan, ada tamu yang tengah menunggunya.
__ADS_1
"Ris, ada tamu nyari kamu. Temui gih.
Ibu sudah menyuruhnya menunggu diruang tamu, dan minta mbak Romlah menyiapkan minuman dan cemilan." Bu Farma menepuk lembut pundak anaknya, dan mengambil tempat duduk di kursi kosong sebelah Risma.
"Biar anak anak, ibu yang temani. Kamu temui Abas, katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan sama kamu!" lanjut Bu Fatma dengan tatapan lurus ke depan, memperhatikan tingkah polah cucu cucunya yang bermain air.
"Mas Abas?
Kok tumben kesini tidak kabar kabar dulu, ada apa ya?" sahut Risma dengan mengerutkan wajahnya. Karena tidak biasanya Abas bertamu tanpa memberitahu lebih dulu, apa lagi saat Pandu sedang tidak ada dirumah.
"Temui saja dulu, wong dirumah ada kami. Tenang saja, Pandu akan paham, masak mau cemburu terus. Abas anaknya sopan dan sangat tau diri." Bu Fatma seolah tau kecemasan Risma, karena Pandu selalu cemburu jika berurusan dengan Abas, sang dokter tampan yang selalu punya cinta yang besar untuk Risma di hatinya.
"Iya, Bu!
Kalau begitu, Risma temui mas Abas dulu ya. Titip anak anak!" Risma beranjak dari tempat duduknya dan menemui dokter Abas yang sudah duduk manis di salah satu sofa empuk di ruang tamu rumahnya Risma.
Melihat kedatangan Risma dengan perut yang mulai terlihat membuncit, membuat dokter Abas merasakan sesak di dadanya. Cinta yang bertahun tahun ia jaga, tak lagi mampu di raihnya. Risma sudah bahagia dengan suaminya, dan dokter Abas harus bisa menerima dengan iklas, melihat orang yang dicintai bahagia, adalah juga sebuah kebahagiaan untuknya meskipun harus menyimpan rasa perih. Itulah kenapa, Abas memutuskan untuk pindah dan menuruti kemauan orang tuanya untuk mengelola klinik yang baru dibangun di kota Bandung. Kedatangan dokter Abas kerumah Risma, hanya ingin berpamitan dan melihat Risma untuk terakhir kalinya sebelum benar benar pergi jauh, meninggalkan rasa dan harapannya untuk memiliki Risma yang sudah tidak mungkin lagi. Kesempatan itu sudah tak ada lagi, nyatanya Risma kini bahagia dengan Pandu.
"Hai, Ris!
Apa kabar?
"Alhamdulillah, sehat dokter Abas!
Kok tumben, kesini tidak kabar kabar dulu.
Ada yang penting!" sahut Risma santai dengan seulas senyum menyambut kedatangan tamunya, dokter tampan yang sudah dianggap sebagai kakaknya.
"Iya, aku kesini mau pamitan!
Setelah ini kita tidak lagi ketemu, semoga kamu sehat dan baik baik saja ya. Bahagia selalu bersama Pandu dan anak anak!" balas dokter Abas dengan suara bergetar, mati matian menahan rasa perih di dalam hatinya.
Risma mengernyitkan dahinya, menatap dalam ke arah laki laki yang begitu dia hormati.
Meskipun Risma tau seperti apa perasaan Abas padanya, tak membuatnya GR, justru Risma selalu bersikap hormat dan menghargai perasaan laki laki yang sudah seperti kakaknya sendiri.
"Pamit?
Mau kemana?
kok dadakan." sahut Risma dengan memasang wajah penasaran.
__ADS_1
"Pindah ke Bandung.
Papa memintaku untuk mengelola klinik yang baru saja dibangun. Aku akan bertugas disana, semoga ilmuku bermanfaat buat orang orang disana." sahut dokter Abas tegas, meskipun matanya terlihat sudah mengembun, tak ingin rapuh dihadapan wanita yang begitu istimewa di hatinya.
"Oh begitu, semoga sukses dan bertemu jodoh disana, mas Abas laki laki yang baik dan Sholeh, insyaallah akan bertemu jodoh yang baik dan shalihah juga, Aamiin.
Kapan mau berangkat?" Risma berusaha untuk tetap bersikap ramah, tenang dan biasa saja.
Agar Abas tak terus menganggapnya butuh kehadirannya.
"Insyaallah, besok!" Sahut dokter Abas lirih, berharap Risma juga merasa kehilangan dengan kepergiannya, namun justru Risma bersikap biasa biasa saja dan mendoakan dirinya untuk bertemu jodoh di Bandung. Hatinya kembali nyeri karena cinta yang tak pernah terbalas sampai kapanpun.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1