
"Maksud kamu apa, Mas?" kembali Risma mengambil alih jawaban dan menatap lekat ke arah suaminya yang bahkan enggan berpaling padanya.
"Sekali lagi, apa kalian saling mencintai?
Katakan padaku, karena aku akan ikhlaskan jika memang kalian ingin menyatukan perasaan itu." sahut Pandu dengan menahan rasa sakit di hatinya.
Dokter Abas memilih diam dan melirik Risma yang menghembuskan nafasnya kasar.
"Sudahlah, Mas!
Jangan bicara ngawur dan berpikiran aneh aneh.
Aku tidak seperti kamu dan Clara. Dan apa yang kamu lihat tidak seperti yang ada dalam pikiran kamu!"
Sahut Risma dingin dan hampir tidak perduli dengan Pandu yang cemburu, namun Risma juga tak ingin di pandang rendah karena salah paham tentang hubungannya dengan dokter yang sudah dia anggap kakaknya sendiri.
Pandu berusaha menetralkan kembali emosinya, berusaha untuk tidak terbawa amarah karena rasa cemburunya melihat Risma dengan dokter yang jelas jelas punya rasa pada istrinya.
"Aku tidak suka, melihat istriku disentuh oleh laki laki lain, apa aku salah?" sahut Pandu dengan suara tertahan, menatap dalam manik bening yang indah di dua bola mata sang istri.
"Gak! Kamu gak salah, Mas!
Tapi pernahkah kamu memikirkan perasaanku, saat kamu memutuskan menikahi wanita yang kamu sebut cinta pertama kamu itu, saat kamu menyentuhnya dengan cinta yang kamu balut nafsu di malam malam indah kalian. Apa saat itu, aku ada di hati dan pikiran kamu, Mas?
Jawabnya, tidak bukan?" balas Risma tegas dengan senyuman tipis yang ia sunggingkan.
__ADS_1
Pandu terdiam, mencerna setiap kalimat yang terlontar dari bibir Risma. Meskipun dalam keadaan terluka, kecewa dan marah. Risma tetap bisa bicara dengan bahasa yang baik, dengan nada yang masih menghargainya, meskipun kalimatnya terdengar begitu menyakiti hatinya sendiri.
"Maafkan aku, Ris! Maaf!
Semua salahku, yang tak memikirkan akibatnya.
Maaf aku sudah egois dan sudah membuatmu kecewa." sahut Pandu lirih mengakui kesalahannya di hadapan istri dan pria saingannya, dokter Abas.
"Aku tidak tau harus bagaimana, karena tidak mungkin aku meninggalkan Clara begitu saja. Aku punya tanggung jawab terhadapnya, dia sekarang istriku. Tolong pahami posisiku ini." sambung Pandu dengan tatapan penuh permohonan pada perempuan yang terlihat lebih tegar dari sebelumnya. Rasa sakit dan luka yang menumpuk, telah membentuknya menjadi wanita yang kuat dan tegar dalam menghadapi setiap apa yang menimpanya.
"Kamu tak harus melakukan apapun, Mas!
Aku juga tak memintamu untuk meninggalkan istri kedua kamu. Tapi belajarlah untuk memahami perasaan orang lain dan mulailah menghormati pengorbanan istri kamu. Dan jangan meminta aku untuk bisa bersikap seperti dulu. Aku menerima pernikahan kalian, bukan karena aku sanggup dan mau di poligami dengan cara seperti ini. Tapi lebih karena aku memikirkan anak anakku, orang tuaku dan juga orang tuamu. Aku tau resiko menjadi istri abdi negara sepertimu, tidak mudah dalam menjalani setiap prosesnya, jadi tolong jangan kamu hancurkan semua pengorbanan ku ini. Jika suatu saat nanti, perselingkuhan kamu terkuak, aku pastikan, itu bukan dariku. Dan jaga istri muda mu itu, karena dia tipe perempuan temperamental, bisa saja, karena dia karirmu hancur. Aku hanya sekedar mengingatkan!" Sahut Risma panjang lebar, dengan tetap bersikap tenang dan terlihat jauh lebih baik, karena hatinya sudah mulai beranjak dari mengharapkan cinta laki laki yang hanya bisa memberi luka. Namun karena ilmu dan adabnya yang sudah melekat pada diri Risma, membuatnya mampu bersikap jauh lebih terkendali dan terlihat anggun dalam menyikapi persoalan rumah tangganya yang rumit.
Dokter Abas memilih pergi meninggalkan ruang rawat Risma, tak ingin menganggu pembicaraan suami istri yang terdengar serius. Meskipun nyatanya hatinya perih mendengar setiap kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir tipis milik Risma. Namun juga terselip kagum pada wanita yang selalu menjadi cintanya itu, wanita yang luar biasa baik hati dan pikirannya, selalu bening dalam menyikapi setiap persoalan. Dan tak pernah gegabah dalam mengambil keputusan. Cerdas dan indah, itulah sosok Risma di hati seorang dokter tampan, idaman banyak wanita diluar sana.
"Clara ada di sini, baru saja dia sampai tanpa memberitahu lebih dulu padaku. Sekarang aku menyuruhnya istirahat di hotel." sahut Pandu, berusaha berkata jujur pada istrinya.
"Lalu?
Apa yang akan kamu lakukan?
Pasti dia sedang menuntut mu bukan?" Risma tersenyum miring, sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Clara pada Pandu.
Pandu terkesiap menatap manik hitam sang istri, wanita dihadapannya bukan hanya cerdas tapi juga peka dan langsung tanggap dengan apa yang tengah terjadi.
__ADS_1
"Iya, dia memintaku untuk memilih satu diantara kalian. Permintaan konyol yang tak mungkin terjadi." sahut Pandu datar.
"Kenapa?
Apa kamu berat melepasnya, Mas?
Karena kamu cinta dan dia yang selalu hadir dipikiran dan hati kamu selama ini, sehingga kamu menutup mata dengan sikapnya itu?
Luar biasa!" balas Risma sinis dan membuat Pandu kehilangan kata kata.
"Lepaskan aku, jika itu lebih baik!
Dan berusahalah untuk bisa mempercepat prosesnya dengan kedudukan kamu, karena aku tidak mau menjalani proses yang bertele-tele, rumit dan menghabiskan waktu juga tenaga.
Aku sudah siap melepas mu, asal anak anak tetap bersamaku." sambung Risma serius dengan tatapan kosong mengarah ke depan, menyisakan perih dalam setiap kalimatnya, namun harus kuat demi sehatnya mental.
"Tidak!
Aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Sudah aku bilang, aku mulai mencintai kamu, aku mulai merindukan kamu yang dulu dan aku tidak mau kehilangan kamu dan anak anak. Aku akan berubah dan lebih banyak menghabiskan waktuku untuk kalian. Percayalah." balas Pandu dengan suara tegasnya.
"Ini akan menyakiti kita semua, Mas. Aku, Clara dan kamu. Kita akan tersiksa dengan hubungan tak sehat ini. Jujur, aku sudah beranjak dari perasaanku, aku benar benar sudah berhenti. Aku kecewa, dan luka itu sulit untuk aku sembuhkan. Kamu akan tersiksa karena hidup bersama wanita yang memilih mengabaikan kamu, padahal kita satu atap. Apa kamu sanggup bertahan?" sahut Risma menatap lekat sorot mata Pandu yang mulai berembun.
"Aku akan bertahan, demi kamu Dan demi anak anak!
Untuk Clara, aku akan berusaha untuk membuatnya mengerti, itupun kalau dia masih mau mendengar perkataan ku. Tapi jika dia masih bertahan dengan sikapnya yang egois, aku tidak tau, apakah akan bertahan atau justru melepasnya." Pandu menutup matanya, membuang nafasnya kasar. Merasakan sesak dan pikirannya buntu menghadapi dua wanita yang berbeda sikap dan sifatnya.
__ADS_1