
"Terimakasih Bu, ibu sudah mengingatkan kami. Insyaallah, kita akan terus ingat nasehat dari ibu. Doakan kami terus Bu, doa ibu sangat berarti untuk kami!" balas Sandi dengan tatapan kagum pada ibu mertuanya yang selalu bersikap lembut dan bijak.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Erna yang baru saja sampai di Bandung. Disambut baik dengan keluarga budhenya.
Penampilan Erna yang sudah tertutup membuat Perempuan umur lima puluh empat tahun itu senang, memeluk Erna hangat dan penuh rindu.
"Budhe senang, dengan penampilan kamu yang sekarang, Na!
Semoga niat baikmu ini menjadi jalan kebahagiaan kamu yang sesungguhnya. Amin!" Bu Ranti menatap bangga pada keponakannya.
"Aamiin, terimakasih budhe! Doain Erna untuk bisa Istiqomah dengan niat Erna." sahut Erna tersipu dan mengikuti langkah budhenya menuju ruang tamu.
Duduk berdampingan dan melanjutkan obrolan.
Runi, putri kedua Bu Ranti menyuguhkan minuman dingin dan sepiring bolu coklat dan juga satu toples kue kering.
"Disambi Er! maaf seadanya ya!" sambut Runi dan mengulurkan tangannya dan disambut Erna dengan ramah.
"Iya mbak, Runi!
Harusnya tidak perlu repot repot, kan aku bisa ambil sendiri nanti." Erna bersikap lebih ramah dan lembut dari biasanya, dan disambut baik oleh keluarga budhenya tanpa ada satupun yang menghakimi sikap sombongnya yang dulu. Membuat Erna betah dan nyaman berada dekat dengan keluarga kakak dari mamanya.
"Katanya mau belajar agama ya?
Mau mulai kapan?
Biar nanti aku antar ke pondok Abah Faisal.
Disana menerima santri dari segala umur. Insyaallah kamu akan betah tinggal disana!" Runi menatap ramah ke arah Erna yang terlihat berbinar. Tak sabar ingin segera mempelajari ilmu agama, agar hatinya lebih yakin dan mantap dengan hijrahnya. Melupakan rasa sakit atas luka masa lalu yang penuh dengan bullying.
"Besok juga boleh, mbak! Aku sudah gak sabar ingin segera belajar, semoga aku bisa menerima dengan baik setiap pelajaran disana. Mbak Runi tau sendirilah, aku itu masih sangat nol banget soal agama!" sahut Erna antusias dan tidak segan mengakui kekurangannya dihadapan budhe dan sepupunya.
"Kami semua masih belajar, yang penting kita mau berusaha, insyaallah pasti dimudahkan segala urusan." Sahut Bu Ranti menatap dalam keponakannya yang terlihat sangat cantik d Ngan hijabnya.
"Tidak perlu minder, yakin saja Er!
Siapa tau nanti kamu ketemu jodoh disana. Di pondok Abah Faisal itu banyak cowok ganteng nya, yah kan siapa tau ada yang cocok nyangkut di hari, nanya juga jodoh!" sambung Runi terkekeh membuat Erna tersipu malu.
"Kamu ini, Run!
Orang mau belajar ngaji kok disuruh cari jodoh.
Jodoh itu urusan yang di atas, perbaiki diri dulu, insyaallah kebaikan kebaikan yang lain juga akan mengikuti.
Tapi budhe juga mengaminkan ucapannya Runi.
__ADS_1
Aamiin!" sahut Bu Ranti tersenyum dan meminta Erna untuk menyicipi hidangan di meja yang tadi disuguhkan Runi.
Erna menghabiskan waktu untuk banyak mengobrol dengan budhenya dan juga Runi.
Tak terasa hari sudah sore. Runi harus kembali ke rumah karena suami dan anak anaknya akan pulang jam empat sore.
Runi tinggal tak jauh dari ibunya, hanya berjarak satu rumah saja dari Bu Ranti.
Setiap suami dan anak anaknya berangkat, Runi selalu menghabiskan waktu bersama ibunya.
Sekedar ngobrol dan membantu pekerjaan rumah sang ibu, tapi sebelumnya Runi menyelesaikan tugasnya dulu dirumahnya sendiri.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu, besok biar diantar Runi ke pondoknya." Bu Ranti menepuk pelan bahu Erna, memintanya untuk istirahat, karena habis dari perjalanan jauh.
"Erna gak capek budhe!
Erna mau mandi dulu saja, kamar mandinya masih sama kan tempatnya?" kelakar Erna dan membuat Bu Ranti tertawa dengan ucapan Erna yang terdengar lucu.
"Ya masihlah, kamu taruh saja tasmu itu di kamar tamu, tadi budhe sudah bersihkan kamarnya, sudah rapi juga wangi!" sahut Bu Ranti tertawa dan menemani Erna menuju kamarnya.
"Terimakasih budhe!
Aku mau mandi dulu!" Erna memeluk Bu Ranti dan masuk ke kamar lalu mengambil baju ganti dan pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Sedangkan Bu Ranti, memanasi sayur yang tadi di masaknya untuk makan malam, sambil menunggu suaminya pulang dari kerja.
"Ternyata budhe ada disini, enak ya budhe tinggal di kampung gini, masih asri dan terasa sejuknya." Erna duduk dikursi kosong samping budhenya. Menatap ke arah jalanan yang masih sangat terlihat hijau dan sejuk.
Meskipun berada di kampung, tapi warganya termasuk dari golongan orang menengah ke atas, terlihat dari megahnya rumah rumah yang ada, dan hampir semua memiliki mobil lebih dari dua.
Apalagi rumah yang ada pas di hadapan rumah budhenya. Terlihat paling mewah dan sangat asri dengan banyaknya tanaman di halaman rumah tersebut.
"Depan itu rumahnya siapa budhe?
Kok aku baru lihat, dulu pas kesini belum ada rumah itu!" Erna menatap rumah paling mewah yang ada di depannya.
"Oh itu, rumahnya pak Danu.
Baru pindah dari beberapa tahun lalu, orang kaya memang. Tapi orangnya ramah dan baik banget.
Cuma Tinggal berdua dengan istrinya saja, tapi denger denger anaknya mau pulang, dia dokter yang selama ini dinas di Madiun." Jelas Bu Ranti Tania ada yang di tutupi. Dan Erna hanya mengangguk tanpa banyak tanya lagi.
"Mungkin itu anaknya, wah ganteng juga ya!" Bu Ranti menunjuk seorang laki laki muda yang baru turun dari mobil Pajero sport warna hitam di halaman rumah pak Danu.
"Orang kaya budhe!
Pasti merawat dirinya, dan juga kebanyakan tak punya beban pikiran karena kekurangan, jadi ya itu tampan dan mapan." sahut Erna terkekeh dan matanya tak sengaja menatap ke arah laki laki tinggi tegap dengan kulit bersihnya yang juga tengah menatapnya dengan tak sengaja. Lalu saling menganggukkan kepalanya, tanda saling menyapa lewat bahasa isyarat tubuh.
__ADS_1
Erna terpaku melihat seseorang yang memiliki perawakan mirip dengan Pandu. Namun segera menepis perasaannya agar tidak lagi larut dengan pikirannya yang salah.
"Orang kaya itu jarang yang mau beramah tamah, tapi keluarga pak Danu itu beda, mereka tidak pernah menjaga jarak dengan tetangga, justru sering menolong dan membantu yang sedang kesusahan. Budhe salut dengan keluarga mereka.
Kalau saja anak budhe masih ada yang single, budhe ingin besanan dengan pak Danu." Bu Ranti terkekeh dengan ucapannya sendiri, dan Erna juga ikut tertawa dengan ucapan budhenya yang hanya sekedar bercanda.
"Siapa tau, kamu yang akan masuk jadi menantunya pak Danu, Er!
Kamu kan masih sendiri, dan denger denger anaknya juga masih belum menikah, wah siapa tau kan, namanya juga jodoh!" Bu Ranti dengan semangat berharap Erna jadi jodoh anak tetangganya, Erna dibuat bengong dengan celoteh ngawur budhenya.
"Budhe, budhe!
Bisa bisanya punya pikiran begitu. Kenal saja belum loh, haduh!
Lagian Erna kesini itu ingin belajar dan cari ilmu.
Jodoh biar nanti saja, manut apa jare Gusti Alloh, budhe!" Sahut Erna sopan dan tersenyum geli dengan tingkah lucu Bu Ranti.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1