
Pandu tersenyum dan menoleh ke arah Risma lalu menyerahkan uang hasil panen ke istrinya.
"Kamu hitung lagi, sisihkan yang tiga juta buat beli sembako, biar dibagikan buat warga yang kurang mampu, sisanya sudah jadi hak kamu dan anak anak.!" Pandu menatap Risma dan dibalas anggukan ringan oleh Risma yang tak menyangka kalau Pandu akan langsung menyerahkan uangnya tanpa ada drama apapun.
"Wah, beruntung sekali kamu, nduk. Punya suami yang sangat loyal kayak Pandu ini. Sudah ganteng, baik, sayang istri dan juga Sholeh." sahut Mbah Sawal dengan senyuman mengambang.
Membuat Risma dan Pandu saling bertatapan dalam diam.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul tiga sore, Risma berkemas akan kembali ke Madiun, karena anak anak besok sudah mulai masuk ke sekolah. Apa yang menjadi tujuan Risma pun sudah tercapai. Mengamankan aset untuk masa depan anak anaknya.
Hampir lima puluh juta total yang dibawa Risma dari hasil panen padi dan juga laba dari cafe.
"Ternyata, uang yang kamu sembunyikan terlalu banyak, Mas. Andai tidak ada perselingkuhan ini, mungkin aku tidak pernah tau. Mungkin inilah yang dinamakan hikmah di balik setiap kejadian." Batin Risma miris menatap tumpukan baju di koper.
"Ma!" tiba tiba Pandu muncul dengan senyuman tipis di bibirnya. Duduk bersisihan di atas ranjang mendekati Risma yang tengah merapikan baju bajunya di dalam koper.
"Ya!" sahut Risma dingin dan tak ingin menoleh ke arah suaminya, tetap memilih sibuk menata baju yang akan dibawa pulang.
"Boleh pinjam uangnya lima juta saja. Aku butuh buat beli bibit ikan gurami, kolam yang kosong mau aku isi dengan gurami saja." Pandu mengutarakan maksudnya dengan menahan ego nya.
Risma menarik nafasnya dalam. Membalikkan tubuhnya agar bisa menatap wajah suaminya.
"Apa kamu sudah tidak ada uang sama sekali, Pa?" sahut Risma menyelidik dengan tatapan tak biasa dihujamkan pada suaminya.
"Ada! Tapi biasanya, aku juga akan menggunakan uang hasil usaha untuk diputar kembali. Agar tidak mengurangi uang tabungan pribadi." Sahut Pandu pasti dengan wajah sedikit mengerut.
__ADS_1
"Buat beli bibit ikan, apa buat memberi jatah istri kedua kamu?" sahut Risma ketus dan membuat pandu membuang nafas kasar dengan menahan kekesalan.
"Ma! Tolong lah mengerti, uang yang kamu bawa banyak loh, hampir lima puluh juta. Aku cuma minta lima juta saja, lagian itu juga hasil kerja kerasku juga. Jangan buat aku bersikap kasar sama kamu. Tolong, mengerti !" balas Pandu dengan suara sedikit bergetar, menahan gejolak amarah di dadanya. Tersebab Risma tak mau perduli dengan kekacauan hatinya.
"Baiklah, buat beli benih ikan kan?
Yuk kita belinya sama sama, pasti anak anak juga suka nanti." Sahut Risma santai dan membuat Pandu melebarkan matanya, tak menduga kalau Risma punya pikiran untuk menjebak dirinya.
"Biar aku yang beli, kamu tunggu saja disini.
Cuma sebentar saja." Pandu berusaha berkilah dan terlihat salah tingkah.
"Yasudah kalau gak mau dan tidak mengijinkan aku sama anak anak ikut, uangnya juga gak jadi aku kasih. Karena aku tau, dengan rencana kamu, Mas! Bilang saja, kalau kamu mau berikan uang itu sama perempuan itu. Jangan harap dia bisa menikmati apa yang menjadi hak anak anakku. Tidak akan." sahut Risma tegas dan mulai menutup kopernya dan menyeretnya keluar dari kamar. Pandu menatap nanar punggung sang istri. Mengusap wajahnya kasar. Risma tak sebodoh dan selugu pikirannya.
Di balik pintu, Risma tersenyum sinis.
"Rasain kamu, Mas!
"Ma! kita jadi pulang kan?" sambut cinta dan Galang berlarian menuju ke arahnya yang sudah berganti pakaian dengan rapi.
"Iya sayang. Dimana mbk Romlah?" sahut Risma lembut menatap kedua anaknya gemas.
"Mbak Romlah masih masukin koper ke dalam mobil tadi. Ini koper mama juga mau dimasukin mobil?" sahut Cinta ceria dan menunjuk koper yang ada di tangan mamanya.
"Iya sayang. Habis ini kita akan pulang." sahut Risma dengan kelegaan di wajahnya yang semakin terlihat ayu.
"Papa juga ikut pulang kan, Ma?" balas Galang dengan menatap mamanya dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Iya sayang, kita akan pulang sama papa!" Risma menjawab pertanyaan anaknya dengan lembut dan senyuman hangat. Biarlah cukup luka itu dia simpan sendirian. Dan Risma akan membuat Pandu merasakan luka yang sama, luka dari pengabaian dan penghianatan.
"Itu papa!
Hore kita akan pulang sama papa, nanti kita mampir ke mall dulu ya, Pa?" teriak cinta dan Galang antusias dan membuat Pandu tersenyum menyambut kehebohan anak anaknya.
"Kalian mau pulang sekarang?" Bu Sonia muncul dengan membawa beberapa kota dan bungkusan untuk diberikan pada anak dan cucunya sebagai oleh oleh.
"Iya, Ma!
Anak anak besok masuk sekolah!" sahut Risma sopan.
"Mama bawa apa itu?" tanya Pandu menatap sang mama yang .membawa banyak bungkusan.
"Oleh oleh buat kalian. Cemilan dan juga lele yang sudah mama kasih bumbu, nanti sampai rumah masukin saja ke dalam kulkas, nanti kalau pingin masak, tinggal goreng saja." Sahut Bu Sonia sumringah dan Pandu langsung mengambil bawaan mamanya lalu memasukkan ke dalam mobil milik Risma.
Setelah memasukkan semua barang bawaan, Pandu serta anak istrinya berpamitan pulang dengan menggunakan mobilnya. Sedangkan mbak Romlah dan Waloyo pulang membawa mobil Risma.
Pandu lupa, jika belum berpamitan dengan istri keduanya, bahkan tidak memberinya uang. Padahal sudah janji kalau akan membelikan perhiasan model terbaru, pas dapat uang hasil panen. Tapi janji tinggallah kenangan, nyatanya uang sudah masuk di dompet sang ratu utama, yang sedikitpun tak bisa di ganggu gugat.
"Nanti saja, biar aku bicara dengan Clara di telpon, semoga dia mau memahami keadaan ini." batin Pandu merasakan sesak.
Selama di perjalanan, Cinta maupun Galang selalu heboh dengan segala celoteh nya. Cinta duduk di kursi depan bersama papanya dan Galang di kursi tengah bersama mamanya.
Kehangatan itu kerasa sekali, namun sayang hampa dan mati rasa sudah tumbuh lekat di hati seorang Risma. Hanya ada harapan bahagia bersama kedua anaknya dan memberi pelajaran pada sang suami, agar paham bagaimana rasanya diabaikan saat hati begitu kuat dalam menjalankan taat sebagai seorang istri.
Pandu seringkali melirik dari spion wajah sang istri yang tengah tersenyum saat bercanda bersama kedua anaknya. Cantik, teduh dan menenangkan.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ris! Mungkin saat ini hatimu sudah sangat terluka, tapi aku akan berusaha untuk menyembuhkan luka itu dengan menuruti dan mengikuti semua keinginan kamu. Untuk menebus kesalahanku yang sudah sangat membuatmu tersiksa. Maaf kalau aku terlambat memahami rasa ini. Nyatanya aku tak rela kamu pergi meninggalkan aku bersama laki laki lain. Namun aku juga tak bisa meninggalkan Clara begitu saja. Aku punya tanggung jawab ladanya karena sudah menikahinya.
Maafkan aku, karena keegoisan ini, kalian dua wanita yang aku cintai harus sama sama terluka dan tersakiti." Pandu bicara sendiri di dalam hatinya dengan mata yang kadang tak lepas memperhatikan sang istri, namun tetap fokus dengan jalanan.