
"Apa kamu yakin, Pa?
Kamu yakin, semua milik kamu sudah untuk anak anak?
Apa kamu yakin, tidak ada yang kamu sembunyikan dariku?
Apa kamu sudah benar benar yakin, kalau istri kedua kamu tidak mendapatkan hak nafkah dari suamiku ini?
Jujur, itu tidak mungkin terjadi, Pak Pandu!
Tidak ada satupun perempuan yang akan diam jika tidak dinafkahi, tidak di cukupi!
Aku yakin, suamiku sedang menyiapkan kehidupan mewah untuk istrinya yang lain, karena wanita yang mau dinikahi laki laki yang sudah beristri, hal pertama yang dia lihat adalah kemapanan laki laki tersebut, dan istri muda kamu adalah tipe perempuan yang suka hidup mewah, aku tau itu, karena aku bisa merasakan sebagai sesama perempuan. Jadi berhenti bicara adil disini. Karena sedikitpun aku tidak akan pernah percaya!" Risma dengan tenang dan penuh penekanan mengeluarkan semua uneg unegnya, yang membuat Pandu mematung dengan terus memejamkan matanya, menahan gejolak emosi yang sudah ingin meledak.
"Aku hanya ingin kita bicarakan baik baik, tapi kamu selalu menyudutkan aku. Baiklah!
Aku bebaskan kamu untuk melakukan apapun yang kamu inginkan. Tapi perlu kamu ingat, kamu masih sah istriku, dan tanpa harus aku ingatkan, kamu pasti tau kewajiban kamu sebagai seorang istri yang baik. Asalamualaikum."
Pandu, melangkahkan kakinya meninggalkan perdebatan dengan sang istri, tak ingin membuang waktu jika hanya akan saling menyakiti dengan ucapan.
Risma tersenyum tipis, menatap kepergian suaminya, yang bahkan lupa tidak berpamitan pada anak anaknya.
"Sepenting itukah, wanita itu di hati kamu, mas?
Sampai sampai kamu lupa menghampiri anak anak untuk sekedar mencium kening mereka. Berangkatlah, Mas. Tunggu aku, karena aku juga akan hadir diantara kalian setelah ini." Risma bergumam lirih dan berusaha untuk tidak mengambil pusing perdebatannya dengan Pandu.
Melangkah ke dapur dan mulai menyiapkan bekal untuk nanti di bawa dalam perjalanan pulang ke rumah mertuanya. Bahkan Risma juga sudah menyuruh mbak Romlah untuk membeli oleh oleh untuk keluarga suaminya.
Namun, Risma tidak memberi tahu pada anak anaknya kalau akan pulang ke Kediri, takut kalau-kalau Cinta akan memberitahu nenek dan papanya lewat telpon. Karena anak sepolos Cinta masih belum mampu memahami apa yang terjadi pada orang tuanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan dilain tempat, Clara tengah sibuk memasak untuk menyambut kedatangan Pandu hari ini, senyum di bibirnya terus saja mengembang, menandakan betapa hatinya sedang sangat bahagia.
__ADS_1
"Semua sudah beres, mungkin sebentar lagi Mas Pandu sampai, aku akan mandi dan berdandan cantik untuk menyambut suamiku tercinta."
Clara terus memamerkan senyum di bibirnya dan wajahnya juga nampak berseri seri.
Setelah selesai menata semua masakannya di atas meja, dan membereskan kekacauan di dapurnya akibat bekas memasak, Clara langsung menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Memilih pakaian paling indah menurutnya, dress selutut tanpa lengan, dengan rambut yang terurai panjang, Wajahnya dipoles tipis dengan bedak merk terkenal dan mahal serta lipstik berwarna merah jambu, Cantik!
"Semoga kamu makin mencintaiku, Mas.
Aku berdandan seperti ini, hanya untuk kamu."
Clara bergumam sendirian menatap dirinya di pantulan cermin meja riasnya.
Terdengar pintu diketuk, dan Clara langsung berlari keluar untuk membukakan pintu, Wajah tampan Pandu terlihat tersenyum langsung memeluknya erat.
"Asalamualaikum, Mas!" Clara mengingatkan Pandu dengan suaranya yang manja.
"Aku udah masakin makanan kesukaan kamu, Mas!
Mau makan sekarang, apa nanti?" sambung Clara yang masih bergelayut manja di lengan kekar Pandu.
"Nanti saja, aku mau makan kamu dulu. Kangen banget soalnya." sahut Pandu dengan mengecup pucuk kepala istri sirinya.
Clara langsung merona bahagia,di perlakukan begitu lembut dan Pandu terlihat sangat memujanya. Dengan manja dan hati penuh bahagia, Clara menyambut ajakan Pandu dengan suka cita. Adegan ranjang yang panas menemani pasangan yang dimabuk cinta dengan begitu hebatnya, hingga tidak terasa sudah bermain entah untuk berapa kalinya.
"Sayang, aku lapar." rengek Clara saat Pandu tengah memeluknya, sehabis permainannya yang sekian kalinya.
"Kita bersih bersih dulu, trus makan bareng. Aku juga lapar, kamu hebat sayang, makasih ya!" sahut Pandu dengan tatapan memuja.
Berdua memasuki kamar mandi dan melakukan itu lagi dengan hasrat menggebu, menghabiskan waktu dengan tanpa memikirkan yang lain, seolah dunia sudah menjadi milik berdua.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
Sedangkan Risma sedang tengah dalam perjalanan menuju ke Kediri, bersama kedua anaknya yang ditemani mbak Romlah, serta Waluyo pemuda dua puluh empat tahun yang masih keponakannya mbak Romlah yang memegang setir.
Tak butuh waktu lama, hanya satu setengah jam perjalanan, Risma sudah sampai di pelataran rumah mertuanya.
Bu Sonia yang tengah duduk di teras rumah, dibuat terkejut dengan kedatangan menantu kesayangan nya, karena Risma tidak ada memberi kabar sebelumnya.
"Asalamualaikum, Bu!
Ibu sehat?" sapa Risma saat memasuki halaman rumah Pandu yang begitu luas.
"Waalaikumsallm, Ya Alloh, nak! kok gak kabar kabar dulu, kalau mau pulang, mama bisa masakin makanan kesukaan kalian, lha ini tiba tiba datang, mama gak siap apa apa loh." Sahut Bu Sonia bahagia menyambut kedatangan menantu dan cucunya.
"Loh Pandu, mana?
kok gak ikut?" sambung Bu Sonia mencari keberadaan Pandu anak lelakinya.
"Mas Pandu lagi ada dinas di luar kota, Bu!
Jadi kesini sama anak anak saja sama ditemani mbak Romlah." balas Risma tenang, meskipun hatinya remuk tidak karuan.
"Sini, Salim dulu sama nenek. Wah cucu cucu nenek sudah pada besar, cantik dan ganteng." Sambung Bu Sonia beralih menatap kedua cucunya yang berdiri tidak jauh dari Risma.
"Masuk ke dalam, kita ngobrolnya lanjut di dalam saja, sambil istirahat." Bu Sonia kembali bersuara mengajak Risma dan semua masuk kedalam rumah.
"Kamu nginep kan, nduk?
Mama kangen, ada banyak hal yang ingin mama bicarakan sama kamu." Bu Sonia kembali berbicara pada Risma yang hanya tersenyum menatap sedih pada ibu mertuanya.
"Iya, ma! Risma mau menginap dua hari disini. Boleh kan?" sahut Risma menahan tangis, teringat dengan perlakuan Pandu yang berbanding terbalik dengan orang tuanya. Mertuanya begitu menyayangi Risma.
"Alhamdulillah, kebetulan sawahnya Pandu juga besok itu mau panen, jadi kamu disini, nanti biar kamu yang mengawasi penjualan hasil panennya."
Bu Sonia mengatakan apa yang sebenarnya menjadi tujuan Risma datang, sebelum bertanya ternyata mertuanya sudah membuka apa yang sudah disembunyikan suaminya selama ini. "Kena kamu mas." batin Risma lega, karena tidak perlu repot repot mencari kalimat untuk mengungkap harta suaminya yang belum Risma tau.
__ADS_1