
"Aku akan menuruti keinginan kamu, Ris!" Sahut Pandu dengan nada bergetar, rasa bersalah namun tak bisa memperbaiki kesalahannya. Hanya satu kata yang tersemat untuk seorang Pandu. Egois!
"Apa katamu?
Apa kamu sudah tidak bisa berpikir jernih, akalmu sudah tidak berfungsi lagi?
Sampai sampai kamu memilih berpisah dan menghancurkan harapan seorang ibu, Pandu, jangan gila kamu!" Sahut Permadi emosi, kedua tangannya terkepal erat, ingin sekali memukul adiknya yang sudah tidak bisa berpikir sehat.
"Tolong!
Dengarkan aku dulu, Mas! Aku belum selesai bicara, biarkan aku bicara dulu." Sahut Pandu sedikit meninggi, kesal karena tak ada yang mau mengerti posisinya, semua menyalahkan dan memojokkan dirinya.
"Ya! Aku akan menuruti kemauan Risma, menuruti disini bukan menuruti keinginannya untuk berpisah, tapi memberikan hartaku untuk anak anak. Cafe akan berpindah atas namanya Cinta, Sawah akan pindah jadi namanya Galang. Untuk ternak lele, tolong! Biarkan aku mengelolanya sendiri, Ris! Aku juga butuh uang buat pegangan, buat rokok juga bensin. Lagi pula, hasil ternak lele juga tak sebanyak sawah dan cafe. Namun aku ingin untuk uang hasil dari sawah dan cafe kusus dibuatkan rekening untuk nama Cinta dan Galang. Dan kita akan buat perjanjian, uang itu akan bisa digunakan saat mereka memasuki pendidikannya sebagai mahasiswa. Dan untuk bekal masa depan mereka." Sambung Pandu mengutarakan apa yang ada di pikirannya dengan tegas dan yakin.
Risma terdiam, dan berpikir sebelum mengambil keputusan, dan Risma tau, jika tabungan suaminya juga tidak sedikit, hingga terbesit cara untuk membuat Pandu tak berkutik, apa lagi saat ini ada dihadapan keluarganya yang begitu mendukung dirinya, Risma tidak akan membuang kesempatan untuk membuat Pandu semakin terpuruk.
"Baiklah, Mas!
Tapi aku juga butuh penjelasan kamu soal rumah yang kamu berikan untuk perempuan itu.
Aku yakin itu tidak sedikit uang untuk membelinya, sedangkan rumah yang kita tempati, akulah yang hampir tujuh puluh persen mengeluarkan uangnya. Kenapa kamu tidak adil, Mas?
Apa karena kamu tidak mencintaiku, dan kamu mencintainya, terus kamu rela memberikan rumah mewah yang berharga fantastis untuk wanita itu?
Namun kamu lupa, uang yang kamu gunakan untuk membeli rumah itu, masih ada hakku sebagai istri sah kamu, dan hak anak anak kita.
Lalu kalau aku juga menginginkannya, apa yang akan kamu lakukan?" Balas Risma dingin dan tak lagi perduli dengan perubahan wajah Pandu yang terlihat memerah menahan amarah.
"Cukup, Ris!
__ADS_1
Jangan melebihi batasan kamu. Selama ini, aku sudah mencukupi kamu dan anak anak tanpa kekurangan apapun. Rumah yang ditempati Clara itu adalah mahar yang aku berikan untuknya, tidak mungkin aku akan memintanya kembali.
Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin aku lakukan." Pandu menekan setiap kalimatnya dengan tatapan tajam diarahkan pada Risma yang tersenyum miris.
"Owh, mahar ya?
Aku jadi ingat, saat menikah denganku, kamu memberiku mahar apa, Mas?
Seperangkat alat sholat dan cincin emas dua gram, yang jumlahnya tidak lebih dari enam jutaan.
Saat itu kamu masih jadi Bintara yang bergaji minim. Aku iklas menerima tanpa menuntut apapun darimu. Bahkan aku iklas bekerja demi untuk bisa membantu kamu melanjutkan sekolah agar terus bisa naik pangkat hingga seperti sekarang.
Dan dengan mudahnya, kamu memberikan sesuatu yang mewah pada perempuan yang baru saja hadir di kehidupan kamu, bahkan satu bulan belum ada dia menemani kamu berjuang. Intinya, dia hadir saat hidupmu sudah mapan.
Aku tidak terima, Pandu Aditama!" sahut Risma penuh sorot kebencian, dadanya begitu sesak dengan kelakuan laki laki yang masih sah menjadi suaminya itu.
"Ma!
Maafkan aku, jika harus mengungkit semuanya, maaf kalau hatiku tidak bisa menerima perlakuan tak adil Mas Pandu. Aku tidak iklas, jika wanita itu mendapatkan rumah milyaran dengan begitu mudah, sedangkan disana aku yang ikut berjuang. Aku gak iklas Ma! Mas Permadi!" Sambung Risma menatap bergantian pada ibu mertuanya dan kakak iparnya yang terlihat mengangguk dan tersenyum tipis ke arahnya.
"Apa yang dikatakan Risma itu benar, Pandu.
Harusnya kamu tidak melakukan sesuatu tanpa kamu pikirkan dulu. Berapa harga rumah yang kamu beli untuk perempuan itu?
jujur sama mama!" Bu Sonia ikut menimpali ucapan menantunya dan meminta Pandu mempertanggung jawabkan kelakuannya itu.
"Satu setengah milyar, Ma!
Wajar aku memberikan itu pada Clara, dia juga istriku, Ma!" sahut Pandu tanpa berdosa dan itu mematik kemarahan sang kakak yang langsung berdiri memukul wajah Pandu dengan geram.
__ADS_1
"Cukup, Pandu!
Harusnya kamu bisa berpikir bijak dan menjaga hati istri kamu, tapi justru kamu seperti orang yang tidak merasa bersalah sama sekali.
Sudah jelas jelas apa yang dikatakan Risma adalah sebuah kebenaran, tapi masih saja kamu menutup mata kamu.
Clara belum berhak mendapatkan harta kamu. Jika kamu ingin memberikan kemewahan pada selingkuhan kamu itu, berikan dengan menggunakan harta tanpa ada campur tangannya Risma oleh usaha kamu itu.
Jangan egois kamu!" sungut Permadi penuh penekanan dan amarah tengah menyelimutinya.
"Satu setengah milyar itu bukan uang yang sedikit, sedangkan rumah yang kalian tempati itu menggunakan uang kalian berdua dan lebih banyak menggunakan uangnya istri kamu. Apa kamu tidak malu, memberikan rumah mewah untuk perempuan yang bahkan tak mengerti bagaimana perjuangan kamu untuk bisa menjadi diri kamu saat ini, dan membiarkan perempuan yang menemani kamu di masa sulit dan beratnya kehidupan kamu untuk bisa mencapai di titik saat ini.
Harta, jabatan dan kehormatan saat ini sudah kamu dapatkan, dan itu berkat Risma yang sudah iklas dan rela menemani dan membantu kamu hingga dia rela bekerja untuk bisa mewujudkan impian kamu. Pikirkan itu, jangan mati hati kamu, hanya karena cinta yang bulshit mu itu!
Sumpah gedek aku sama ulahmu itu, Malu punya adik yang tak punya nurani, dan hanya mengandalkan syahwatnya saja, menjijikkan!" Sambung Permadi penuh dengan kekecewaan, dan Pandu hanya bisa menunduk dalam, mencerna kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut kakaknya.
Risma memilih diam, semua rasa yang ada sudah terwakilkan oleh kemarahan kakak iparnya untuk sang suami.
"Lalu, aku harus bagaimana?
Tidak mungkin aku meminta kembali rumah yang sudah aku berikan sebagai mahar, dzalim itu namanya. Aku harus bagaimana? Katakan!"
Pandu berteriak mengeluarkan emosinya, frustasi karena semua telah menyudut kan dirinya.
"Berikan uang seharga rumah itu, untuk istri kamu! Kalau tidak, aku sendiri yang akan bertindak untuk mengambil rumah itu dari selingkuhan kamu!" Permadi menyorot tajam pada Pandu yang terlihat kaget dan terlihat frustasi dengan mengusap wajahnya kasar. Pandu tau, jika kakaknya tidak pernah main main dengan ucapannya.
"Aku tidak punya uang sebanyak itu, Mas!
Jangan buat aku gila dengan tuntutan kalian yang tak masuk akal ini!
__ADS_1
Semua sudah aku berikan untuk Risma dan anak anak, apa masih kurang itu semua?" Pandu meninggikan suaranya. Benci, kesal, kalut dan segala rasa bercampur menjadi satu di hatinya yang menyebabkan dadanya merasakan sesak.