
"Suruh masuk saja, Pak!
Dia teman saya!" jawab Clara yang meminta penjaganya untuk mempersilahkan Erna masuk ke dalam rumah.
Clara maupun Erna sudah tak sabar untuk bertatap muka, jerit bahagia dan saling peluk membuat mereka hanyut dalam kisah masa lalu, rindu dan saling melempar bahagia mewarnai pertemuan mereka setelah bertahun tahun tidak bertemu.
"Kamu sekarang cantik banget, Er!" sambut Clara kagum melihat kecantikan Erna, dengan pakaian glamor dan makeup akan artisnya, membuat Erna tampil paripurna.
"Masak sih? Semua berkat kerja kerasku selama ini, Ra!
Kamu juga cantik banget, sudah kayak ukhti ukhti Arab. Suami kamu dimana?" sahut Erna berbinar, dan menatap senang pada Clara yang tersenyum bahagia.
"Suamiku kerja. Alhamdulillah, aku nyaman dengan pakaianku, Er!" sahut Clara kalem dan gak ingin membahas lebih banyak soal penampilan yang Jomblang antara mereka.
"Iya, kita punya prinsip dan tujuan masing masing dalam memilih jalan yang akan kita tempuh.
Semoga kamu gak malu punya teman model kayak aku, banyak yang menyebutku dengan model panas, karena tampilan ku yang seksi!" Erna membalas dengan mimik serius, menyadari profesinya yang jauh terbalik dari Clara yang memilih jadi wanita rumahan dengan tampilan syar'i nya.
"Gak lah ER! Aku gak pernah menilai orang serendah itu, dan selalu berusaha memahami dan menghormati pilihan orang lain." sahut Clara ramah dengan senyuman yang begitu tulus.
"Kamu tau gak, Ra?
Aku bisa seperti ini, butuh pengorbanan yang panjang, dulu saat aku ikut orangtuaku yang pindah tugas, disekolah baru aku dibully habis habisan oleh teman temanku. Rasanya sakit banget, pernah aku sampai masuk rumah sakit, gara gara ada yang sampai menabrak ku dengan montor, pokoknya sedih dan sakit hati banget kalau ingat saat saat itu. Bahkan aku tidak punya teman sama sekali disana.
Sampai akhirnya, saudara sepupuku datang berkunjung, dan dia melatihku dan mengajarkan aku diet yang benar dan olah raga rutin, makanan serba di atur dan dijaga, dalam kurun waktu lima bulan, beratku sudah menuju ideal.
Sejak itu, aku selalu mengatur pola makanku. Trauma dengan badan berlebih. Sampai aku bisa jadi model seperti ini." Erna mengenang ke masa lalu, kenangan pahit saat dia di bully dan jadi bahan ejekan teman-temannya. Trauma dan sakit hatinya belum bisa hilang sampai saat ini.
Itulah sosok Erna yang berubah menjadi perempuan angkuh dan ambisius. Padahal dulu dia anak yang pendiam dan baik.
Clara mendengarkan cerita Erna tanpa berani menimpali, takut temannya semakin terbawa perasaan masa lalunya, karena dendam di hatinya telah membuatnya menjadi pribadi yang berbeda.
"Kamu masih ingat dengan Pandu,Ra?" Erna mengalihkan pembicaraan dan menyebut nama Pandu di hadapan Clara. Clara langsung menatap gugup ke arah Erna yang juga tengah menatapnya dengan pandangan yang tak bisa di artikan.
"Pandu?
Pandu siapa, aku kok lupa sama teman teman sekolah dulu, maklum lah, sudah tidak ada komunikasi lagi dengan mereka." balas Clara yang pura pura tidak mengenali siapa Pandu, padahal di dalam hatinya sudah berdetak begitu cepat.
__ADS_1
"Pandu Aditama, teman kita waktu SD dulu, masak kamu lupa?" sahut Erna dengan menatap Clara dengan mengerutkan wajahnya.
"Ingat namanya samar samar, tapi gak tau sekarang kabarnya gimana, gak pernah ada kontak." balas Clara dengan hati perih, mati matian menahan perasaan di hatinya, menahan air mata agar tidak lolos dari kedua bola matanya.
"Aku sempat ketemu di Jakarta. Dia semakin keren dan begitu sempurna. Tapi sayang, sombong dan angkuh." sahut Erna dengan ucapan penuh kebencian.
"Maksudnya?
Sombong gimana?" balas Clara dengan tatapan serius di arahkan ke arah sahabat semasa kecilnya.
"Dia menolak ku dengan ucapannya yang sangat menyakiti hatiku. Sungguh aku benci dengan Pandu, apalagi istrinya yang sok kecantikan itu, padahal kamu tau gak, dandanan nya, kampungan banget." sahut Erna berapi api saat menjelekkan Risma di hadapannya Clara. Clara hanya menanggapi dengan tersenyum tipis.
"Cantik kan aku kemana mana sih, tapi kayaknya Pandu cinta mati banget sama istrinya. Kayak orang di guna guna gitu, amit amit!" sambung Erna dengan terus berpikiran buruk terhadap Risma, karena di hati Erna penuh dengan kebencian akibat penolakan dari Pandu.
"Wajar lah, Er! Sama istrinya ya harus cinta banget, lagian Pandu juga gak salah kalau dia menolak kamu. Istrinya adalah tujuan utamanya." Sahut Clara dengan senyuman kecut, teringat kisah cintanya pada Pandu waktu itu, waktu yang sudah menyakiti banyak hati.
"Kamu itu cantik, cari yang lain yang belum ada istri, oke?" sambung Clara tersenyum dengan anggun. Entahlah, ada perasaan tidak rela kalau Erna mengusik hidup Pandu. Rasa cemburu masih tersisa di lubuk terdalam hatinya.
"Aku jadi kepikiran untuk membalas penghinaan Pandu padaku, menaklukkan nya hingga dia cinta mati karena pesonaku. Pasti sangat menyenangkan, Istrinya yang sombong itu akan menangis dan menyesali sikapnya yang sudah merendahkan harga diriku." sahut Erna penuh dengan kebencian, membuat Clara menggeleng tak senang dengan pemikiran erna yang dinilainya berlebihan.
"Jangan lakukan sesuatu yang akan menyakiti hidupmu sendiri, Erna!
Berhentilah mengejar Pandu, dia bukan yang terbaik untukmu, dia sudah milik istri dan anak anaknya." Balas Clara yang menatap serius pada erna yang mencebik tak suka, tapi juga membenarkan ucapan Clara di dalam hatinya.
"Ah entahlah, Ra! Aku hanya ingin membalaskan sakit hatiku saja, tapi ya itu, menunggu saat yang tepat. Aku tidak terima sudah ditolak mentah mentah, dan direndahkan Pandu." sahut Erna dengan nada tegas dan menyimpan amarah dan dendam di hatinya.
"Aku sudah mengingatkan kamu, Er!
Pikirkanlah baik baik!" Clara membalas ucapan Erna dengan dada bergemuruh, namun memilih bersikap tenang dan tak terpengaruh, agar Erna tidak curiga dengan perasaannya yang sudah begitu tercabik cabik.
"Kita tidak usah bahas Pandu lagi, biarlah dia jadi urusanku.
Anak kamu sudah berapa, Ra?" sahut Erna tenang dan berusaha berkilah dengan mengalihkan topik obrolan.
"Baru satu, sekarang masih tidur anaknya." balas Clara tersenyum dan menyembunyikan identitas Dania yang sebenarnya dari siapapun, termasuk pada Erna sekalipun. Biarlah semua orang taunya, Sandi adalah ayah dari Dania.
"Wah gak sabar pingin Gendong, laki laki apa perempuan?" sahut Erna antusias dengan senyuman penuh binar.
__ADS_1
"Perempuan, baru tiga bulan jalan empat bulan.
lagi lucu lucunya dia.
Nanti kalau sudah bangun, kamu boleh menggendongnya.
Tadi aku sudah siapin masakan buat kamu.
Yuk makan dulu." balas Clara dengan ekspresi bahagia saat menceritakan tentang Dania. Dan mengajak Erna untuk mencicipi masakan yang ia buat kusus menyambut kedatangan Erna.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️