Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
kesempatan


__ADS_3

"Apa kamu lupa, dengan sumpah prajurit yang pernah kamu ucapkan?


Kamu sudah sangat keterlaluan Pandu. Bisa bisanya kamu menikah tanpa membicarakan dulu pada istri kamu. Dan sekarang, dimana perempuan yang kamu nikahi itu?" kembali pak Damar menyahuti ucapan Pandu dengan kemarahan yang berusaha beliau tahan.


"Clara ada di Kediri, Risma sudah tau dan kami sudah membicarakan nya." Sahut Pandu dengan menundukkan kepalanya.


"Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Dan pikirkan baik baik apa yang akan kamu putuskan dengan hubungan yang sudah tak sehat ini dalam rumah tangga kamu.


Ayah akan bawa Risma ikut pulang bersama kami, untuk sementara waktu." balas Pak Damar serius. Dan membuat Pandu langsung mengangkat wajahnya pias.


"Maksud ayah?


Tapi anak anak sekolahnya bagaimana?


Tolong maafkan Pandu, ayah.


Pandu janji akan berusaha untuk merubah semuanya, Pandu menyayangi Risma dan anak anak yah!" balas Pandu dengan mata yang sudah mengembun.


"Sekolah anak anak itu gampang, Pandu. Nanti biar ayah yang mengurusnya. Biarkan ayah membawa Risma pulang, dan kamu renungkan semua sikapmu selama ini. Ayah tidak mengambil Risma darimu, kalau saja kamu bisa menjaganya dengan baik. Ayah akan memberimu waktu selama dua Minggu untuk berpikir.


Jika kamu sudah menemukan solusi atas masalah kalian, kamu boleh menjemput Risma dan anak anakmu di rumah ayah." Sahut Pak Damar tenang dan dengan tegas memutuskan apa yang sudah menjadi pertimbangannya.


Pandu terdiam, mengusap rambutnya berulang kali dan gelisah dengan keputusan yang ayah mertuanya ambil, mau membantah pun tak berani.


"Baiklah jika itu sudah jadi keputusan ayah, Pandu berharap, ayah merubah keputusannya ayah.


Risma harus terapi setiap tiga hari sekali. Apakah itu tidak membuat risma kelelahan, Yah?


Tolong pikirkan baik baik, karena kesehatan Risma sedang tidak baik baik saja." balas Pandu berusaha untuk mencegah keputusan ayah mertuanya untuk membawa istrinya kembali ke rumahnya.

__ADS_1


Namun memang apa yang dikatakan Pandu ada benarnya juga, tapi Pandu lupa, kalau mertuanya juga memiliki rumah singgah di Madiun.


"Kamu gak usah khawatir, ayah akan mengajak istrimu tinggal dirumah ayah yang ada di sini.


Jadi anak anak bisa tetap masuk sekolah, dan Risma juga tetap bisa terapi sesuai jadwalnya.


Dan kamu, renungkan!


Renungkan seperti apa hati dan hidup mu tanpa kehadiran seorang istri dan anak anak dirumah ini. Setelah itu putuskan apa yang akan kamu ambil setelah merenung dan mengalami banyak kejadian." timpal pak Damar dengan sorot mata yang tajam, sehingga membuat panduk kembali menundukkan kepalanya dalam.


"Kalau begitu, ayah dan ibu pamit istirahat dulu. Kamu istirahatlah. Pikirkan apa yang sudah ayah sampaikan." Pak Damar menepuk pundak pandu berlahan dan pergi meninggalkan Pandu sendirian dalam kegamangannya. Pikirannya benar-benar kacau dan seolah hidupnya sudah berantakan. Membayangkan Risma dan anak anak pergi meninggalkannya sendirian.


Pandu merebahkan tubuhnya di atas sofa yang memanjang setelah kedua mertuanya pergi masuk kedalam kamar tamu.


Hatinya sakit dan pikirannya kacau, gelisah sepanjang malam, bahkan sedikitpun tidak memikirkan Clara yang sempat ia tegasi. Pikirannya benar benar kacau dan hanya dipenuhi oleh Risma dan Risma.


Hingga Pandu tertidur di sofa tanpa ia sadari.


Malam terus saja merambat, hingga pagi datang membawa semburat sejuk di setiap tetes embunnya. Pandu terbangun saat telinganya menangkap suara adzan yang terdengar di nyaring mengalun merdu menyebut asmaNYA.


"Sudah subuh, ah kenapa kepalaku jadi pusing begini?" gumam Pandu sambil membenarkan posisi tubuhnya. Lalu memilih beranjak dan kembali masuk kedalam kamarnya dengan langkah gontai.


Terlihat Risma tengah menjalankan sholat subuh dengan kusuk, Pandu langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri, sekalian mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh, sedangkan Risma sudah terlihat menyiapkan baju ganti untuk Pandu. Baju dinas yang nanti akan dipakai Pandu untuk bekerja.


Risma menatap pandu dari belakang, batinnya masih merasa sakit, namun sudah mampu mengendalikan nya dengan begitu baik. Berkali kali dihujam rasa sakit, sehingga membentuk Risma menjadi perempuan yang benar benar kuat dan tangguh dalam menyikapi segala keadaan.


Risma mengeluarkan koper kecilnya dari lemari, lalu mulai mengemasi apa apa yang akan di bawanya selama menginap dirumah orang tuanya.


Kemarin memang sudah Risma sepakati bersama kedua orang tuanya untuk memberi Pandu waktu berpikir dan Risma juga sudah menyiapkan hati dan diri jika memang perpisahan pada akhirnya.

__ADS_1


"Ma!" tiba tiba Pandu sudah berdiri tak jauh dari Risma yang tengah mengemasi bajunya ke dalam koper miliknya.


Risma menoleh dan tersenyum tipis menatap Pandu yang sudah berwajah mendung.


"Kamu akan pergi ninggalin aku, Ma?" sambung Pandu menatapnya dalam manik mata hitam milik sang istri yang masih memilih diam .


"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku janji akan membuatmu dan anak anak selalu bahagia. Maafkan keputusanku yang sudah menikahi Clara tanpa meminta ijinmu terlebih dulu. Jangan pergi! tetaplah tinggal disini!"


Pandu kembali memohon agar sang istri luluh dan mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Maafkan aku, Mas!


Aku akan ikut ayah dan tinggal sementara dirumah ayah yang ada disini. Tidak lama, aku hanya memberimu waktu untuk berpikir, bagaimana kamu akan memutuskan masalah kita ini, setelah merasakan waktu tanpa ada kami di hari hari kamu." Sahut Risma tenang dan bahkan terlihat biasa saja tanpa ada rasa sedih sedikitpun.


Pandu menghembuskan nafasnya kasar, menatap dalam sang istri yang begitu kukuh dengan keputusannya.


"Seorang istri tidak akan pergi tanpa ijin dari suaminya, dan aku tidak mengijinkan kamu pergi meninggalkan rumah ini, Ma!" Sahut Pandu terdengar kesal karena Risma tidak mau mendengarkan permohonannya.


"Aku memohon pada suamiku, ijinkan aku pergi untuk menenangkan hati dan pikiran ini. Beri aku juga waktu untuk memikirkan semuanya dengan pikiran jernih dan dengan hati yang tenang. Insyaallah ini jalan terbaik untuk kita bisa mengambil keputusan yang terbaik dalam hubungan rumah tangga kita yang sudah cacat sedari awal. Aku harap, seorang Pandu Aditama tidak mempertahankan egonya hanya untuk memuaskan hasratnya saja. Pikirkan senyuman dan mental anak anak kita, Mas. Tolong ijinkan aku untuk merenungi ini dengan hati yang tenang.


Anak anak hanya tau, jika kita akan pergi berlibur di rumah kakek neneknya. Bantu aku agar bisa kembali membuka diri untukmu. Dan aku menunggu keputusan terbaik yang nanti akan kamu berikan." sahut Risma panjang lebar dengan tatapan teduhnya, tak ada lagi sorot benci dan kecewa di kedua bola matanya. Risma sudah benar benar memeluk damai di hatinya, semua dia lakukan untuk kesehatan mentalnya dan kesembuhannya dalam memperjuangkan penyakit yang sedang dilawannya.


Pandu menunduk dalam, dan mau tidak mau mengijinkan sang istri untuk pergi sementara waktu, meskipun hatinya sulit untuk mengiyakan.


"Pergilah, jika memang itu bisa membuat kamu bisa bernafas lega. Pikirkan lagi apa yang menjadi keputusan kamu, Ma! Aku pun juga akan merenung dan memikirkan semua ini. Doakan aku, semoga bisa memilih dan mengambil keputusan yang tak menyakiti hati siapapun.


Maafkan aku!


Aku tau, kesalahan ini terlalu besar, sehingga mungkin kamu sudah enggan untuk memaafkannya. Aku ridhoi setiap langkah kamu.

__ADS_1


Karena aku percaya, istriku pasti akan menjaga dirinya dengan baik. Aku iklas, pergilah dan mari kita saling berpikir dan introspeksi diri masing masing dengan hati yang tenang." sahut Pandu sambil menatap lurus ke depan, berulang kali menghembuskan nafasnya dalam dan terus mengucap istighfar di dalam hatinya, agar selalu bisa mengendalikan dirinya tanpa menonjolkan egonya.


__ADS_2