
Hanya butuh waktu dua puluh menit, Pandu sudah memarkirkan mobilnya ke dalam garasi rumahnya. Sedikit lelah namun juga merasa bahagia, bisa melihat Risma dan anak anaknya tersenyum gembira. Hingga Pandu melupakan nasib Clara yang sedang menunggu kabar darinya.
"Ya Tuhan, aku belum memberi kabar Clara kalau tidak bisa menemuinya tadi. Pasti dia akan sangat marah padaku. Ponselku juga sedang di bawa Risma, kalau aku memintanya paksa, pasti Risma akan semakin marah dan membenciku. Semoga Clara mau mengerti posisiku saat ini. Nanti saja aku hubungi dia saat Risma sudah mengembalikan ponselku dengan sendirinya, agar sikap dinginnya tidak terus berlanjut, karena bisa gila aku menghadapi sikap Risma yang berbeda itu.
Clara, maafkan aku. Semoga kamu memahami semua ini." batin Pandu berbicara sendiri dan mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah masih dengan perasaan ambyaar.
Pandu meletakkan semua barang belanjaannya di meja, lalu meneruskan langkah menuju kamar mandi yang ada tak jauh dari dapur.
"Mbak Romlah! Tolong bantu Risma buat bawa belanjaannya ke kamar ya, dan buah buahan nya tolong di cuci dan di taruh di kulkas." Saat Pandu melewati dapur, terlihat mbak Romlah sedang membuatkan minuman untuk anak anaknya dan Pandu meminta tolong agar mbak Romlah membantu Risma membawa barang belanjaannya pindah ke kamar, karena yang banyak belanja hari ini adalah Risma.
"Iya, Pak!" Sahut mbak Romlah patuh.
Risma tersenyum dan memasukkan ponsel Pandu ke dalam tasnya, sengaja mengulur waktu agar Ponsel suaminya lebih lama berada dalam genggamannya, karena Risma memiliki rencana yang lebih indah lagi untuk membalas rasa sakit hatinya. Dan kali ini, Risma yakin rencananya akan membuat Clara histeris penuh kebencian.
Setelah membereskan semua barang belanjaannya, Risma menaruh uang yang tersisa ke dalam brankas yang sudah ia ganti nomer sandinya. Lalu bergegas mandi untuk menyegarkan tubuh setelah seharian beraktifitas.
Saat keluar dari kamar mandi, Risma sudah melihat Pandu duduk di atas kasur dengan celana pendek dan kaos pendek warna putih, terlihat sekali wajah lelah tersirat dari wajah tampan suaminya.
"Ma, kamu capek?" tanya Pandu saat melihat Risma yang baru keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar dengan pakaian tidurnya, piyama warna biru.
Risma tertegun dengan pertanyaan Pandu, takut kalau suaminya akan meminta haknya. Karena bagaimanapun Pandu masih berhak atas dirinya, mereka masih sah sebagai suami istri.
__ADS_1
"Sepertinya aku masuk angin, leherku rasanya berat dan kepala agak pusing. Boleh minta tolong kerokin, Ma?" sambung Pandu menatap dengan wajah sendu ke arah istrinya yang membeku dengan wajah pias nya.
"Iya, Pa. Sebentar.
Aku cari minyak angin dulu. Sama sekalian aku buatkan jahe panas ya?" sahut Risma sedikit salah tingkah dan membuat Pandu tersenyum karena paham, kalau istrinya pasti mengira akan dimintai kewajiban untuk melayaninya.
"Kamu tenang saja, Ma! Aku tidak akan memaksa, aku akan menunggu kamu iklas melayaniku dengan cinta seperti dulu. Karena aku, aku sudah terlalu lama memberimu luka. Itulah kenapa, aku lebih rela kehilangan hartaku demi kalian, dari pada aku harus kehilanganmu dan anak anak. Meskipun aku terlambat menyadari perasaan ini. Tapi percayalah aku akan berusaha kembali membuatmu nyaman dan bahagia. Akan aku ganti setiap lukamu dengan senyuman bahagia. Aku janji." Gumam Pandu di dalam hati, lantas membaringkan tubuhnya yang terasa tidak nyaman.
Risma kembali dengan membawa jahe panas dan minyak angin, meminta Pandu untuk tengkurap dan mulai mengolesi minyak ke seluruh punggungnya, lalu di kerik dengan hati hati.
Setelah selesai, Risma memijit punggung Pandu dengan telaten dan itu membuat Pandu menitikkan air mata, merasakan kasih sayang dan cinta yang sangat besar dari wanita yang selalu dia abaikan perasaan nya selama ini.
"Sudah, Ma! Terimakasih!
"Minum dulu jahenya, dan ini ada obat masuk angin, diminum dan tidurlah. Insyaallah besok pagi kamu segar kembali." Sahut Risma biasa saja dan mulai membereskan minyak angin dan beranjak membersihkan tangannya ke kamar mandi.
Pandu mematikan AC dan segera meminum jahe panas buatan sang istri. Badannya sedikit enteng dan pusingnya juga sudah agak berkurang, tidur dengan bertelanjang dada dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya.
Karena rasa capek dan kurang enak badan, gak butuh lama Pandu sudah tertidur pulas. Tanpa memikirkan keadaan Clara yang sedang menunggu kabar darinya. Pandu benar benar sedang lelah dan butuh istirahat.
Risma tersenyum, melihat Pandu tidur tanpa mengenakan kaosnya, dan itu artinya, rencananya akan berjalan sesuai apa yang dipikirkan. Risma memastikan Pandu sudah tertidur lelap apa belum dengan menggerak gerakan tangannya diatas wajah sang suami yang ternyata sudah sangat pulas.
__ADS_1
Dengan cepat Risma membuka bajunya agar terlihat polos di bagian atasnya saja, lalu mengambil ponselnya dan berpose seperti baru saja melakukan hubungan intim dengan sang suami, berbagai pose Risma dapatkan.
Dan kembali mengenakan pakaiannya lantas mengirim foto fotonya ke nomer ponsel Clara yang tadi sudah ia salin ke dalam ponsel miliknya.
"Kemarin kamu yang sudah menghabiskan waktu dengan suamiku entah sampai berapa jam.
Tapi hari ini dan besok juga besoknya, giliranku yang akan melalui malam malam panas dengan suamiku, tanpa was was dan rasa takut dengan cibiran orang lain, karena aku ratunya, ratu di hati Pandu Aditama dan ratu dalam istana bisnis suamiku. Terimakasih sudah membantuku dalam melayani suamiku saat aku sedang tidak berminat. Tapi setelah ini akan aku pastikan, suamiku akan lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku dan anak anak.
Siapkan mental kamu sayang!" Send, Risma mengirim foto dan juga dengan pesan yang panjang untuk menjatuhkan mental sang istri simpanan. Puas! dan Risma memilih mematikan ponselnya karena tidak mau terganggu tidurnya.
Melangkahkan kaki menuju dimana anak anaknya berada, merebahkan tubuh sintalnya diantara kedua buah hatinya. Memilih tidur nyenyak dengan kelegaan yang mengiringi mimpi indahnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara dilain tempat, Clara sedang menjerit frustasi, kebenciannya terhadap Risma semakin menggunung. Marah dan kesal pada Pandu yang tak sekalipun merespon telepon dan pesannya sedari tadi pagi.
"Kamu jahat, Mas! Kamu jahat! Aku benci kamu!
Kamu sudah membohongi ku, katanya kamu gak cinta, tapi nyatanya kamu masih melewati malam dengannya, bahkan tidak perduli bagaimana aku menunggu kabar darimu. Kamu jahat, Mas. Aku benci kamu!"
Clara menangis histeris bersama rasa kecewa dan sakit hatinya, melihat kemesraan pandu bersama istri keduanya dari foto yang dikirim oleh Risma.
__ADS_1
Dan Clara merasa dunianya seolah runtuh oleh rasa sakit yang begitu menghujam hatinya. Melewati malam dengan tangisan dan rasa sakit hatinya.