Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
baik baik saja


__ADS_3

"Pahamilah ini, Mas!


Erna itu sebenarnya baik. Hanya dia terlalu banyak terluka dan dihina, hingga membuatnya menjadi pribadi yang berbeda. Berikan aku kesempatan dan waktu untuk membawanya menjadi lebih baik.


Aku mohon, Mas Sandi bisa bijak menyikapi semua ini!" Clara berharap Sandi luluh dan paham dengan kondisi Erna. Karena dengan dirangkul dan diperlakukan baik, Erna akan bisa berubah seperti pribadinya yang dulu, baik dan ceria.


"Aku hanya ingin mengingatkan kamu, Clara.


Hargai aku sebagai suami kamu!


Erna sudah bersikap tidak sopan padaku juga keluargaku. Jadi tolong pahami itu. Dan satu lagi, aku tidak ingin mendengar alasan apapun dari kamu soal dia!" sahut Sandi tetap dengan pendiriannya. Karena Sandi merasa Erna sudah keterlaluan, diajak bicara baik baik justru semakin menantang.


"Iya, Mas!


Aku akan menuruti kata-kata kamu.


Maaf kalau hadirnya Erna membuat kamu gak nyaman.


Ijinkan aku untuk menemuinya sebentar, aku ingin bicara dengannya." jawab Clara memohon dan akan menemui Erna yang dikiranya masih berada di ruang tamu.


"Pergilah, dan buat teman kamu itu mengerti.


Merusak hubungan orang lain adalah sebuah kehinaan dan jangan menghinakan dirinya sendiri, kalau tidak mau terhina dan dihina orang." sahut Sandi tajam, masih terngiang bagaimana obrolannya waktu itu dengan Erna yang bersikap begitu angkuh.


Clara menghembuskan nafasnya dalam. Tak berani lagi membantah ucapan suaminya, karena taruhannya adalah rumah tangganya sendiri.


Clara juga gak mau, kalau hubungannya dengan Sandi semakin rumit karena masalah kehadiran Erna.


"Iya, Mas! Maafkan aku!


Aku permisi dulu, mau menemui Erna dan bicara dengannya." kembali Clara meminta ijin pada suaminya sebelum keluar kamar, Sandi hanya mengangguk malas menanggapi ucapan Clara.


Dengan perasaan yang sedikit kalut, Clara menuruni anak tangga satu persatu dengan langkah lunglai.


Setelah sampai di ruang tamu, dimana tadi Erna menunggu, kini sudah tak terlihat lagi. Erna sudah tidak ada ditempatnya.


Perasaan Clara langsung tak enak, dan langsung menuju ke halaman depan, mobil Erna sudah tak terlihat lagi.


"Erna sudah pergi. Maafkan aku Er! semoga kamu baik baik saja!" gumam Clara lirih, tubuhnya luruh ke kursi yang ada di teras, karena bagaimanapun, Clara sudah mengenal Erna sejak masih anak anak, menjadi temannya dan selalu mendengarkan keluh kesah Erna yang tak jarang sering menangis karena di bully teman temannya.

__ADS_1


Pak aji menghampiri Clara yang termenung, menatap keheranan dengan sikap Clara yang murung, bahkan tak menyadari kehadirannya.


"Maaf! Apa Bu Clara mencari temannya yang cantik itu?" tanya pak Aji memberanikan diri dengan pandangan tertuju pada Clara yang langsung terlihat kaget dengan kemunculan penjaga rumahnya itu.


"Eh pak Aji! bikin kaget saja!


Iya, Pak! Apa dia sudah pergi dari tadi?" Clara mengalihkan pandangannya pada sosok pak Aji.


"Iya, Bu! Dari lima belas menit yang lalu.


Mbak cantik kayak orang yang nangis gitu.


Tadi sebelum pergi, dia berhenti menatap ke arah sini lama, dan terlihat menangis, saya memperhatikan dari pos. Tapi saat akan saya hampiri, mobilnya sudah berjalan dan pergi Bu!" terang pak Aji dengan gaya khasnya yang sangat kental dengan logat jawanya.


"Iya pak Aji, terimakasih ya untuk informasinya." sahut Clara lirih dan memaksakan untuk tersenyum. Sedangkan pak Aji mohon pamit untuk kembali ke pos jaganya.


"Er! Semoga kamu paham dan bisa mengerti keadaan ini. Maaf kalau aku tidak bisa membantah ucapan suamiku. Apalagi kamu sudah membuatnya kecewa dengan sikap angkuh kamu.


Aku harap kamu bisa kembali jadi Erna yang dulu, dan berhenti mengejar Pandu. Baik baiklah Er!" gumam Clara sambil memejamkan matanya, menahan perih di ulu hatinya untuk kesekian kalinya dengan sikap dingin suaminya. Apalagi kali ini menyangkut tentang hubungan persahabatannya dengan Erna yang sudah berjalan belasan tahun.


Clara kembali masuk ke dalam rumah dan terlihat Sandi tengah menuruni tangga dengan pakaian santainya.


Dengan wajah dinginnya, Sandi berlalu begitu saja menuju dapur, duduk di meja makan dan mulai mengambil piring dan menyendok kan nasi di dalam piringnya.


Clara menghembuskan nafasnya kasar, mengikuti langkah suaminya menuju ke arah dapur, dan mengambil tempat duduk tak jauh dari Sandi.


Sandi terlihat sangat menikmati makanannya. Clara hanya bisa menahan rasa perihnya sendirian. Di acuhkan dan seolah tak dianggap ada keberadaan dirinya adalah sebuah siksaan batin yang paling menyakitkan.


Clara memilih bersikap biasa saja, dan mulai ikut menikmati makanan di piringnya. Hening, hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring saling bersahutan antara keduanya.


Sandi sudah menghabiskan makanannya terlebih dulu, meminum air putih dalam gelasnya hingga tandas. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Clara yang masih berusaha untuk menghabiskan makanannya, tanpa melihat atau bahkan menoleh sedikitpun pada istrinya yang terlihat mematung menatap sikapnya yang dingin.


"Sampai kapan, Mas?" gumam Clara di dalam hatinya, tak terasa air mata luruh seiring rasa hatinya yang kian terasa sesak.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Risma yang tengah bercengkrama dengan orang tuanya terlihat begitu bahagia. Menyenderkan kepalanya di pundak sang ayah tercinta. Dan ibunya mengusap lembut punggung tangan anaknya tersayang. Risma benar benar merasa begitu dicintai oleh kedua orang tuanya. Sejak dulu, mereka begitu menyayangi Risma dengan limpahan cinta dan perhatian.


"Apa kamu sudah tau siapa istrinya Sandi, nduk?" tanya Bu Fatma lembut kepada Risma yang terlihat begitu tenang.

__ADS_1


"Sudah, Bu! Sandi sudah mengatakannya. Dia datang menemui kami dan mengatakan siapa perempuan yang dia nikahi. Takdir memang tidak ada yang bisa menduganya." sahut Risma tenang, dan menggenggam jemari sang ibu tercinta, memberitahu jika dirinya baik baik saja lewat sentuhan lembutnya.


"Apa kamu baik baik saja, Nduk?


Dan seperti apa tanggapan suami kamu tentang hal itu?" kembali Bu Fatma melontarkan rasa penasaran sekaligus kekhawatirannya terhadap anak perempuannya.


"Insyaallah, Risma baik baik saja, Bu!


Dan tanggapan mas Pandu juga biasa saja, meskipun awalnya kami terkejut, tapi semua kami kembalikan pada takdir. Saat ini yang penting adalah, Mas Pandu maupun Clara tak lagi saling berhubungan dan saling berbenah dari kesalahan masing masing. Aku tak masalah dan berharap semua akan tetap baik baik saja." sahut Risma tenang dan membuat Bu Farma serta suaminya mengangguk lega. Karena Risma adalah putri kesayangan, rasa cemas dan pikiran buruk sempat hinggap di hati kedua orang tuanya Risma dengan kemunculan Clara dalam keluarga besarnya.


Padahal justru itu semakin membuat Clara dan Pandu semakin merasa menyesali dan harus tersiksa batin dengan menahan malu pada semua anggota keluarga besar. Saling menghindari pertemuan agar tak menjadi salah paham.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


Happy ending ❤️


__ADS_2