Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
tersiksa lahir batin


__ADS_3

Pandu hanya menatap dalam diam kedua wanita yang ada di hadapannya. Perasaannya benar benar kacau, antara tak tega, merasa bersalah, cinta dan wajah Risma yang terluka bersama bayangan anak anaknya yang akan hilang keceriaan jika salah dalam mengambil keputusan.


Pandu berusaha tetap bersikap tenang dan baik baik saja, meskipun sejatinya dia pun tak kuasa melihat air mata Clara yang nampak memilukan. Hatinya ikut terluka.


"Mas!


Lakukan sekarang, talaq aku dengan saksi ibuku.


Setelah itu, pergilah dan jangan pernah kembali lagi. Hiduplah bahagia dengan keluarga kamu."


Clara melepas pelukannya dari sang ibu, dan menghapus air matanya, berusaha bersikap tegar dan tak ingin lagi menangis. Cukup batinnya tersiksa dengan hubungan yang memang hanya bisa saling menyakiti hati banyak orang.


Pandu mendekat, menatap dalam manik basah sang istri. "Apa kamu sudah benar benar yakin dengan keputusan yang kamu ambil, Clara?" Sekali lagi, Pandu ingin memastikan keinginan sang istri, agar tak ada masalah dikemudian hari.


"Iya! Aku sangat yakin, karena aku memang tak sanggup melihatmu lebih memilih mereka. Pergilah, tanpa kamu harus merasa tak enak hati karena ada istri lain yang menanti. Semoga dengan keputusan yang aku ambil, kamu bisa kembali hidup bahagia bersama istri dan anak anakmu. Dan aku, aku akan pergi sejauh mungkin dari hidupmu. Lakukan sekarang, insyaallah aku ikhlas, aku sudah lelah dengan semua ini!" sahut Clara yakin meskipun air matanya terus menderas membasahi wajah ayunya.


Pandu menarik nafasnya dalam, memejamkan matanya dan berusaha menguatkan hati. Harus bisa memilih dan menentukan, agar tidak semakin jauh menyakiti hati satu dengan yang lain.


"Baiklah!


Bu, maafkan saya.


Saya kembalikan Clara dengan cara seperti ini. Sekali lagi, saya mohon maaf!" Pandu meminta maaf pada ibu mertuanya terlebih dahulu, dan Bu Desmita hanya bisa menangis, pasrah dengan keputusan yang diambil anak dan menantunya. Berharap itu yang terbaik, agar tidak saling tersiksa dalam hubungan yang tak sehat.


"Clara Prameswari saya talaq kamu. Mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku, lepas tanggung jawabku atas mu." Pandu meneteskan air mata saat kata talaq ia ucapkan, matanya terpejam rapat tak mampu melihat Clara yang langsung luruh dan menangis pilu dalam dekapan sang ibu.

__ADS_1


"Maafkan aku, Clara! Semoga ini yang terbaik untuk kita semua. Selama masa Iddah, aku akan tetap memberikan nafkah untukmu. Jaga dirimu baik baik, semoga kamu menemukan pria yang lebih segalanya dariku dan kamu menemukan kebahagiaan bersamanya." Sambung Pandu dengan suara bergetar. Mundur beberapa langkah dan menabrakkan tubuhnya di dinding. Meraup mukanya kasar dan berusaha tetap tegar.


"Pergilah, Mas!


Jangan pernah lagi kembali. Semoga kamu bahagia dengan keluarga kamu. Pergilah!" sahut Clara menatap sendu ke arah Pandu. Tak ingin lagi melihat pria yang sudah mengoyak hati dan hidupnya.


Pandu mengangguk, dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah Bu desmita dengan perasan kacau. Perasaan bersalah, dan tak tega melihat Clara yang begitu terluka. Namun ada hati yang lain yang harus dia selamatkan, yaitu hati Risma dan anak anaknya, hati keluarganya dan orang tua Risma. Pandu memasuki mobilnya dan menjalankan nya pelan, memilih menuju rumah ibunya, ingin menumpahkan segala sesak di hatinya dan setelah itu, akan berusaha membenahi diri dari kesalahan yang sudah menyakiti hati banyak orang.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Asalamualaikum." Pandu memasuki rumah yang terlihat lengang namun terasa sejuk. Terlihat Bu Sonia menatap heran sang anak yang berwajah kusut dengan mata yang sembab.


"Waalaikumsallm.


Pandu, kamu kenapa nak?" Sambut Bu Sonia cemas dan Pandu langsung berhambur memeluk sang ibu, dan menangis disana, menumpahkan rasa yang membuat dadanya sesak.


Lepaskan semua beban kamu di pundak ibumu ini!" Bu Sonia mengusap bahu Pandu lembut, memberi kenyamanan dan kekuatan untuk anak laki lakinya.


Setelah melepaskan tangisnya, Pandu melepaskan pelukannya pada sang ibu. Luruh di kaki ibunya dan meminta maaf.


"Maafkan, Pandu, Ma! Maafkan!" Pandu kembali terisak di bawah kaki Bu Sonia yang dibuat bingung dengan sikap Pandu yang tak biasanya.


"Berdiri, nak! Sudah!


Ayo, kita bicara di dalam, katakan sama mama, apa yang sebenarnya terjadi." Bu Sonia meminta Pandu berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang keluarga, duduk dengan nyaman di sana.

__ADS_1


"Ada apa?


Katakan sama mama!" Dengan lembut, Bu Sonia bertanya dan menatap Pandu dengan binar cinta seorang ibu pada anaknya.


Sebelum menjawab pertanyaan sang ibu, Pandu menghembuskan nafasnya dalam. Menatap kosong ke depan dengan pikiran yang tak baik baik saja.


"Pandu baru saja menemui Clara, dan Pandu sudah menceraikan Clara, Ma!" sahut Pandu lirih, terlihat luka di setiap kalimatnya.


"Lalu?"


balas Bu Sonia santai dan di dalam hatinya mengucap syukur dengan keputusan sang anak.


"Pandu merasa bersalah, Pandu sudah membuat Risma dan Clara merasa tersakiti dan mereka sama sama terluka. Pandu melepaskan Clara, karena dia masih belum mempunyai anak dari Pandu, dan memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan laki laki yang lebih baik dari Pandu.


Pandu, ingin memperbaiki rumah tangga Pandu bersama Risma, menjadi suami yang lebih baik dan memberinya banyak cinta, mengganti semua kesalahan yang dulu pernah pandu lakukan, Pandu ingin selalu bersama anak-anak, menjaga dan mendidik mereka. Apa Pandu salah dengan keputusan Pandu ini, Mah?" balas Pandu panjang lebar, dan membuat Bu Sonia tersenyum senang dengan pemikiran anaknya yang ternyata masih bisa berpikir dengan bijak dan dewasa.


"Kamu sudah benar, Nak!


Mama suka dengan keputusan kamu ini, berjuanglah untuk mengembalikan perasaan istri kamu, sembuhkan lukanya. Lebih bersabar dan pahami sikapnya yang mungkin sudah tidak sama lagi. Karena lukanya sudah terlalu dalam, jangan menyerah dan jangan sekalipun bicara kasar padanya. Bimbing dan tuntun dia, insyaallah, Risma wanita penurut dan paham agama, kamu tidak akan menyesal karena sudah mempertahankan dan memperjuangkan wanita sebaik dia, percaya sama mama!" sahut Bu Sonia lembut, menatap haru anak laki lakinya yang terlihat mengangguk patuh.


"Iya, Ma! Doakan Pandu dan terus ingatkan Pandu jika Pandu ada di jalan yang salah!


Pandu sayang, Mama!" Kembali Pandu memeluk manja mamanya, dan di sambut usapan lembut di pipinya dari sang ibu tercinta.


"Risma dan anak anak, dibawa ibu dan ayah. Pandu kesepian dirumah sendirian." sambung Pandu mengadu pada mamanya yang tertawa dengan rengekan sang anak.

__ADS_1


"Itu karena kamu sudah nakal, jadi harus di kasih pelajaran. Gak enak kan, jauh dari anak dan istri. Apalagi istri secantik Risma dan anak anak selucu dan pintar pintar seperti Galang dan Cinta. Apa yang kamu rasakan saat jauh dari mereka?" balas Bu Sonia menatap dalam pada sang anak yang terlihat memejamkan mata.


"Tersiksa lahir batin."


__ADS_2