
"Tuhan, kuatkan hatiku. Tetap teguhkan niatku untuk tetap menjauh dan berpaling dari rasaku pada mas Pandu. Semoga aku tidak akan pernah bertemu dengan dia lagi dan biarlah Dania, hanya tau, jika ayahnya Mas Sandi." Clara benar benar ingin memperbaiki hidupnya, merubah pandangnya tentang cinta. Tak ingin lagi melakukan kesalahan yang sama, menyakiti hati wanita lain dan ingin menjadi istri yang baik, patuh dan taat pada Sandi yang mau menerima nya setulus hati.
Mengubur dalam dalam nama Pandu, meskipun cinta itu masih tetap ada, namun hanya cukup disimpan tanpa harus diutarakan.
Hidupnya sudah berubah, bukan lagi Clara yang dulu ambisi ingin memiliki cinta seperti Pandu yang sempurna, namun kenyataan telah memporak porandakan harapannya, kehadirannya telah menyakiti banyak hati, dan pada akhirnya harus kalah dengan dia yang sah Dimata hukum dan masyarakat.
Clara terus berpikir, gamang karena pikirannya sedang kalut, antara ingin menjelaskan tentang dirinya saat ini, atau membiarkan Sandi mengetahuinya nanti seiring berjalannya waktu.
Gelisah dan Clara semakin merasakan sesak, harapannya untuk tidak berurusan dengan Pandu dan keluarganya seolah kini semakin sulit. Apalagi Sandi suaminya adalah keluarga dekat dari Risma.
"Apa aku harus bicara sama mas Sandi saja ya, mumpung semua masih awal, kalaupun dia tidak bisa menerima, setidaknya aku masih belum terlanjur jauh mencintai dan perasaan ini juga belum sedalam itu.
Baiklah, aku akan bicara dengan Mas sandi, apapun keputusannya nanti, aku harus kuat, harus ikhlas." Clara bicara sendiri di dalam hatinya.
Sandi terlihat keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk dipanggangnya.
Clara membuang muka, mengatur nafasnya agar tak terlihat terpesona pada lelaki yang batu saja menikahi dirinya.
"Kenapa buang muka begitu?
Kita sudah halal loh, jangankan lihat, pegang juga boleh!" Sandi menggoda Clara yamg langsung salah tingkah.
Setelah mengenakan pakaiannya, celana pendek dan kaos lengan pendek. Sandi menghampiri Clara dan duduk disebelah Clara yang menyender di punggung ranjang.
"Mas!
Aku ingin bicara sesuatu, boleh?" Clara memberanikan diri untuk jujur tentang dirinya yang Sandi harus tahu.
"Boleh! Bicara saja, aku akan mendengarkannya dengan senang hati." sahut Sandi yakin, dan Clara terlihat membuang nafasnya kasar.
"Sebelumnya aku minta maaf!
Aku pikir, aku harus harus mengatakan satu kejujuran sama kamu saat ini, sebelum kita melangkah lebih jauh lagi. Dan aku pun juga sudah siap menerima konsekuensi nya.
Maaf kalau pengakuan aku ini, nanti membuat kamu berubah dalam menilai ku." Clara terdiam sesaat, mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu katakan, jangan buat aku jadi berpikir macam macam gini, apa kamu belum bisa menjadi istriku seutuhnya? iya begitu?" sahut Sandi menatap penuh selidik pada wanita yang baru saja dinikahinya beberapa jam yang lalu.
"Bukan itu, Mas!
Ini jauh lebih penting dari itu." sahut Clara tegas dan kembali mengumpulkan keberanian untuk bicara terus terang pada suaminya.
Sandi menautkan kedua alisnya menatap penuh pada wajah yang terlihat berubah sendu.
"Dulu aku pernah jadi duri dalam rumah tangga Risma dan Pandu." Clara dengan gemetar mengatakan kebenaran tentang dirinya dihadapan suaminya.
Sandi langsung merubah posisinya, duduk tegak dan menatap tajam pada Clara yang mulai meneteskan air matanya.
"Maksud kamu?" sahut Sandi dingin.
"Iya! Aku pernah menjadi istri siri Pandu Aditama, dan aku lah yang juga telah menyakiti Risma begitu dalamnya dengan penghianatan kami waktu itu.
Aku cinta pertama Pandu, pun demikian dengan Pandu yang juga cinta pertama ku.
Kamu bertemu di acara reoni, mengutarakan perasaan yang terpendam dan akhirnya kami memutuskan untuk menikah diam diam tanpa pengetahuan Risma.
Aku ingin menjauh dan menghindarinya tapi sekarang justru aku masuk menjadi keluarganya. Ini berat untuk ku, aku gak sanggup!" Clara mengutarakan semua isi hatinya dan juga kecemasannya.
Sedangkan Sandi hanya mematung, bingung harus bagaimana menanggapi kejujuran istrinya yang ternyata sangat membuatnya kecewa. Jika itu orang lain, Sandi tidak merasa sakit dan kecewa yang teramat dalam.
Tapi itu menyangkut keluarganya, Risma yang dikenalnya begitu baik dan lembut, ternyata pernah terluka oleh penghianatan wanita yang baru saja dia nikahi.
Sedangkan tidak menutup kemungkinan, jika Clara masih menyimpan rasa untuk Pandu. Itu semua semakin membuat sandi tak berdaya, kecewa, sakit dan menyesakkan dadanya.
"Sekarang aku ikhlas!
Mas Sandi mau akhiri pernikahan ini, aku iklas Mas." sambung Clara yang masih terisak merasakan perih luka dari masa lalunya.
Sandi memilih diam, dan beranjak meninggalkan Clara sendirian meratapi penyesalan dari masa lalunya. "Beri aku waktu untuk memahami ini semua. Tidurlah, aku akan mencari udara segar diluar!" Sandi keluar dari kamarnya dengan perasaan hancur, kecewa yang telah meluluh lantakkan harapannya. Wanita yang begitu dia cintai ternyata pernah menjalin hubungan dengan suami saudaranya.
Sakitnya sungguh luar biasa, melepas bukan pilihan tepat untuk saat ini, bertahan pun juga akan menyisakan luka.
__ADS_1
Clara terus terisak, sadar kalau Sandi begitu kecewa padanya. Tapi Clara benar benar tidak tau, jika Sandi memiliki hubungan keluarga dengan Pandu dan Risma. Kalau tau, tidak akan mungkin Clara menerima Sandi dalam hidupnya.
"Pernikahan seperti apa yang nanti akan aku jalani dengan mas Sandi?
Karena dia pasti sudah merubah hatinya dalam menilai ku. Bahkan dia berhak kecewa atas masa laluku yang pahit." Clara hanya mampu berbicara sendiri di dalam hatinya.
Malam yang seharusnya indah, dilewati dengan air mata dan kecewa. Sandi hanya bisa menatap kosong pada suasana malam di belakang rumah, yang ditemani hembusan angin yang terasa menusuk tulang.
Perasaannya tiba tiba menguap begitu saja, kecewa dan sesak telah menemani malam yang harusnya dilalui dengan panas oleh sang istri.
Jika semakin besar gaya yang diberikan, semakin besar tekanan yg dihasilkan dan semakin besar massa suatu benda, maka semakin kuat pula gravitasinya.
Semakin besar kebutuhan atau kepedulian terhadap sesuatu, maka semakin besar pula ingatan terhadap sesuatu itu dan tingkat kelupaan akan semakin menurun, hingga tak perlu alarm utk mengingatkannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️🔥
__ADS_1