
Risma paham betul bagaimana dia harus bersikap, bertindak dan memutuskan sesuatu tanpa harus mengedepankan egonya.
Risma wanita lembut yang juga seorang pemikir sejati.
Hatinya begitu luas untuk memaafkan orang orang yang pernah bersalah padanya. Karena dia paham, tidak semua keburukan harus dibalas keburukan, karena akan mencipta keburukan keburukan yang lain. Risma bukan orang yang seperti itu, Risma memilih iklas dan membiarkan tangan Tuhan yang bekerja dalam membalas sebuah perbuatan seseorang yang pernah bersalah padanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul dua siang Sandi datang bersama Clara dirumah Risma.
Pandu dan Risma sudah menyiapkan diri mereka untuk menghadapi semuanya tanpa ada rasa yang akan membuat mereka saling salah paham.
Risma dengan ramah menyambut kedatangan saudaranya itu, pun dengan Pandu yang memilih bersikap biasa saja, menyalami Sandi dan mengatupkan tangannya pada Clara yang terlihat tersenyum tipis dengan wajah yang menunduk dalam.
"Silahkan masuk!" sambut Risma dengan senyuman tipis, lalu menyuguhkan minuman dan cemilan yang sudah ia sediakan sejak tadi.Risma dan pandu duduk bersebalahan, demikian dengan Sandi dan Clara yang memilih duduk berdampingan.
Risma memakai gamis warna biru Dongker dengan hijab panjang menjuntai, sedangkan Pandu hanya mengenakan celana jins dan kaos lengan pendek.
Risma terlihat begitu anggun dan cantik, senyuman nya selalu terlihat meneduhkan.
Pandu yang sesungguhnya merasa khawatir dengan hati istrinya, tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang istri, terus menggenggamnya erat. Clara menatapnya dengan hati perih. Namun langsung dia tolak perasaan yang tidak seharusnya.
"Sebelumnya saya minta maaf, kalau kedatangan saya kesini membuat tidak nyaman semua orang.
Saya hanya ingin meminta maaf sama kamu, Risma!" Clara memberanikan diri menatap wajah Risma yang terlihat begitu tenang, bahkan Risma tersenyum ke arah Clara dengan sangat ramah.
"Saya benar benar minta maaf, sudah menjadi duri dan orang yang merusak ikatan kalian sebagai suami istri. Maafkan saya Risma. Jujur saya sudah melepaskan rasa itu dan pergi dari kenangan waktu itu. Sekarang saya ingin fokus dan hanya mencintai suami saya, mas Sandi!" Clara menoleh ke arah Sandi yang mengangguk dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Sekali lagi, tolong maafkan saya." sambung Clara tulus meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
Pandu hanya memilih diam dan tidak sama sekali melihat ke arah Clara.
"Iya, insyaallah aku juga sudah memaafkan kamu, Clara. Terimakasih sudah mau datang dan langsung bicara seperti ini, itu butuh keberanian yang besar, dan aku salut s Ngan sikapmu itu.
Semoga kamu bahagia dengan Sandi." sahut Risma tenang dan tetap berpegangan tangan dengan suaminya.
Risma tau, Pandu ingin Risma percaya pada hatinya.
"Terimakasih, semoga tak ada lagi perasaan yang mengganjal di hati kita masing masing.
Sekali aku mohon maaf. Jujur aku sangat menyesal dan merasa bersalah sama kamu.
Tolong maafkan kebodohanku dulu!" sambung Clara dengan suara tercekat. Sandi mencoba untuk menenangkan istrinya dengan memberi ucapan lembut pada bahunya.
__ADS_1
"Sudah, semua sudah berlalu dan kita harus fokus menatap masa depan.
Aku sudah memaafkan kamu, dan Alhamdulillah saat ini kami bahagia dengan rumah tangga kita.
Kita sudah jadi satu keluarga. Kita hapus kenangan buruk itu. Dan mari kita fokus dengan keluarga kira masing masing." sahut Risma tenang Sambil tersenyum menatap Clara yang masih betah menundukkan wajahnya malu, tak kuasa melihat ke arah Risma maupun Pandu.
"Alhamdulillah, semua sudah clear. Semoga kita semakin kuat dan teguh dalam menjalani hidup rumah tangga yang memiliki seni tersendiri.
Terimakasih banyak, Risma!" Sandi ikut menimpali dan ingin mencairkan suasana yang kaku.
Setelah merasa clear, Risma mengajak tamunya untuk makan bersama dengan masakan yang ia masak sendiri dengan tangannya.
Pandu bahkan tidak sedetikpun melepaskan genggaman tangannya pada Risma.
Setelah hari beranjak sore, Sandi dan Clara memutuskan untuk balik kerumah orang tuanya Sandi, karena Dania ada disana.
Sengaja meninggalkan Dania di rumah orangtuanya, agar Pandu dan Risma tidak meras curiga dengan garis wajah Dania yang begitu mirip dengan Pandu.
"Kalau begitu, kamu permisi dulu. Terimakasih sudah menjamu kami dengan begitu enaknya.
Masakan kamu memang selalu enak, Ris!" Sandi memuji Risma dan membuat Clara merasa tidak nyaman. Namun berusaha tetap tersenyum karena bagaimanapun Sandi dan Risma adalah saudara dekat.
Setelah kepergian Sandi juga Clara.
"Terimakasih sudah selalu jadi penyejuk dan penenang dalam setiap keadaan. Aku mencintaimu istriku!" bisik Pandu lembut dan tanpa disadari Risma, Pandu langsung membawa Risma dalam gendongannya menuju kamar pribadinya.
Pandu ingin menguatkan rasa cintanya terhadap istrinya yang begitu dia banggakan.
Keadaan rumah yang sepi, karena anak anak sudah di ungsikan kerumahnya mbak Romlah dan akan baru kembali setelah magrib, Pandu leluasa bermesraan dengan istrinya dan bisa melakukannya di sembarang tempat di dalam rumahnya.
Risma tidak menolak dan paham dengan kebutuhan suaminya.
Sebagai istri yang baik dan juga mencintai suaminya, Risma selalu memberikan yang terbaik dalam melayani suaminya.
Nafas yang menderu dengan nada saling bersahutan telah menyatukan dua tubuh manusia yang halal dalam sebuah ikatan pernikahan.
Pandu dan Risma melakukan dengan penuh cinta sehingga bisa berulang ulang dan berpindah tempat. Candra tawa, manja dan ******* kecil mengisi ruangan dengan nafas yang memburu antara keduanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Bagaimana?
Apa kamu sudah merasa lega setelah bertemu dan meminta maaf kepada Risma?" tatap sandi pada istrinya yang tengah terdiam dengan pandangan nanar ke depan.
__ADS_1
Clara menarik nafasnya dalam dan menoleh ke arah suaminya yang tengah menyetir.
"Alhamdulillah, iya mas. Rasanya beban itu sudah berkurang. Terimakasih sudah mengijinkan aku bertemu dengan Risma hari ini." sahut Clara lirih, matamu nampak berkaca kaca, entah apa yang dia rasakan, Clara sendiri juga tidak tau.
"Alhamdulillah.
Sekarang aku minta, fokuslah dengan kehamilan kamu, berikan keturunan yang sehat dan lucu untukku." balas Sandi tersenyum dan menatap Clara sekilas, lalu kembali fokus menatap jalanan yang ada di depannya.
"Insyaallah, mas!
Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk mempertahankan bayi kita, semoga dia lahir sehat dan selamat. Aamiin!" sahut Clara dengan menanamkan kepercayaan di hatinya, jika semua akan baik baik saja.
"Aamiin! Insyaallah! Semoga yang akan selalu aku semogakan!" balas Sandi serius dengan wajah penuh harap.
Karena sudah begitu merindukan kehadiran bayi yang langsung dari benihnya sendiri.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️