
"Pernikahan seperti apa yang nanti akan aku jalani dengan mas Sandi?
Karena dia pasti sudah merubah hatinya dalam menilai ku. Bahkan dia berhak kecewa atas masa laluku yang pahit." Clara hanya mampu berbicara sendiri di dalam hatinya.
Malam yang seharusnya indah, dilewati dengan air mata dan kecewa. Sandi hanya bisa menatap kosong pada suasana malam di belakang rumah, yang ditemani hembusan angin yang terasa menusuk tulang.
Perasaannya tiba tiba menguap begitu saja, kecewa dan sesak telah menemani malam yang harusnya dilalui dengan panas oleh sang istri.
Jika semakin besar gaya yang diberikan, semakin besar tekanan yg dihasilkan dan semakin besar massa suatu benda, maka semakin kuat pula gravitasinya.
Semakin besar kebutuhan atau kepedulian terhadap sesuatu, maka semakin besar pula ingatan terhadap sesuatu itu dan tingkat kelupaan akan semakin menurun, hingga tak perlu alarm utk mengingatkannya.
Sandi tak bisa terus duduk diam meninggalkan Clara sendirian di kamar, jika ada keluarganya yang melihat, pasti akan ada banyak pertanyaan.
"Besok aku akan bawa Clara kembali ke Surabaya, karena kalau masih disini, aku takut mama dan yang lain akan curiga.
Harusnya aku mencari dulu kebenaran tentang masa lalunya, kenapa harus dengan suaminya Risma? ini benar benar sulit untuk aku terima." Sandi bergumam lirih dan meremas kepalanya yang mendadak terasa pusing. Bangkit dan berjalan gontai kembali menuju kamar pengantin yang sudah dihias begitu indahnya. Namun terasa hambar di mata Sandi.
Clara masih terisak meskipun tak terdengar, menatap Sandi yang bahkan tidak mau menoleh ke arahnya. Sandi justru mengambil bantal dan mengeluarkan selimut dari dalam lemarinya, memilih membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di dalam kamarnya.
Sandi benar benar enggan menyentuh Clara. Sikapnya berubah dingin dan kaku.
Dan semua itu semakin membuat Clara semakin tertekan, merasa hidupnya akan berada dalam tekanan karena harus menjalani hari dan waktunya bersama laki laki yang telah kecewa dan bersikap dingin padanya.
"Apakah kisah Pandu dan Risma akan aku alami bersama kisahku dengan Sandi?
Mampukah aku menghadapi dan menjalani semua ujian ini ya Tuhan?"
Clara menatap nanar laki laki yang telah meringkuk di kursi yang tak jauh dari tempatnya.
"Ini ujian rumah tanggaku, atau bahkan hukuman atas perbuatanku dulu yang telah merusak hati wanita lain karena kehadiranku." gumam Clara tersenyum miris yang disertai lelehan bening yang masih terus berjatuhan dari kedua bola matanya.
Malam merambat begitu pelan, lama dan asing. Berada di ruang yang sama, dan berada dalam satu hubungan pernikahan, namun harus menjalaninya seperti tak saling mengenal apa lagi bersentuhan. Sakitnya jauh lebih sakit dari perpisahan.
Kumandang adzan subuh membangunkan Sandi dari tidurnya yang tak begitu nyenyak.
__ADS_1
Berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri, menjalankan kewajiban dua rakaat tanpa mau membangunkan Clara yang masih terlihat terlelap.
Kekecewaan Sandi sudah menutup segalanya, hingga dia pun juga melupakan kewajiban seorang suami untuk membawa istrinya menuju jalan yang lebih baik.
Clara membuka matanya dengan kepala sedikit pusing. Baru dini hari Clara bisa memejamkan matanya. Melihat Sandi yang tengah bersimpuh di atas sajadah, membuat Clara semakin sesak. Sandi bahkan tidak ingin membangunkan nya untuk sekedar mengajaknya sholat bersama.
Clara berlahan bangkit dari tidurnya, menuju kamar mandi dan menyiram tubuhnya dengan air dingin, membasahi rambutnya agar rasa pusing di kepalanya hilang.
Setelah puas menikmati dinginnya air pagi, Clara segera mengambil air wudhu.
Saat keluar dari kamar mandi, Sandi sudah selesai dan terlihat duduk di pinggir ranjang sambil membuka ponselnya tanpa melihat ke arah Clara yang mati matian menahan sakit di hatinya.
Clara memilih abai dan melaksanakan kewajiban dua rakaat nya. Memohon dan berharap untuk diberi kekuatan dan keikhlasan jika memang apa yang saat ini dialaminya adalah sebuah teguran dari perbuatan di masa lalunya.
Mungkin harus bisa mulai terbiasa menjalani hari dengan sikap dingin seolah tanpa dicintai oleh suaminya sendiri. Hukuman yang pantas untuk kisah yang pernah dia ukir saat cinta itu benar. entar menggila dan kehilangan logika.
"Kemasi barang barang kamu, karena hari ini kita akan langsung pindah ke Surabaya." Sandi mengeluarkan suaranya saat melihat Clara telah selesai dengan shalat nya.
Clara menoleh, dan hanya mengangguk pasrah tanpa mau menjawab.
"Kita akan berangkat setelah ini, sarapan beli di jalan saja. Karena aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari mamaku, aku takut kalau tetap disini, mama akan tau masalah kita. Aku harus menghindarinya dan pergi dari rumah ini. Aku harap kamu mau memahaminya." Sambung Sandi mengungkapkan pikirannya.
"Iya, Mas! aku mengerti." balas Clara tersenyum kecut. Karena hatinya sudah lelah hingga tak lagi mau mendebat, pasrah apapun yang nanti Sandi putuskan dalam pernikahan mereka.
"Gantilah bajumu, aku akan menunggumu diluar. Koper biar aku bawa dan masukkan ke dalam mobil!" Sandi berdiri dan langsung menyeret koper milik Clara untuk dibawa keluar dan dimasukkan ke dalam mobilnya.
Sandi tidak membawa apa apa, karena barang dan bajunya sudah ada dirumahnya yang ada di Surabaya.
Bu Yesi terkejut saat melihat Sandi keluar membawa koper.
"Sand! kenapa pagi pagi kamu sudah bawa koper begitu, mau kemana?" todong Bu Yesi mengernyit menatap penuh selidik pada anak laki lakinya.
"Mau balik ke Surabaya, Ma!" sahut Sandi cuek, tetap berusaha terlihat baik baik saja.
"Loh, bukannya kamu cuti masih dua Minggu lagi ya?
__ADS_1
Kenapa harus buru buru, biar istrimu berkenalan dulu sama keluarga kita disini, balik seminggu lagi, kan setidaknya begitu." sahut Bu Yesi masih memasang wajah penasaran pada putranya yang tak biasanya, padahal Sandi paling betah kalau sudah dirumah dan akan males pulang ke Surabaya lagi.
"Clara gak tega sama Dania, Ma!
Kasihan Dania kalau ditinggal terlalu lama. Lagian kalau dirumah sendiri buat pengantin baru bisa bebas mau apapun." sahut Sandi sedikit berkelakar agar mamanya tidak lagi banyak bertanya.
"Yasudah kalau memang itu mau kamu!
Tapi kamu tidak sedang menyembunyikan apa apa sama mama kan?" balas Bu Yesi penuh selidik.
"Gak lah, Ma!
Aku cuma ingin merasa leluasa saja berdua sama istriku dirumah sendiri. Kalau disini sungkan ada Nana dan yang lain, gak bebas!" sahut Sandi pura pura tertawa dengan alasan yang dibuatnya.
Bu Yesi tertawa dengan jawaban anak laki lakinya, namun nalurinya sebagai ibu tak bisa dibohongi. Bu Yesi tak mau memaksa dan memilih pura pura percaya dengan jawaban sang anak.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️🔥