
"Iya, kenapa?
Katakan apa yang jadi beban pikiran kamu, Clara!
Aku gak mau, kamu semakin tertekan dengan pikiran pikiran buruk kamu itu!" sahut Sandi dengan tatapan dalam ke arah sang istri yang tetap bergeming dari menatap suaminya.
"Aku ingin bertemu dengan Risma, Mas!" Lirih Clara dengan menahan isakan. Sandi yang terkejut dengan apa yang diucapkan Clara, langsung mengerutkan keningnya.
"Kamu yakin, Ra?" Sekali lagi Sandi menajamkan pendengaran nya, memastikan apa yang diucapkan istrinya barusan.
"Iya, Mas!
Aku sangat yakin.
Aku berpikir, mungkin apa yang selama ini menimpaku tersebab dosa yang belum tuntas, aku belum benar benar menyelesaikan luka masa lalu." sahut Clara dengan suara parau, matanya terpejam dengan perasaan yang begitu menghujam ulu hatinya.
"Maksudmu?
Kenapa aku gak paham, menyelesaikan luka masa lalu yang seperti apa?" sahut Sandi dengan tatapan dalam pada wajah istrinya yang sudah basah oleh air mata.
"Iya! luka yang belum aku selesaikan bersama Risma.
Aku sudah banyak membuat luka di hatinya, aku sudah begitu menghancurkan perasaanya waktu itu. Tapi aku hanya pergi begitu saja tanpa meminta maaf padanya, menyesali kesalahan yang sudah aku lakukan di hadapannya.
Dan saat ini, aku hanya ingin melakukan itu, Mas!
Bertemu Risma dan meminta maaf padanya." balas Clara menunduk dalam, enggan menatap wajah suaminya yang terlihat terkejut.
Sandi menghembuskan nafasnya kasar. Menimbang betul keinginan istrinya, karena bisa saja keputusannya membuat luka baru pada hati banyak orang, terutama untuk Risma dan Clara sendiri.
Sandi terdiam, berpikir dengan jawaban apa yang akan dia berikan pada sang istri.
"Mas!
Tolong antarkan aku, dan aku mohon ijinkan aku bertemu dengan Risma. Aku harus bicara dengannya." Sekali lagi, Clara memohon pada Sandi yang masih terdiam, bingung harus bagaimana.
"Apa kamu juga akan jujur soal siapa Dania, Ra?" Sandi menatap dalam mata sayu sang istri yang masih tergenang oleh air matanya.
Clara menggeleng lemah, dan kembali air matanya berjatuhan seiring perasaan yang terus menyiksanya, Clara sendiri sebenarnya sudah tidak sanggup menyembunyikan kebenaran tentang putrinya. Namun Clara tidak mau egois, Clara tau, Risma pasti akan kembali terluka. Baginya cukup bertemu dan meminta maaf, bukan bicara tentang status putrinya.
"Gak, mas!
Biarkan Dania tetap jadi anakmu, putri kita.
Aku gak mau dengan kebenaran itu, Risma kembali terluka, dan Pandu pasti tertekan oleh perasaan bersalahnya terhadap Risma maupun Dania.
Biarkan Dania tetap menjadi anak kita!
Kamu gak keberatan kan, mas?" sahut Clara dengan suara bergetar, memegang wajah suaminya dengan derai air mata.
__ADS_1
Sandi memejamkan matanya, menetralkan perasaan yang sudah begitu menyesakkan dadanya.
Apa yang dikatakan Clara ada benarnya. Dania akan membawa masalah baru untuk keluarga sepupunya. Jadi membiarkan Dania menjadi putrinya di mata orang lain adalah suatu keputusan yang tepat, demi menjaga hati orang banyak.
"Baiklah, aku akan mengantarkan kamu bertemu dengan Risma!
Tapi setelah keadaan kamu membaik dulu. Karena perjalanan cukup jauh.
Aku gak mau terjadi sesuatu denganmu dan juga anak kita." sahut Sandi dengan senyuman pahit.
Setelah mempertimbangkan semuanya, Sandi akhirnya mengiyakan keinginan Clara untuk menemui Risma.
"Aku tidak pernah keberatan soal Dania, Ra!
Dia itu putriku, sejak dia bayi aku sudah sayang anak itu, dan lihatlah dia begitu dekat denganku.
Percayalah, aku sangat menyayangi Dania apapun itu." Sambung Sandi dengan kembali mengetatkan pelukannya pada Clara yang tersenyum tipis. Merasa lega dengan jawaban suaminya.
"Papa!" teriak Dania yang tiba tiba muncul dengan wajah lucunya.
"Hay anak papa, sini nak, temeni mama!" Sandi meminta Dania ikut naik ke kasur dan mendudukkannya di tengah tengah mereka.
"Mama masih sakit?" tanya Dania polos sambil memeluk mamanya erat.
"Insyaallah mama sudah sedikit baikan sayang. Doain mama dan dede ya, biar cepat sehat dan bisa temani Dania main." sahut Clara lembut dengan mengusap sisa air matanya, lalu membalas pelukan putri kecilnya.
"Papa kok gak ke kamar Dania, kan Dania nungguin buat ngerjain PR!" Dania ganti menatap Sandi dengan memanyunkan bibirnya, terlihat menggemaskan.
Kan papa masih temani mama.
Sekarang PR nya sudah dikerjain belum?" sahut Sandi dengan senyuman meneduhkan dan mengusap lengan gadis kecilnya.
"Sudah! Dibantuin sama suster!
Besok papa gak boleh lupa! Dania suka belajarnya sama papa saja!" sahut Dania dengan gaya lucunya, pura pura ngambek biar sang papa merasa bersalah, Clara tertawa lirih melihat kecerdasan putrinya, dia tumbuh dengan baik, cerdas dan ceria. Semua karena Sandi begitu menjaga dan menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri.
"Iya, besok dan seterusnya belajarnya sama papa ya. Maaf kalau hari ini papa lupa. Papa minta maaf sekali lagi ya sayang!" balas Sandi serius dan memeluk Dania dengan gemas.
"Pa!
Ma!
Dania mau tidur disini sama papa, sama mama, boleh?" Dania menatap polos ke arah papa mamanya dengan bergantian.
"Boleh dong!
Tapi nanti kalau adiknya sudah lahir, Dania harus tidur di kamar Dania ya. Kan Dania sudah besar, harus bisa menjaga adik nanti, ya sayang?" Clara memberi pengertian pada Dania yang langsung terlihat senang dan merebahkan tubuhnya di tengah-tengah papa dan mamanya.
Melihat sikap lucu Dania, Sandi maupun Clara tertawa, sejenak melupakan masalah yang tengah menghimpit mereka.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Erna yang memutuskan untuk mengabdikan diri untuk membantu di pondok milik Abah Faisal, tengah membersihkan halaman kusus putri.
Menyiram tanaman dan menyapunya, sehingga terlihat bersih dan rapi.
Semenjak tadi nggak di pondok, Erna banyak berubah, mendapatkan ilmu dari sesama santriwati, dan umi Zara.
Erna yang kini menjadi perempuan yang lembut, kalem, dan selalu menundukkan wajahnya malu.
Umi Zara senang dengan Erna yang begitu santun dan semangat dalam belajarnya, sehingga dia mudah menerima setiap pelajaran yang diberikan dengan sangat cepat.
Abah Faisal bahkan ingin memperkenalkan Erna pada pak Danu keponakannya untuk dijadikan menantunya, dijodohkan dengan Abas, yang sampai detik ini belum juga menemukan jodohnya.
Membuat pak Danu dan Bu Santi sampai pusing dengan sikap putranya yang cuek urusan perempuan.
"Aku akan bicara dengan Erna, kalian bicaralah dengan Abas. Setelah itu kita pertemukan mereka. Insyaallah jodoh pasti akan menemukan jalannya sendiri, kita hanya bisa berusaha, selanjutnya serahkan pada pemilik semesta." ucap Abah Faisal bijak dengan sikap tenangnya.
"Iya paman, aku percaya, pilihanmu pasti yang terbaik untuk putraku. Bismillah semoga mereka cocok dan saling menerima.
Aku sudah lelah memikirkan jodohnya Abas yang tak kunjung datang. Dia selalu menolak setiap kali kami mengenalkannya dengan wanita anak dari teman mamanya, maupun temanku sendiri. Selalu saja dia punya alasan untuk menolaknya.
Semoga dengan campur tangan paman dan bibi, Abas akan melunak bahkan jinak." ucap pak Danu sambil terkekeh dengan memijat pelipisnya pelan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️