Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Semua sudah berbeda, Mas!


__ADS_3

"Nduk, kamu taruh kelapa mudanya di ceret warna biru itu, dan sekalian siapin gelas sama sendoknya ya. Kita lihat, seberapa besar, suami kamu itu mau berusaha memperbaiki kesalahannya.


Mama sengaja, mengulur waktu, agar Pandu tetap disini, karena Mama yakin, pasti wanita itu sedang menunggu Pandu kembali kesana.


Nanti panggil juga mbak Romlah dan mas Waloyo, biar ikut makan bersama sekalian, kita masaknya juga sangat banyak kan. Mari kita buat Pandu betah di rumah, dan mama yakin perempuan itu pasti akan bingung menunggu Pandu yang tak kunjung datang." Sambung Bu Sonia panjang lebar, menjelaskan maksud dan niatnya.


Risma hanya tersenyum dan bersyukur memiliki ibu mertua yang sangat baik dan penuh perhatian seperti Bu Sonia.


"Kan satunya bisa buat orang orang yang kerja di sawah Ma!" sahut Risma sopan dengan senyuman tipis terukir di bibirnya.


"Soal itu gak usah hawatir, mama sudah minta mbok Yem buat masakin pekerja yang ada di sawah. Tadi sama Pandu juga sudah dikirimin ikan lele juga. Kita fokus nikmati kebersamaan yang jarang jarang ini." balas Bu Sonia dengan senyuman.


"Iya, Ma!" sahut Risma kalem. Meskipun dalam hatinya menolak untuk dekat dekat sama Pandu, apalagi menikmati waktu bersama. Demi menghargai dan menghormati mama mertuanya, Risma berusaha untuk bersikap baik baik saja, meskipun hatinya terus memikirkan rencana untuk membuat Pandu menyesali semua perbuatannya.


Risma harus bertahan beberapa jam lagi dirumah ibu mertuanya, karena menunggu uang hasil panen keluar, setelah itu Risma akan memutuskan untuk kembali ke Madiun dan mengurus surat surat pengalihan sawah dan cafe atas nama anak anaknya dengan pengacara keluarga.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Semua masakan sudah dipindah di halaman belakang dengan alas karpet, tinggal menunggu kedatangan Permadi dan keluarganya.


Risma memilih duduk tak jauh dari mertuanya, sedangkan Pandu dengan anak anaknya, dan juga sudah ada mbak Romlah dan Waloyo.


Obrolan ringan antara mereka berjalan dan membawa keakraban, sehingga tak ada jarak antara majikan dan pembantu.


Sesekali Pandu menetapkan pandangannya pada Risma yang terlihat cantik dengan gamis hitamnya, namun sedikitpun Risma tak Sudi menoleh ke arahnya.


"Asalamualaikum." Permadi dan keluarga kecilnya datang, dengan membawa beberapa kantong kresek berisi berbagai macam cemilan.


"Kenapa kok repot repot, ini sudah sangat banyak loh makanannya." Bu Sonia menyambut kedatangan keluarga kecil anak pertamanya sumringah.

__ADS_1


"Gak papa Ma, sengaja beli banyak, biar dibawa Risma pulang ke Madiun nanti, buat oleh oleh." Sahut Permadi dengan senyuman.


Acara makan bersama dimulai dan semua menikmati makanannya, sesekali mengisi dengan obrolan ringan. Hanya Pandu saja yang sedikit tidak nyaman dan kaku, karena terlihat jelas raut tak nyaman dari cara Risma menatap dirinya dan bagaimana Permadi bicara ketus padanya. Situasi yang benar benar Pandu tidak harapkan.


"Hari ini panenan padi ya, kamu ndu?" Permadi mengawali obrolannya dan Pandu langsung menatap pada kakaknya sedikit mengernyitkan dahi.


"Iya." sahut Pandu singkat tanpa mau banyak bicara lagi.


"Biar istri kamu yang bawa hasil uang panennya. Lagian sawah juga sudah jadi bagian Galang." sahut Bu Sonia menatap Pandu yang tengah membuang nafasnya kasar.


"Iya!" sahut Pandu singkat dan datar. Membuat Risma ingin menatap dan mencari keraguan yang tersirat dari wajah tampannya. Risma tersenyum miring dan menikmati setiap detik tersiksanya Pandu.


"Biasanya, Mbah Sawal akan kesini nanti ba'da dhuhur. Kamu tunggu aja Ris, nanti kamu sendiri yang hitungan sama beliau. Biar Pandu yang menjelaskan." sambung Bu Sonia menatap Risma dengan tersenyum penuh arti.


"Iya, Ma!" sahut Risma singkat dan dengan senyuman manis.


"Oh iya, ini tadi aku bawakan rekapan pemasukan dan pengeluaran cafe. Dan uang laba untuk bulan ini juga sudah aku hitung dan ada di amplop coklat itu. Kamu terima Ris, mulai bulan depan kamu bisa minta pegawai kasir untuk mentransfer uangnya langsung ke rekening kamu." Sahut Permadi dan langsung membuat Pandu memucat menatap tak suka pada kakaknya yang mendahului wewenang nya, padahal jelas-jelas cafe dibangun oleh dirinya.


Obrolan obrolan santai terjalin, sesekali Risma bisa tertawa dengan obrolannya bersama mertua dan istri dari kakak iparnya. Sedangkan Pandu memilih masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai. Mengeram frustasi menyesali kebodohannya yang sudah berbuat tanpa berpikir panjang.


"Apa ini?


Kenapa semua harus kacau begini?


Semua sudah Risma ambil, dan aku tak bisa menolaknya. Harga diri dan kehormatan keluarga jadi taruhannya, kalau sampai aku dipecat secara tidak hormat.


Argh, benar benar tidak menyangka, kalau Risma bisa berbuat sejauh ini. Tapi jika semua berpindah atas nama anak anak memang tak masalah, toh itu hak mereka. Tapi tidak sekarang dan ini membuatku bisa gila!" Pandu mengacak rambutnya frustasi, memikirkan bagaimana memberi nafkah untuk Clara dan bisa mencukupinya juga. Karena ternak lele juga tak seberapa itu pun harus menunggu beberapa bulan. Sedangkan tabungannya juga sudah terkuras habis, hanya tinggal puluhan juta saja. Pandu harus berhemat dan memikirkan cara untuk bisa mendapatkan uang lagi.


"Aku harus kembali memulai dari nol lagi, untuk bisa memberikan hak yang sama untuk Clara, semoga dia bisa mengerti dan mendukungku seperti yang Risma lakukan selama ini." batin Pandu menenangkan dirinya.

__ADS_1


Dan saat pikirannya kacau dan dadanya sesak, Pandu terus terbayang dengan apa yang Risma sudah lakukan untuk keberhasilannya, dukungan, doa, cinta, ketulusan dan kesabaran, selalu Risma berikan untuk Pandu. Tapi kini seolah itu telah hilang dalam diri Risma, terkikis sakit hati dan kebencian karena sebuah penghianatan yang Pandu lakukan.


"Maafkan aku Ris, mungkin aku akan merelakan kamu pergi, jika aku tidak memiliki perasaan ini.


Aku mulai menyimpan rindu dan cinta yang tumbuh untukmu, disaat luka itu semakin dalam di hati kamu. Maafkan aku!


Mungkin benar kita akan jalani hidup masing masing akan jauh lebih baik, agar tidak saling tersiksa dan menyakiti seperti ini.


Tapi proses perceraian untuk anggota seperti sangat sulit, bahkan sampai ada yang bertahun tahun belum beres dan digantung statusnya.


Tuhan, ini terlalu berat." Isak Pandu dan mulai menitikkan air mata kebodohannya.


Risma memasuki kamar hendak mengambil baju ganti, namun melihat pemandangan yang tidak biasa, Pandu menangis dengan menutupkan kesepuluh jari tangan ke wajahnya.


Risma tak ingin menanggapi, diam seribu bahasa dan meneruskan langkah membuka lemari dan mengambil apa yang dibutuhkannya. Hati nya sudah benar benar berhenti untuk seorang Pandu Aditama.


"Ris!" Suara Pandu menghentikan aktifitas Risma, dan membuatnya menoleh menatap lekat wajah suami yang sudah terlihat sembab.


"Iya!" sahut Risma datar dan dengan cepat memalingkan wajahnya ke sembarang arah, menghindari tatapan Pandu.


"Maafkan aku!" sambung Pandu yang masih menatap Risma dalam kebisuannya.


"Maaf, jika selama ini aku sudah sangat melukai kamu dan membuatmu tersiksa bertahun tahun. Dan maafkan aku yang sudah memasukkan Clara dalam hubungan kita. Aku ijinkan kamu menghukum diriku, aku iklas!" Sambung Pandu dan membuat Risma langsung menoleh, menatap suaminya dalam, mencari kebenaran dari ucapannya di kedua sorot mata tajam milik Pandu. Dan Risma menemukan kesungguhan di dalamnya.


"Iya, Mas. Aku juga membebaskan kamu bersama Perempuan itu. Karena hatiku sudah terlanjur beku dan mati untuk kamu. Kita akan jalani kehidupan masing masing setelah ini. Tapi tetaplah jadi papa yang baik untuk anak anak." Sahut Risma dengan wajah datarnya yang bahkan kering tanpa ada lagi air mata.


Pandu terdiam, berharap Risma memohon dan meminta cintanya lagi seperti dulu, namun justru Risma mengatakan sesuatu yang menusuk jantungnya.


"Tak ada lagi perasaan itu di hatimu untukku, Ris?" sahut Pandu lemah, seiring kecewa yang berhasil mencabik dadanya.

__ADS_1


"Semua sudah berbeda, Mas!


Maaf, rasa itu sudah benar benar aku kubur bersama penghianatan yang kamu lakukan." Balas Risma dingin dengan senyuman miris dibibir tipisnya.


__ADS_2