
Pandu memilih diam tak menanggapi emosi Clara, karena tau kalau akan jadi panjang urusannya. Memilih untuk memberikan waktu agar Clara menenangkan dirinya dulu dan merenungi kesalahan nya, bagaimana seharusnya bersikap jadi seorang istri pada suaminya.
"Tenangkan diri kamu dulu, Clara!
Setelah itu kita baru bicara, karena kalau kita bicara dalam keadaan emosi dan marah, yang ada hanya pertengkaran. Aku akan kerja dulu, nanti aku hubungi kamu lagi." Pandu mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Clara terlebih dahulu, dan itu semakin menyakiti hati Clara yang kembali menangisi nasibnya.
"Asalamualaikum."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Aku tidak terima diperlakukan seperti ini, Mas Pandu sudah keterlaluan. Aku akan ke Madiun, gak perduli dengan kata orang atau apa itu, biar sekalian semua tau, kalau aku juga istri dari Pandu Aditama. Aku GK mau diperlakukan sembunyi dan tak dihargai keberadaan ku seperti ini.
Jahat kamu, Mas!
Kamu akan lihat, apa yang bisa aku lakukan setelah ini." Clara bicara dalam kebencian dan ego yang tinggi, tanpa mau memikirkan akibat apa yang nanti akan terjadi dengan sikapnya itu.
Clara membereskan beberapa pakaian untuk dimasukan ke dalam tas, dan memilih naik bis kota untuk bisa sampai ke Madiun tanpa mau bicara dulu dengan Pandu. Hatinya sudah dibakar cemburu dan amarah. Hingga tak memikirkan akibatnya dari sikapnya itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan dilain tempat, Risma baru saja selesai melakukan terapi, tubuhnya masih lemas dan merasakan sakit luar biasa.
"Kamu istirahat dulu dikamar rawat untuk beberapa jam ke depan, biar obatnya bekerja dulu. Tinggal sedikit lagi, Insyaallah usaha kamu akan membuahkan hasil. Terus berpikir positif dan banyakin berdoa ya, karena tidak ada yang mustahil jika DIA sudah berkehendak." Dokter Abas memberi kekuatan dan sport yang begitu besar untuk kesembuhan wanita cantik yang ada di hadapannya. Tiap kali melihat Risma kesakitan, diapun juga ikut merasakan sakitnya, bahkan tak jarang meneteskan air matanya melihat Risma menahan sakitnya sendirian. Cintanya pada Risma begitu besar, hingga reka menutup hati untuk Wanita manapun yang ingin masuk. Padahal kalau mau, sudah banyak yang antri untuk dijadikannya sebagai istri. Tapi dokter Abas lebih memilih menutup hati dan tetap setia pada cintanya yang bahkan sudah memiliki suami dan anak.
"Iya, Mas! Terimakasih ya!" Sahut Risma lemah yang disertai dengan senyuman tipis, lalu kembali memejamkan matanya, agar rasa sakit yang dirasakan tak begitu menyiksanya. Berdoa dan terus mengingat bayangan kedua anaknya, menjadi sumber kekuatan tersendiri bagi Risma untuk melawan rasa sakitnya.
Pandu fokus pada layar datar yang ada dihadapannya. Berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Namun sejak tadi hatinya diliputi gelisah yang tidak tau itu apa.
__ADS_1
Hingga tanpa sadar sudah waktunya makan siang.
Pandu membuka kotak makan yang tadi di bawakan Risma, lalu memakannya dengan lahap.
Mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Risma, tapi tidak ada jawaban hingga panggilan ketiga.
"Kamu kemana, Ris? apa yang terjadi sama kamu?
Kenapa aku jadi memikirkan kamu terus, padahal aku hampir tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Apa aku benar benar sudah mencintai kamu?
Ya Tuhan, kenapa harus seberat ini masalah yang harus aku hadapi?" Pandu melepaskan nafasnya dalam dan kembali menghubungi kontaknya Risma, namun tak kunjung ada jawaban dari pemiliknya.
Membuat Pandu berpikir untuk menghubungi mbak Romlah untuk menanyakan keberadaan istrinya.
"Asalamualaikum, mbak!" sapa Pandu diujung sana dengan nada tegasnya.
"Waalaikumsallm, pak Pandu! ada yang bisa saya bantu Pak?" sahut mbak Romlah sopan.
Dari tadi di telpon tidak di angkat angkat. Kemana?" sahut Pandu masih dengan nada tegasnya.
"Bu Risma pergi kerumah sakit, Pak! Sudah sejak tadi." sahut mbak Romlah jujur dan membuat Pandu langsung panik. Hingga lupa mengakhiri panggilan tanpa salam dan membuat mbak Romlah bingung dibuatnya.
Tanpa pikir panjang, Pandu bergegas pergi kerumah sakit, tak lupa memberitahu pada salah satu anggotanya kalau akan pergi kerumah sakit lantaran istrinya tengah dirawat di sana.
Pandu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tak butuh waktu lama untuk sampai di pelataran rumah sakit dimana Risma tengah di rawat.
Pandu berlari menyusuri setiap lorong rumah sakit, menuju ruang dimana dulu istrinya pernah dirawat, instingnya mengatakan begitu pada hati kecilnya.
__ADS_1
Dan benar saja, terlihat Risma tengah terpejam dengan tubuh lemahnya.
Pandu memasuki ruangan dengan langkah gontai dan matanya menatap tajam pada sosok pria yang tengah duduk dengan manis di salah satu sofa empuk yang ada di ruangan.
Kedua mata lelaki yang mencinta wanita yang sama saling mengunci penuh kebencian.
"Apa yang anda lakukan di ruangan istri saya, dokter?" tekan Pandu menunjukkan ketidaksukaannya.
Dokter Abas hanya membalas dengan senyuman miring tanpa mau menanggapi ocehan Pandu.
Dan itu makin menyulut emosi Pandu yang tengah cemburu.
"Apakah begini cara anda dalam menangani pasien? Selalu menyempatkan waktu untuk menjaga pasien anda?" Pandu menatap tak suka pada dokter Abas yang menoleh ke arahnya.
"Tidak, karena Risma istimewa jadi saya harus menjaganya sendiri." sahut dokter Abas pada akhirnya. Dan sukses membuat Pandu emosi.
"Keterlaluan, apa anda lupa, jika wanita yang anda anggap istimewa itu adalah istri dari pria lain?" Sahut Pandu emosi dan ingin sekali memukul laki laki yang ada di hadapannya.
Bukannya takut, justru dokter Abas tersenyum penuh arti dan mengalihkan pandangannya pada Risma yang masih tertidur nyenyak, akibat terkena efek obat.
"Iya, saya tau. Risma memang memiliki suami, tapi apa dia diperlakukan layaknya seorang istri oleh suaminya, pak Pandu Aditama?" sahut dokter Abas tenang dan mematik kekesalan pada diri Pandu yang tak lagi bisa menahan emosinya dan membuatnya mencengkram erat jas putih milik dokter Abas.
Disaat keadaan mulai diliputi ketegangan, ponsel milik Pandu bergetar, terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari Clara sejak sepuluh menit yang lalu. Namun ada pesan yang Clara kirim, sukses membuat Pandu tertegun dan semakin frustasi.
Clara mengatakan sudah ada di Madiun dan sedang menunggunya di depan kantor.
Pandu meraup wajahnya kasar, bingung harus bagaimana, menemani Risma yang sedang berjuang melawan sakitnya, atau menemui Clara agar tidak semakin berbuat nekad masuk ke dalam kantornya.
__ADS_1
"Ah sialan, kenapa juga Clara bisa keras kepala seperti ini." Pandu memaki dalam hatinya, dan meninggalkan dokter Abas, lalu berjalan menuju ke dekat Risma yang tengah berbaring dengan tidur pulas nya.
"Maafkan aku, aku harus pergi karena ada urusan yang harus aku selesaikan, hanya sebentar. Nanti aku akan kembali menemani kamu di sini." Pandu menatap dalam wajah pucat sang istri, mengelus pucuk kepalanya, lalu mengecupnya dan pergi meninggalkan ruangan tanpa menoleh pada dokter Abas yang sedari tadi menatap tingkahnya.