Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
kecewa yang berujung sesal


__ADS_3

"Mau kamu apa, kita harus gimana?" sahut Pandu setelah beberapa saat terdiam.


"Aku mau, kamu memilih antara aku dan Risma?


Karena aku tak sanggup, kalau harus terus menahan sakitnya cemburu." balas Clara dengan mata yang basah dengan air mata.


"Jangan bicara aneh aneh Clara, aku tidak bisa memilih salah satu diantara kalian, aku tidak mungkin melepaskan Risma, dia istriku yang menemaniku hingga aku bisa seperti ini, dan pasti ada hati anak anak yang akan dipertaruhkan.


Kamu, kamu juga istriku, dan aku sayang dan cinta sama kamu. Tolong pahami dan belajarlah bersabar menerima ini semua." sahut Pandu tegas dengan sorot menatap lekat pada istri keduanya.


"Baiklah, aku mundur!


Aku akan berhenti sampai disini. Tapi sebelum itu, aku ingin semua orang tau, kalau aku juga istri dari Pandu Aditama." sahut Clara dengan sorot tajam dan penuh penekanan dalam setiap kalimatnya, dan itu mampu memantik kemarahan Pandu.


"Jangan berbuat anah aneh kamu!


Jangan buat karir yang aku dapatkan dengan susah payah hancur karena keegoisan kamu ini.


Dan pikirkan lagi apa yang akan kamu lakukan, sebelum kamu menyesalinya nanti.


Bahkan Risma yang sah istriku, yang hatinya kita lukai, yang setianya aku khianati, masih memikirkan nasib dan harga diriku, masih perduli dengan hati orang tua dan keluargaku. Tapi kenapa itu tidak ada dalam pikiran kamu?


Aku gak menyangka, kamu se egois ini Clara!


Kecewa aku, sangat kecewa!"


Pandu benar benar kecewa dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut perempuan yang sering dia kira cinta sejatinya. Perempuan yang selalu memikat hatinya karena kecantikan, dan kebaikannya. Namun kini baru Pandu sadari, jika Clara tak sebaik apa yang dia kira.


"Apa aku salah, Mas?


Apa aku salah, jika aku iri pada istri kamu?


Aku ingin kamu perlakukan sama seperti dia, aku ingin keberadaan aku di akui dan di anggap oleh semua orang, aku ingin bebas berjalan dan bertemu dengan kamu, kapan saja dan dimana saja. Aku ingin memiliki dirimu seutuhnya, hanya itu, hanya itu keinginan aku!" sahut Clara mulai melunak dengan air mata yang terus berjatuhan seiring rasa sakit di hatinya oleh sikap Pandu yang tak seperti dia duga.


Pandu kembali mengusap wajahnya kasar dan mulai menyalakan mobilnya.

__ADS_1


Kita cari tempat, agar bisa bicara lebih tenang. Istighfar lah Clara, pikirkan kembali keputusan kamu itu. Jangan paksa aku melakukan sesuatu yang semakin membuat kamu sakit hati." sahut Pandu datar, dan mulai melajukan mobilnya kembali.


Berhenti di depan salah satu hotel di Madiun.


Favehotel jadi pilihan Pandu.


"Turun dan istirahatlah dulu, karena aku harus kembali bekerja. Setelah itu, kita akan bicara lagi setelah aku pulang dari kerja. Pikirkan baik baik pilihan kamu itu." kembali Pandu mengeluarkan suaranya dengan wajah yang tak seperti biasa. Jelas sekali gurat kecewa dan amarah yang menguasai wajah tegas itu.


Clara hanya diam membisu, ancamannya sedikitpun tidak mempengaruhi Pandu, justru Pandu bersikap sebaliknya dari apa yang Clara duga. Dingin bahkan semakin menjauh.


"Mas!" Clara menahan lengan Pandu dan menatapnya lekat sebelum Pandu keluar dari mobilnya.


"Kita masuk dulu, kita lanjutkan nanti bicaranya." balas Pandu dingin dan melepaskan cekalan tangan Clara, lantas keluar dari mobil dan berjalan menuju hotel lalu memesan kamar buat istri keduanya. Dengan langkah berat, Clara mengikuti Pandu dari belakang.


Kamar nomor dua ratus sembilan puluh enam.


Pandu terus berjalan yang di Pandu oleh salah satu petugas hotel, dengan langkah tegap dan penuh wibawa.


"Terimakasih." ucap Pandu datar pada petugas hotel dan langsung memasuki kamar yang lumayan luas dan rapi.


Clara memilih diam dan meletakkan tas bawaannya, mendaratkan tubuhnya di atas kasur empuk, berharap Pandu akan menyentuhnya seperti biasanya.


"Mas!


Kamu marah sama aku?


Kamu membenciku, Mas?" sahut Clara berkaca kaca dan mulai memasang wajah sedihnya.


"Pikirkan, apakah sikap kamu ini sudah benar?


Aku kecewa sama kamu, Clara!


Aku benci perempuan keras kepala yang egois.


Benahi cara berpikir mu dan sikap semau kamu itu, sebelum aku benar benar hilang rasa dan mengakhiri semuanya." Sahut Pandu penuh penekanan. Dan sukses membuat Clara membekap mulutnya tak percaya, air matanya kembali deras mengalir seiring rasa sakit yang lebih dahsyat dari sebelumnya.

__ADS_1


Pandu menghembuskan nafasnya dalam, lalu memilih melangkah pergi meninggalkan Clara sendiri di hotel. Pikirannya di penuhi tentang keadaan istri pertamanya yang tengah terbaring lemah dirumah sakit, belum lagi rasa cemburunya kepada dokter Abas yang terang terangan menyatakan perasaannya pada istrinya.


Pandu mempercepat langkahnya, ingin segera kembali ke rumah sakit dan menemani Risma melawan rasa sakitnya. Kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berlari melewati setiap lorong rumah sakit.


Saa sudah sampai di depan pintu kamar rawat sang istri, matanya ternodai dengan pemandangan yang begitu menyakiti hatinya.


Terlihat dokter Abas tengah menggenggam tangan istrinya begitu erat.


Pandu melangkahkan kakinya lebar seiring jantung yang berdetak kian cepat. Amarah benar benar membuatnya tak terkendali. Cemburu dan tak terima, jika sang istri disentuh oleh laki laki lain selain dirinya.


"Apa apaan ini?


Lepaskan tangan anda dari tangan istri saya!" teriak Pandu dan menarik kemeja dokter Abas dengan kasar. Kedua mata Pandu maupun dokter Abas saling menatap tajam.


"Cukup!


Hentikan, Mas!" suara Risma membuat Pandu menoleh dan melepaskan cengkraman tangannya di baju dokter yang selalu membuatnya di landa api cemburu.


"Jangan buat malu dan mengundang perhatian banyak orang, kamu masih memakai seragam dinas mu, jangan permalukan dirimu sendiri, Mas!


Hanya karena emosi kamu itu." sambung Risma dengan tatapan dingin yang diarahkan pada Pandu yang tengah mengepalkan kedua tangannya.


"Apa kalian saling mencintai?" sahut Pandu datar dengan wajah yang sudah memerah.


"Maksud kamu apa, Mas?" kembali Risma mengambil alih jawaban dan menatap lekat ke arah suaminya yang bahkan enggan berpaling padanya.


"Sekali lagi, apa kalian saling mencintai?


Katakan padaku, karena aku akan ikhlaskan jika memang kalian ingin menyatukan perasaan itu." sahut Pandu dengan menahan rasa sakit di hatinya.


Dokter Abas memilih diam dan melirik Risma yang menghembuskan nafasnya kasar.


"Sudahlah, Mas!


Jangan bicara ngawur dan berpikiran aneh aneh.

__ADS_1


Aku tidak seperti kamu dan Clara. Dan apa yang kamu lihat tidak seperti yang ada dalam pikiran kamu!"


Sahut Risma dingin dan hampir tidak perduli dengan Pandu yang cemburu, namun Risma juga tak ingin di pandang rendah karena salah paham tentang hubungannya dengan dokter yang sudah dia anggap kakaknya sendiri.


__ADS_2