
"Terserah anda bagaimana menilai saya, tapi yang pasti, saya bukan perempuan munafik yang ingin menjalin hubungan diam diam dengan laki orang.
Saya berani mengatakan isi hati saya dihadapan istrinya, ditolak tak masalah, tapi saya punya seribu cara untuk meraih apa yang ingin saya raih, termasuk dengan Pandu Aditama!" Sahut Erna dengan tatapan tajamnya dan seketika membuat Sandi langsung mengerutkan dahinya.
"Jangan macam macam dengan mengganggu rumah tangganya Risma. Karena saya tidak akan tinggal diam. Ingat itu!" Balas Sandi dingin dan menatap penuh intimidasi pada Erna yang justru menyungging kan senyum sinis ke arah Sandi yang mulai terusik emosinya.
"Maaf, saya tidak gentar sama sekali dengan gertakan anda, Pak Sandi!" Erna menekan setiap kalimatnya dengan menatap penuh pada Sandi yang sudah terlihat rahangnya mengeras penuh dengan emosi.
"Hati hati dengan sikap anda, mbak!
Karena sekali saja, kamu melakukan kesalahan fatal, hidupmu akan sia sia dengan penyesalan!
Ingat itu! Saya tidak akan biarkan kamu merusak rumah tangga keluarga saya!
Maaf, rasanya hilang hormat saya untuk menghargai kamu, pantas saja Risma dan Pandu hilang kesabaran menghadapi kamu, perempuan sepertimu tidak pantas untuk dihargai!
Permisi!" Sandi menatap tajam pada Erna dengan penuh ketidaksukaan, rahangnya mengeras menahan amarah, Sandi memilih meninggalkan Erna begitu saja, sebelum kesabarannya benar benar habis oleh sikap Erna yang menyebalkan baginya.
"Bodoh amat." sahut Erna seolah tak perduli dengan ancaman Sandi. Erna tetap memasang wajah tenang dan terkesan cuek. Erna justru tertantang untuk membuat masalah dengan Sandi dan juga Pandu. Bagi Erna mereka adalah orang orang punya ketegasan dan tidak mudah tergoda, sehingga sisi angkuhnya semakin tertantang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pandu kembali bekerja setelah selesai dengan cutinya, meskipun hanya beberapa hari, setidaknya sudah bisa membuat keluarganya bahagia.
"Ma!
Kamu waktunya pergi ke dokter kan hari ini?"
Sebelum berangkat ke kantor, Pandu ingat kalau hari ini adalah jadwal Risma harus kerumah sakit.
"Iya, Pa!
Gak papa aku pergi sendiri, lagian juga gak jauh kan rumah sakitnya. Kamu ke kantor saja, insyaallah aku baik baik saja!" sahut Risma tersenyum dan menampakkan wajah teduhnya, meyakinkan suaminya kalau dirinya akan baik baik saja.
"Tapi aku gak tega kamu pergi sendirian.
Jadwalnya periksa nya jam berapa?" Pandu Masih tak tenang membiarkan istrinya pergi sendirian, apalagi sedang hamil dan tak ingin Dokter Abas mencari kesempatan untuk mendekati Istrinya.
"Jam sebelas. Kamu kerja saja, aku beneran gak papa, doain baik baik saja, aku dan calon anak kita sama sama sehat." sahut Risma tenang dan masih berusaha meyakinkan suaminya kalau semua akan baik baik saja.
"Insyaallah nanti aku jemput jam sebelas. Jangan pergi sendiri. Aku gak mau kamu kenapa kenapa, karena aku akan sangat merasa bersalah. Kamu mengerti kan sayang?" Pandu tetap ingin mengantar Risma, sejak kejadian Risma pingsan di jalan waktu itu, Pandu sama sekali tidak membiarkan Risma pergi sendirian.
"Baiklah, aku akan nunggu kamu jemput.
Makasih ya, Pa!" Risma menatap kagum pada suaminya yang juga tengah menatapnya penuh cinta. Mereka saling beradu pandang cukup lama dengan perasaan masing-masing. Sampai akhirnya Pandu meraih tubuh istrinya dan memeluknya, mencium pucuk kepalanya lama.
"Aku berangkat! Hati hati dirumah!
__ADS_1
Asalamualaikum!" Pandu melepaskan pelukannya dan melangkahkan kakinya menuju mobil, berangkat dengan perasaan yang selalu diwarnai kebahagiaan dan cinta yang semakin dalam pada sang istri. Pandu sudah sangat tergila gila dengan Risma, meskipun cinta yang terlambat disadarinya, namun kini cinta itu jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Risma menatap kepergian suaminya dengan melambaikan tangannya, terukir senyuman yang begitu manis dari bibirnya. Serta doa doa kebaikan selalu Risma lontarkan di dalam hatinya mengiringi setiap langkah suaminya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sandi memerkirakan mobilnya di halaman tanpa memasukkan langsung ke garasi.
Sandi berniat mengajak Clara serta Dania jalan jalan.
Pikirannya yang tak stabil ulah Erna, membuatnya butuh refreshing untuk menetralkan hatinya yang sedikit terganggu.
Clara yang menyadari kepulangan suaminya, langsung menyambut kedatangan Sandi dan mengambil tas kerjanya, meraih tangan suaminya menciumnya takzim.
Clara ingin menjadikan semua itu ritual kesehariannya, sebagai bentuk usahanya untuk meluluhkan hati suaminya. Meskipun hatinya selalu menyimpan perih setiap saat.
Sandi berusaha untuk menerima perlakuan Clara yang berusaha meraih hatinya kembali.
"Kamu siap siap gih, kita jalan jalan sama Dania!
Aku akan mandi dulu." Sandi bicara dengan sambil melepas dasinya, sedangkan Clara langsung mengerjap tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kok bengong!
Kita jalan jalan, aku ingin menikmati waktu dengan istri dan anakku.
"Em, iya mas!
Aku akan siap siap dulu!" Sahut Clara gugup, dan langsung menuju kamar Dania yang tengah bermain dengan pembantunya.
"Bi, tolong gantiin baju Dania dengan baju yang lebih hangat ya, dan tolong siapin keperluan Dania.
Papanya mau ajak jalan jalan soalnya. Minta tolong ya, Bi!
Aku mau ganti baju dulu dan juga siap siap!"
"Iya, Bu! Dania serahkan sama bibi, akan bibi dandanin yang cantik, oke cantik?" balas Bi Marni senang, melihat Clara yang terlihat ceria, Bi Marni sebenarnya kasihan melihat Clara yang selalu murung bahkan sering terlihat menangis sendirian.
"Makasih ya Bi!"
Clara langsung bersiap siap, mengganti gamisnya dengan yang lebih bagus, menyapu wajahnya dengan makeup tipis, tanpa polesan pun Clara sebenarnya sudah sangat cantik, kulitnya yang bersih dan mulus membuatnya terlihat cantik alami. Namun Clara ingin menghargai Sandi, memakai makeup tipis agar terlihat lebih fresh, menyenangkan suami adalah tujuannya, agar Sandi tak lagi menatap wanita lain di luaran sana, disaat disampingnya sudah ada wanita cantik yang sudah halal untuknya.
Saat Sandi keluar dari kamar mandi, Sandi dibuat terpana dengan penampilan Clara yang begitu anggun. Sampai Sandi tak berkedip dari menatap wanita yang sudah halal disentuh olehnya. Dadanya berdebar begitu hebat, perasaan itu seperti hadir kembali, perasaan dimana saat pertama kali, Sandi merasa jatuh hati pada wanita yang ada dihadapannya.
Kadang butuh bertahun untuk semenit keputusan..
Kadang perlu ratusan kilo meter untuk sesenti meter kepastian..
__ADS_1
Ada kalanya jembatan tergantung tanpa tali kepastian..
Ada ragu untuk melangkah ke episode selanjutnya..
Perjalanan panjang bagai mencari sang mentari bersanding dengan rembulan di puncak menara kota yang hilang..
Sayangnya aku bukan insan bijak untuk terjemahkan misteri itu..
Namun kini makhluk Ciptaan Mu hadir begitu indah .
Menyejukkan mata dan juga hati.
Haruskah aku kembali meraihnya dalam sebuah keikhlasan dari kesalahan masa lalunya.
Yang tak seharusnya menjadi duri di jalan yang akan ku lalui.
Sandi tak bisa berucap apapun selain menatap kagum pada istrinya sendiri, berperang dengan hati dan juga pikirannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1