
"Boleh dong!
Tapi nanti kalau adiknya sudah lahir, Dania harus tidur di kamar Dania ya. Kan Dania sudah besar, harus bisa menjaga adik nanti, ya sayang?" Clara memberi pengertian pada Dania yang langsung terlihat senang dan merebahkan tubuhnya di tengah-tengah papa dan mamanya.
Melihat sikap lucu Dania, Sandi maupun Clara tertawa, sejenak melupakan masalah yang tengah menghimpit mereka.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Erna termenung di dalam kamarnya, memikirkan perkataan umi Zara tentang perjodohan antara dirinya dengan anak dari saudara nya Abah Faizal.
Tidak Lain adalah dokter Abas yang masih betah sendiri sampai saat ini, sehingga membuat orangtuanya kembali sibuk mencarikan jodoh, lantaran usia Dokter Abas yang sudah tidak muda lagi.
"Kok ngelamun, gak boleh ah pamali!" tiba tiba Aisyah datang dan duduk di atas ranjangnya, menatap heran ke arah Erna yang terlihat cemas dengan tatapan kosong.
"Ada apa?
Apa kamu sedang memikirkan tawaran umi?" Aisyah tersenyum tipis dan menghampiri Erna lalu duduk disampingnya.
"Percaya saja, pilihan umi dan Abah pasti baik.
Mereka tidak akan sembarangan menjodohkan.
Dan aku itu kenal banget dengan mas Abas, dia itu dokter, tapi ya itu orangnya dingin banget dengan perempuan. Karena pernah patah hati." terang Aisyah tanpa Erna minta.
"Patah hati?" Erna mengernyitkan dahinya, menatap penasaran ke arah Aisyah yang tengah menarik nafasnya dalam.
"Iya! Mas Abas patah hati, karena wanita yang dia inginkan, menikah dengan laki laki lain.
Meskipun begitu, mas Abas selaku menunggunya, tapi ternyata kehidupan perempuan itu semakin bahagia dengan keluarga kecilnya. Hingga mas Abas memutuskan untuk pergi, menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Dan berniat membuang bayang wanita itu." sahut Aisyah jujur, dengan mengatakan apa yang dia tau.
Erna terdiam, hatinya semakin gelisah.
Lantaran menganggap kalau dirinya nanti hanyalah sebagai bentuk pelarian, sedangkan hati Abas masih buat wanita itu.
"Kenapa?
Kamu meragukan mas Abas?" selidik Aisyah dengan tatapan lekat, mencari kejujuran dari sorot matanya Erna.
"Iya!
Jujur aku takut kalau wanita itu masih mengisi hari dokter Abas, dan pernikahan kami hanya untuk pelengkap dan menyenangkan keluarganya saja. Aku takut, mbak!" sahut Erna jujur dengan apa yang kini tengah dipikirkannya.
"Astagfirullah! Mas Abas tidak akan melakukan itu. Beliau sangat paham agama dan begitu menjaga serta menghormati perempuan.
Tapi ada baiknya kalian ngobrol dulu. Keluarkan isi hati dan kecemasan yang ada, biar tidak menyesal di belakang hari.
Tapi aku tetep yakin, mas Abas bukan tipe kaki laki seperti itu, dia baik." sahut Aisyah yakin, karena sangat paham dengan karakter dokter Abas.
__ADS_1
"Aku juga takut, bahkan malu dengan masa laluku, apakah dokter Abas dan keluarganya sudah tau dengan masa laluku?
Takutnya mereka malu dan tidak bisa menerima aku di masa lalu." balas Erna d Ngan menunduk dalam, hatinya benar benar sangat cemas.
"Abah dan umi pasti sudah mengatakan semua itu, Er!
jika mereka masih meneruskan perjodohan, itu artinya mereka mau menerima kamu tanpa menoleh ke masa lalu kamu. Fokus saja ke masa depan.
Dan kalau kamu masih ragu, bicarakan semua yang mengganjal di hatimu dengan mas Abas, insyaallah beliau itu sabar banget, orangnya juga sangat bijak." sahut Aisyah meyakinkan dan mendukung perjodohan antara Erna dan dokter Abas.
"Terimakasih ya mbak!
Nanti aku akan minta ijin ke umi untuk bicara dengan dokter Abas, semoga di ijinkan." sahut e na yang sedikit tenang karena ada Aisyah yang mau diajak bicara dan memberikan solusi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Semenjak Clara mengatakan niatnya untuk menemui Risma pada Sandi dan Sandi juga setuju.
Kesehatan Clara berangsur membaik, dan badannya sudah tidak lemah lagi.
Clara terus meningkatkan nafsu makannya, bertekad untuk sehat, agar segera bisa menemui dan meminta maaf kepada Risma.
Menyelesaikan luka yang dulu ia ciptakan oleh keegoisannya sendiri.
"Mas, aku sudah merasa enakkan. Badanku juga sudah gak les lagi.
"Beneran kamu sudah baik baik saja?
Jangan paksakan kalau masih ngerasa gak enak dan mual." sahut Sandi dengan tatapan penuh selidik, memastikan apa yang diucapkan istrinya adalah benar.
"Insyaallah, Mas! aku sudah lebih baik kok.
Dan insyaallah sudah kuat pergi ke Madiun." sahut Clara dengan tersenyum manis, membuat Sandi gak tega untuk menolaknya, apalagi tujuan Clara baik dan tulus.
"Lusa ya, sekalian pas hari Sabtu.
Nanti mampir kerumah mama dan menginap disana bersama Dania juga. Tapi pas ke rumah Risma, cukup kita berdua saja. Gimana?"
balas Sandi dengan tenang dan yakin jika semua pasti akan baik baik saja, selama status Dania masih tetap disimpan.
"Alhamdulillah, terimakasih ya mas!" sahut Clara senang dan melanjutkan kembali acara makannya.
Clara dengan lahapnya menghabiskan makanan dalam piringnya, dan juga mencoba makanan yang lain yang belum ia makan.
Sandi tersenyum dengan nafsu makan istrinya yang meningkat, itu jauh lebih baik dari pada terus terbaring lemah.
"Makannya pelan pelan, Ra!" sahut Sandi tersenyum dengan mata terus tertuju pada Istrinya yang terus asik mengunyah.
__ADS_1
"Apa kamu keberatan kalau aku gemuk, mas?
Karena tiba tiba nafsu makanku meningkat.
Rasanya pingin makan terus dan lapar aja bawaannya!" keluh Clara dengan menatap cemas kepada suaminya.
"Gak masalah, kamu kan memang sedang hamil.
Lebih baik kamu sehat begini, meskipun badan kamu jadi gemuk, anak kita juga ikut tumbuh dengan sehat di dalam sana.
Dari pada kamu sakit dan terlihat lemah, itu akan berbahaya untuk kesehatan calon bayi kita.
Jangan mikir aneh aneh lagi.
Fokus saja dengan kehamilan kamu." sahut Sandi jujur, yang memang tak perduli dengan perubahan bentuk tubuh istrinya, asal sehat dan calon bayinya bisa berkembang dengan baik, bagi Sandi sudah lebih dari cukup.
"Makasih ya mas!
Aku janji nanti setelah lahiran, akan merawat tubuhku lagi." balas Clara tersenyum dan kembali mengambil makanannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️