
"Oh begitu, semoga sukses dan bertemu jodoh disana, mas Abas laki laki yang baik dan Sholeh, insyaallah akan bertemu jodoh yang baik dan shalihah juga, Aamiin.
Kapan mau berangkat?" Risma berusaha untuk tetap bersikap ramah, tenang dan biasa saja.
Agar Abas tak terus menganggapnya butuh kehadirannya.
"Insyaallah, besok!" Sahut dokter Abas lirih, berharap Risma juga merasa kehilangan dengan kepergiannya, namun justru Risma bersikap biasa biasa saja dan mendoakan dirinya untuk bertemu jodoh di Bandung. Hatinya kembali nyeri karena cinta yang tak pernah terbalas sampai kapanpun.
"Tolong terima ini, anggap ini hadiah kakak buat adiknya. Dan saat nanti kamu lahiran aku juga sudah tidak di Madiun, dan gak bisa berikan kado kado ini buat debay. Terima ya, aku harap kamu sehat sehat terus sama debaynya." Dokter Abas menyodorkan tiga kotak kado pada Risma, isinya keperluan bayi, Abas hanya ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat sebagai sahabat, kakak dan juga lelaki yang sangat menyayangi Risma.
"Ini apa?
Kenapa, Mas repot repot?" sahut Risma menatap tiga kotak ukuran sedang di atas meja, dengan rasa sungkan.
"Haduh buat calon bayi, dan juga untuk Cinta dan Galang. Semoga mereka senang.
Aku ingin mereka mengingatku sebagai omnya dan seseorang yang juga menyayangi mereka." sahut Abas dengan nada yang terbata, ada rasa sedih yang harus ditekannya, agar tidak terlihat cengeng dan rapuh di hadapan Risma.
Abah selalu ingin terlihat kuat dan tegar apapun keadaan hatinya. Dan kini dia juga harus benar benar melepas perasaannya dan mencoba menjalani kehidupan barunya di kota lain, kota yang konon katanya banyak dihuni wanita wanita cantik.
"Mana ibu dan ayah?
Aku ingin berpamitan dengan mereka juga, mau minta doa dan restu sebagai orang tua, agar Jalan yang aku pilih lebih terasa berkahnya." dokter Abas memang sudah kenal baik dengan keluarga Risma, Bu Fatma juga begitu sayang dengan Abas karena dulu sering bermain bersama anak anaknya dan menjadi tetangga yang selalu ramah dan tidak sombong meskipun Abas lahir dari keluarga terpandang.
"Sebentar aku panggilkan ya!" Risma beranjak dari duduknya, dan melihat ayahnya muncul keluar dari kamar tamu, langsung disambut Risma dan memintanya untuk menemani dokter Abas, sementara dirinya memanggil sang ibu tercinta di teras belakang.
"Panjang umur, itu ayah!" tunjuk Risma dan berjalan menghampiri laki laki terkasihnya.
"Ayah! mas Abas mau pamitan, Ayah temani dulu ya, ajak ngobrol! Risma mau panggil ibu dibelakang dulu." Risma menuntun ayahnya dengan manja mendekat pada Abas, lalu meninggalkan mereka kebelakang untuk memanggil ibunya.
"Apa kabar, ayah?" sambut Abas sopan dan langsung mencium punggung tangan ayahnya Risma dengan takzim.
"Alhamdulillah, sehat dan semakin tua!
Kamu katanya mau pamitan, mau pergi kemana?"
__ADS_1
"Iya, ayah! Abas mau pindah Bandung, papa buka klinik disana, dan minta Abas yang mengelola.
Doain, semoga Abas diberi kemampuan dan bisa bermanfaat bagi orang banyak."
"Aamiin! Kamu dan orang tua kamu itu orang baik. Insyaallah kebaikan kebaikan akan terus membersamai kalian ya! Doa ayah buat kamu akan terus mengalir."
"Aamiin, terimakasih ayah!
Semoga ayah juga sehat sehat terus."
Mereka ngobrol dengan akrab, seperti ayah dan anak, tidak canggung karena sudah lama dekat dan Abas sering minta nasehat saat tengah ada masalah pada ayahnya Risma. Tidak ada yang tau jika mereka sering bertemu dan saling bertukar pikiran, apalagi saat Risma dan Pandu ada dalam masalah, Abas lah yang menjadi jembatan orang tua Risma untuk menjaga dan melindungi Risma, agar tak terlihat begitu ikut campur orang tuanya. Namun mereka punya cara sendiri untuk melindungi anak kesayangannya. Melalui dokter Abas Risma selalu di jaga dan dilindungi, bahkan Pandu dibuat merasakan cemburu agar menyadari kalau cinta itu ada di hatinya untuk istrinya. Dan pada akhirnya mereka bisa bersatu kembali dan Pandu benar benar menyadari perasaannya dan menyesali perbuatannya.
Peran dokter Abas memang sangat besar sekali untuk kebahagiaan Risma. Karena cinta itu tak melihat balasan, dengan menatap kebahagiaan yang dicintai, juga menjadi kebahagiaan tersendiri, itulah cinta yang sesungguhnya, cinta yang tak memaksa harus menerima balasan perasaan yang sama. Cinta dokter Abas pada Risma sungguh sungguh murni lahir dari lubuk hatinya yang terdalam dan kini itu harus dilepaskan dan harus dikubur dalam dalam demi menatap masa depan, karena wanita yang dicintainya telah menemukan kebahagiaannya. Dia harus iklas dan menerimanya, karena itu adakah takdir yang tak bisa di tolak.
"Abas!" suara Bu Fatma mengagetkan Abas yang tengah berperang dengan hatinya sendiri, antara harus atau akan tetap menyimpan satu nama yang sulit hilang dari ingatan.
"Ibu!" Abas mengerjap dan menatap semua orang tengah mengerutkan wajahnya menatap dirinya.
"Kok lihatin aku begitu banget ya, ada apa nih?" kelakar Abas menutupi rasa malunya karena ketahuan melamun.
"Eh gak kok. Aku hanya ingat kenangan dulu saja.
Rasanya berat ya ninggalin kenangan itu?" hehehe Abas berkelakar mencari jawaban untuk menutupi perih di hatinya. Meskipun memaksakan untuk tersenyum, sesungguhnya Risma tau apa yang sebenarnya Abas rasakan, namun memilih diam untuk menjaga hati semua orang dan hatinya sendiri.
Setelah lama ngobrol kesana kemari, dengan banyak nasehat dari orang tuanya Risma. Akhirnya Abas berpamitan untuk kembali pulang, harus siap siap karena besok akan berangkat ke Bandung pagi pagi dengan naik mobil pribadi, butuh tenaga yang fit dan juga istirahat yang cukup.
"Semoga lancar dan sukses ya, doa kamu selalu menyertai langkah kamu!" ucap Bu Fatma lembut dengan mengusap lengan dokter Abas penuh kasih sayang.
"Aamiin, terimakasih Bu. Semoga ibu juga terus sehat sehat dan awet muda, biar cantik terus!" sahut Abas dengan tawa renyahnya, mencoba bersikap biasa saja agar tak terlihat duka di hatinya.
"Kalau sudah ketemu jodoh disana segera halalkan, dan jangan lupa kabari kami disini." sahut Risma dengan senyuman manisnya, semakin membuat Abas merasakan sesak di ulu hatinya.
Semua menatap kepergian Abas hingga mobilnya tak terlihat lagi dari pandangan.
"Abas masih begitu mencintai kamu, nduk!
__ADS_1
Ayah bisa melihat dari sorot matanya itu, banyak duka yang dipendamnya." Risma terpaku mendengar ucapan ayahnya, ternyata bukan hanya dirinya saja yang merasakan itu, tetapi ayahnya juga tau seperti apa perasaan Abas kepadanya.
"Tapi Risma yakin, Mas Abas akan bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik dari Risma, yah. Insyaallah!" sahut Risma tenang dan mengulas senyum tipis di bibirnya yang indah.
"Aamiin, kita doakan yang terbaik untuknya, karena Abas orang baik!" sahut Bu Fatma bijak dan mengusap punggung anak perempuannya lembut dengan tatapan penuh arti, membuat Risma selalu nyaman berada di dekat sang ibu yang selalu memahami isi hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1