Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Cinta seorang ayah


__ADS_3

"Kita mandi, dan ganti bajumu dengan yang lain. Karena yang itu sudah kusut." Sandi berdiri dan menuju kamar mandi membersihkan diri. Sedangkan Clara tersenyum dan tak tau apa yang tengah ada di hatinya.


Saat diranjang Sandi begitu memabukkan, namun sikapnya berubah dingin setelah hasratnya terpenuhi. Namun Clara berusaha untuk menerima dan memahami kepribadian suaminya yang memang belum stabil menerima kehadirannya.


"Aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali, mas!


Karena aku tidak ingin gagal lagi dalam mempertahankan rumah tanggaku." lirih Clara dengan senyuman tipis dan mulai memunguti pakaian yang berserakan dan memakai baju lalu menuju kamar mandi yang ada diluar kamar dan membersihkan diri. Karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul sebelas siang.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Kenapa bisa terlambat di acara sepenting ini, Sandi?" Pak Hilman menatap tajam ke arah putranya yang tersenyum tipis, tangannya menggenggam erat tangan sang istri yang terlihat gugup dengan kalimat penuh penekanan sang mertua.


"Maaf, Pa!


Kami ada urusan yang tidak bisa ditunda.


Aku harap papa memakluminya, karena papa juga pernah muda dan mengalami apa pengantin baru itu!" sahut Sandi santai dan membuat pak Hilman membuang nafasnya kasar dengan tingkah sang anak.


"Menikah sudah berbulan bulan kok masih saja pengantin baru! Dasar anak jaman sekarang!" gerutu pak Hilman yang kembali duduk di kursinya yang sudah disiapkan khusus untuk dirinya dan keluarga.


Acara penyambutan dan penyerahan jabatan berlangsung meriah dan lancar. Clara yang hanya berani diam dan tersenyum, duduk di tempatnya. Takut membuat kesalahan dan membuat Sandi malu. Kaku dan terkesan gugup. Namun Sandi selalu berusaha untuk menenangkan sang istri agar tidak jadi omongan. Karena kecantikan Clara selalu jadi perhatian para undangan.


Acara selesai dan Sandi memilih mengajak Clara pulang duluan tanpa mengikuti acara pesta kecil kecilan yang diadakan pak Hilman.


"Pa! Kami pamit pulang duluan ya. Kasihan Dania kalau ditinggal terlalu lama dirumah dengan pengasuh." Sandi berpamitan dengan orang tuanya dan setelah mendapat ijin, Sandi langsung berlalu pergi meninggalkan acara bersama Clara.


"Jangan gugup dan kaku seperti tadi, mulai biasakan dirimu dengan hal hal seperti itu, karena setelah ini, kamu akan sering menemaniku dalam setiap acara!" Sandi menatap dingin pada Clara yang terlihat menunduk dalam.


"Masuklah, kita pulang sekarang!" Sandi membuka pintu mobilnya dan mulai duduk dibelakang kemudi, Clara pun juga sudah duduk disampingnya dengan perasaan bersalah.


"Maaf, kalau aku sudah membuat mas Sandi malu!" Clara mengeluarkan suaranya, menatap Sandi dengan perasaan tak biasa.


"Sudahlah, mungkin kamu belum terbiasa. Setelah ini biasakan dirimu. Jangan terlalu dipikirkan." Sahut Sandi datar dan mulai menjalankan mesin mobilnya, berlahan meninggalkan halaman kantornya, menyusuri jalanan yang sudah padat dengan kendaraan lalu lalang.

__ADS_1


"Mas!" Ditengah perjalanan Clara memberanikan diri untuk meminta ijin pada Sandi kalau akan bertemu dengan Erna dan berniat jalan jalan.


"Iya!" sahut Sandi singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Aku mau minta ijin, besok aku mau keluar dengan temanku, karena lusa dia harus kembali ke Jakarta. Boleh?" Clara bicara sangat hati hati dan berharap Sandi mengijinkan dirinya pergi.


"Kemana?" Sandi menoleh ke arah Clara yang tengah menatap lurus kedepan.


"Paling ke mall, makan dan nemenin dia belanja." sahut Clara dengan tersenyum tipis.


"Boleh, tapi jangan pulang terlalu sore. Aku pulang dari kantor, kamu harus ada di rumah. Dan belanjalah, beli apapun yang kamu butuhkan. Aku akan transfer uang belanja kamu, gunakan membeli kebutuhan kamu dan Dania." Sandi bicara dengan wajah datar, meskipun begitu Sandi selalu berusaha untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami.


"Terimakasih, Mas!" sahut Clara singkat dengan tatapan lurus kedepan.


"Aku akan kasih kabar temanku, kalau kamu mengijinkan aku pergi. Sekali lagi terimakasih banyak, dia temanku dari kita masih kecil." Clara bercerita tanpa Sandi minta, dan Sandi hanya menanggapi dengan senyuman kecil.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pandu yang tengah berada di sebuah hotel tengah menikmati waktu istirahatnya. Melakukan Vidio call dengan istri dan anak anaknya. Canda juga keceriaan anak anaknya membuat Pandu tertawa dan selalu rindu dengan kelucuan mereka.


"Masih lama sayang, papa di Surabaya dua Minggu, Galang jaga mama sama mbak Cinta ya. Galang kan anak laki laki, harus bisa jaga mama dan kakaknya dengan baik. Kan jagoan!" sahut Pandu menatap sayang pada kedua buah hatinya yang juga fokus dengan nya.


"Siap Papa!


Galang kan jagoan, Galang akan jadi pelindung mama dan mbak Cinta, menggantikan papa. Galang hebat kan, Pa?" sahut Galang dengan lucunya, membuat semua tertawa dengan kepintaran Galang yang sangat mudah menyerap semua pelajaran yang diberikan padanya.


"Mbak Cinta, kok diam saja, ada apa nak?" Pandu ganti mengalihkan pandangannya kepada anak perempuannya yang terlihat pendiam tidak seperti biasanya yang banyak bicara saat ngobrol dengannya.


"Cinta, kangen papa! Kenapa sih papa sering pergi pergi?" sahut Cinta dengan wajah yang ditekuk. Membuat Pandu dan Risma saling bertatapan lewat layar datar mereka.


"Papa kan sedang ada tugas, nak. Dan papa juga wajib menyelesaikan pekerjaan papa, yang sabar ya sayang, kan tiap hari kita bisa telponan. Mbak Cinta anak pinter kan?" balas Pandu yang berusaha memahami perasaan sang anak dan menjelaskan sesuai dengan bahasa mereka dengan sabar dan senyuman hangat.


"Tapi papa janji, disana gak boleh main main. Cuma kerja saja, janji ya?

__ADS_1


Mainnya sama Cinta, dek Galang dan mama saja!" sahut cinta dengan mata mengerjap dan mulut di manyunkan, membuat Pandu gemas dengan tingkah anak kesayangan nya.


"Iya sayang, papa gak akan macam macam kok. Papa disini cuma kerja. Pulang kerja papa langsung ke hotel istirahat, terus telpon anak papa deh!" Pandu meyakinkan anak perempuannya yang mulai cemburu dan tak ingin papanya macam macam. Merasa begitu dicintai sang anak, membuat Pandu semakin merasa bersyukur dan terus berjanji untuk tidak lagi menyakiti mereka.


Karena keluarga adalah cinta yang benar benar sempurna untuknya, kasih sayang anak dan istrinya adalah kekuatan terhebat yang ada padanya.


Bahkan Pandu rela tidak kuasa dengan harta yang dimilikinya, menyerahkan semua pada istrinya untuk dikelola, bahkan Pandu menerima berapapun jatah yang diberikan istrinya untuk jadi pegangan dirinya. Tak masalah baginya, karena kini Pandu sudah benar benar iklas dan menyerahkan dirinya untuk anak dan istrinya, mencinta dan menjaga mereka dengan segenap hatinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️


__ADS_2