
"Risma akan berusaha untuk tetap bertahan, ayah tidak usah hawatir ya! Insyaallah Risma akan tetap baik baik saja. Dan akhir akhir ini, Risma melihat kesungguhan Mas Pandu untuk merubah sikap dinginnya itu, bahkan Risma selalu melihat kecemburuan di matanya pada Mas Abas. Mungkin mas Pandu sudah menyadari perasaannya. Namun Risma juga tak bisa begitu saja kembali menjatuhkan hati padanya lagi. Biarlah dia tersiksa dengan perasaannya sendiri. Risma hanya ingin membuatnya benar benar sadar jika tak selamanya cinta itu benar. Karena terkadang logika pun juga harus dipake agar hati tidak di perbudak oleh yang namanya cinta.
Mungkin saat ini, Mas Pandu sedang khilaf, dan Risma percaya Mas Pandu akan segera menyadari kesalahannya. Karena dia juga sangat menyayangi anak anak. Ayah, percaya kan sama Risma?"
Risma menatap dalam sang ayah dengan senyumannya, berusaha meyakinkan kalau dirinya baik baik saja. Karena rumah tangga butuh pemahaman yang luas, bukan hanya karena nafsu dan keegoisan begitu mudah menghancurkan kesuciannya. Ada banyak hati yang harus tetap di jaga dan percaya jika semua doa akan terdengar dan satu persatu terkabul.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Dua Minggu berlalu, dan hari ini, Pandu akan menjemput istri dan anak anaknya dirumah sang mertua. Dari sejak kemarin, Pandu sudah menyiapkan banyak kejutan untuk mereka. Merubah tampilan kamar kedua anaknya dengan memberi sedikit sentuhan pada ruangan yang tidak biasa, kamar cinta di hias secantik mungkin dengan dominan warna pink sesuai dengan kesukaannya, gambar princes mendominasi didinding, ranjang dan Sprai baru, meja belajar baru dan bufet kusus tempat boneka baru, dan hampir semua warna pink.
Pun dengan kamar Galang, anak lelakinya sangat suka dengan segala yang berkaitan dengan Doraemon, Pandu pun menghias kamar anak lelakinya dengan segala macam yang berbau tokoh kartun kesukaan jagoan kecilnya.
Untuk Risma, Pandu sudah menyiapkan satu set perhiasan yang indah, beberapa gamis cantik dengan bermacam warna, sepatu model terbaru dan tas cantik yang berharga fantastis, Pandu sudah menatanya begitu cantik di dalam kamar utama.
"Aku akan fokus untuk kebahagian mereka. Ya Robb ampuni kelalaian yang sudah kulakukan selama ini. Ijinkan aku agar bisa membenahi hati istriku yang sudah sangat terluka. Bismillah atas Ijin Mu aku ingin memperbaiki segalanya."
Pandu melajukan mobilnya menuju jalan raya, dengan masih memakai pakaian dinasnya Pandu menuju rumah sang mertua. Menyiapkan hati dan juga dirinya, agar tak lagi mengecewakan istri yang sudah begitu patuh dan selalu bersikap lemah lembut terhadapnya.
Hanya butuh waktu dua puluh lima menit, Pandu sampai di halaman rumah mertuanya yang sangat luas, Karena memang, Risma terlahir dari keluarga berada. Hanya tiga bersaudara, Risma satu satunya anak perempuan di keluarganya. Kakak dan adiknya laki laki. Kakaknya seorang anggota TNI yang bertugas di Jakarta dan sudah memiliki keluarga. Adiknya masih mengenyam bangku kuliah di salah satu universitas ternama di Surabaya.
Pandu membawa oleh oleh di kedua tangannya, melangkah dengan tegap memasuki rumah yang terlihat begitu asri.
"Asalamualaikum." Pandu mengucapkan salam saat kakinya memasuki rumah. Dan nampak Galang dan cinta langsung berlarian berhambur memeluk sang papa penuh rindu.
__ADS_1
"Waalaikumsallm. Papa!" teriak keduanya dengan wajah yang begitu menggemaskan.
Pandu menyambut kedua anaknya dengan wajah bahagia. Rindu yang menumpuk akhirnya tertuntaskan hari ini, memeluk keduanya begitu erat, menciumi satu satu bergantian dengan rasa rindu yang membuncah.
"kangen papa?" tanya Pandu menatap pada dua bocah kesayangannya.
"Banget, papa kenapa lama tugasnya. Tidak telpon kami juga. Kata mama, papa tugas di tempat yang sulit sinyal ya?" tanya Galang dengan begitu polosnya.
Pandu menatap Risma yang sudah berdiri tak jauh darinya, menatap dengan tatapan yang sulit di artikan. Pandu tersenyum dan paham dengan apa yang Galang tanyakan.
"Iya, sayang. Makanya sekarang papa kangen banget sama Galang juga mbak Cinta." sahut Pandu dan mulai berdiri membawa Galang dalam gendongannya. Sedangkan oleh oleh diletakkan begitu saja di atas meja, menghampiri Risma yang masih mematung menatapnya dalam diam.
"Apa kabar, Ma?
"Masuk, Mas! Istirahatlah dulu. Akan aku buatkan kopi dan siapkan makanan untukmu.
Ayah sama ibu masih pergi ke kondangan, sebentar lagi mereka akan kembali." sahut Risma masih dengan ekspresi dinginnya, namun berusaha tetap bicara lembut karena Pandu masih suami yang harus dihormati nya.
Memulihkan hati, tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun jika sudah berniat memperbaiki, akan berusaha sekuat tenaga agar tak lagi bersikap sama. Semua butuh proses dan waktu.
Pandu memilih duduk di ruang keluarga, masih dengan jeratan anak anaknya yang ingin bermanja, waktu dua Minggu membuat Galang dan Cinta merasa sangat merindukan sang papa.
Pandu dengan sabar dan penuh kasih sayang menyambut kerinduan mereka dengan cintanya.
__ADS_1
"Mau mandi dulu atau langsung makan?" Risma meletakkan secangkir kopi dengan sedikit gula kesukaan Pandu di atas meja, memberi perhatian seperti dulu, meskipun masih belum bisa utuh.
Kewajiban seorang istri masih harus dijalankan agar tidak mendapat murka dari sang Kuasa.
"Nanti saja, masih kangen anak anak.
Nanti kita langsung pulang ya, rumahnya sudah rindu dengan kehadiran kalian, apa lagi aku yang setiap saat merindukan kehadiran kalian." sahut Pandu dengan menatap dalam manik hitam milik sang istri yang masih berwajah datar dan memilih diam tak banyak bicara.
"Hore, kita pulang kerumah lagi ya Ma?" sahut Cinta antusias. "Kita bisa ketemu papa dan main tiap hari kan , Pa?" Galang ikut menimpali dengan gaya lucunya.
Pandu dan Risma saling bertatapan melihat betapa bahagianya sang anak, ada rasa nyeri di hati Risma maupun Pandu.
"Iya sayang, kita akan ikut pulang sama papa!" balas Risma dengan senyuman tipis di bibirnya, dan membuat Pandu langsung melepaskan senyuman lega dan mengucapkan syukur di dalam hatinya. "Alhamdulillah." batin Pandu bahagia.
"Mbak Cinta bilang sama bibi buat bantu beresin baju baju mbak Cinta sama dek Galang ya, bisa kan nak?" sambung Risma menatap lembut anak perempuannya yang langsung berlari mengiyakan titah mamanya.
"Aku sudah memutuskan, antara Clara dan aku sudah tidak ada apa apa. Kami sudah bercerai, tapi aku masih punya kewajiban untuk memberikan nafkah selama masa Iddah nya." Pandu kembali membuka obrolan dan mengatakan soal hubungannya dengan Clara.
Risma menatapnya dengan ekspresi tak biasa, lalu hanya mengangguk sebagai jawaban atas ucapan Pandu barusan.
"Semoga kamu bisa kembali seperti dulu, Ris!
Sungguh aku sangat tersiksa dengan diam mu, ini!" batin Pandu menatap lekat wajah Risma yang tanpa ekspresi.
__ADS_1