
"Iya, Pa! Insyaallah aku paham dan mengerti. Kamu jangan terlalu mikirin dia loh, cuekin saja, kalau dia berani kerumah, biar aku yang ngadepin, salahnya sendiri sudah berani mengusik suaminya Bu Risma, iya kan?" sahut Risma sambil ketawa dan membuat Pandu jadi lega karena istrinya tak salah paham.
Karena dalam sebuah hubungan memang sangat diperlukan komunikasi yang baik antara suami istri, jujur dan saling terbuka, lantas mencari solusi bersama saat ada masalah.
Cinta akan semakin menguatkan keduanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Tepat pukul empat sore, Pandu keluar dari kantornya.
Erna yang sedari tadi menunggu selalu memperhatikan setiap kendaraan yang lewat, dan kali ini matanya awas menatap mobil yang tengah keluar dari gerbang, wajah tampan di belakang kemudi membuatnya tersenyum sumringah.
Erna menaruh uang lima puluh ribu di bawah gelas kopinya, dan berlari menuju mobilnya.
Dengan kecepatan penuh, Erna berusaha menyusul mobil Pandu yang memang berjalan pelan. Karena Pandu berniat mampir ke toko buah yang tak jauh dari kantornya.
Pandu terbiasa membeli buah buahan untuk cemilan keluarganya.
Kaki ini, pandu membeli buah anggur, kelengkeng, dan apel juga alpukat.
Erna tersenyum senang saat mendapati Pandu masih belum jauh.
Dengan pasti Erna terus membuntuti mobil Pandu dengan memberi sedikit jarak.
__ADS_1
Pandu yang tak sadar sedang dibuntuti terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga mobilnya memasuki halaman rumahnya dan disambut oleh kedua anaknya dan Risma yang tengah tersenyum begitu cantiknya di teras depan rumah.
Erna menatap sinis istri Pandu dengan perasaan cemburu, benci dengan keberuntungan wanita cantik yang kini telah menyambut kepulangan pria pujaannya. " Harusnya aku yang ada disana, menyambut penuh cinta dan dipeluk sama Pandu.
Tenang Erna, sebentar lagi kamu akan ada di posisi wanita itu." Erna bicara sendiri dengan begitu percaya diri, memutar arah mobilnya dan menuju hotel terdekat untuk menginap. Erna sudah tenang karena bisa mendapatkan alamat rumah Pandu. Besok saat Pandu pergi ke kantor, Erna berniat bertamu menemui istrinya Pandu dengan rencana liciknya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Clara tengah termenung di dalam kamarnya. Meratapi dirinya yang merasa tak dicintai suaminya, karena Sandi sama sekali belum mau menyentuhnya.
"Mungkin ini karma yang harus aku terima, luka Risma akan pengabaian mas Pandu, kini aku rasakan dengan pengabaian mas Sandi.
Seberat ini luka pengabaian itu, semoga aku bisa setangguh Risma dalam menjalani takdirku." Clara bergumam lirih dalam kemelut perasaan yang tidak menentu, jiwanya begitu terluka dengan sikap dingin Sandi saat berdua, namun saat di hadapan orang lain, Sandi akan menjadi sosok yang begitu hangat.
Clara larut dalam tangisnya dengan segala perasaan yang begitu kacau. Hingga suara ketukan pintu membuatnya tersadar dari meratapi dirinya.
Clara bangkit dari kasur dan berjalan mendekati pintu kamarnya, lantas membukanya berlahan.
Nampak sosok yang sedari tadi memenuhi pikirannya kini ada di hadapannya dengan wajah datarnya.
"Mas Sandi!" Clara menatap Sandi yang kini ada dihadapannya dengan perasaan tak menentu.
"Boleh aku masuk?
__ADS_1
Ada yang ingin aku sampaikan!" sahut Sandi datar dengan kedua tangan dimasukan ke saku celananya.
"Iya, mas! silahkan!" sahut Clara menyembunyikan kegugupannya.
Sandi langsung masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang ada di kamarnya.
"Besok aku akan ke Madiun menemui Risma.
Aku ingin bicara dulu sama Risma dan Pandu, setelah itu nanti kita akan datang berdua menemui mereka, setelah kalian benar benar siap untuk bertemu sebagai keluarga." jelas Sandi tanpa ditanya.
'"Iya, Mas!" sahut Clara singkat, hatinya benar benar teriris dengan sikap dingin sang suami yang konon katanya akan menerimanya apa adanya.
"Maaf ya, kalau aku masih ingin menjaga jarak diantara kita. Aku gak mau nanti kamu kecewa saat aku masih belum bisa menerimanya." sambung Sandi dengan tatapan yang begitu dalam.
"Iya, Mas! Insyaallah aku akan berusaha untuk bisa menerima dengan iklas. Dan berharap semoga hatimu bisa menerima ku dengan semua masa lalu ku." Sahut Clara miris, kecewa dengan sikap Sandi.
"Baiklah! Besok aku akan berangkat pagi pagi, Kamu jaga diri baik baik dirumah.
Tidurlah, sudah malam." Sandi berdiri dan kembali melangkahkan kakinya keluar kamar tanpa lagi bicara sepatah katapun.
"Sampai kapan, Mas?" tiba tiba suara Clara menghentikan langkah Sandi, dan membuat Sandi memutar tubuhnya, menatap wanita yang kini halal untuknya, tengah tersedu dengan menundukkan kepalanya.
"Bersabarlah!" satu kalimat yang hanya Sandi ucapkan, dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar yang dihuni istrinya.
__ADS_1
"Alloh kuatkan aku." isak Clara yang tak lagi mampu menahan air matanya yang semakin deras mengalir.