
"Silahkan!
Aku akan menunggu kamu, ingin bicara banyak hal. Rindu saat masih anak anak dulu." sahut Erna yang terlihat terus menggoda Pandu dengan sikapnya yang genit dan manja.
Pandu tersenyum tanpa menjawab dan langsung berjalan cepat kembali ke meja dimana teman temannya tengah menunggunya.
"Sombong banget! Lihat saja, sebentar lagi, kamu akan jadi milikku. Karena tidak ada satupun laki laki yang bisa menolak pesona seorang Erna, model yang selalu jadi pujaan para pria pria tampan dan mapan." Erna bergumam lirih dengan tatapan tak lepas dari Pandu dengan menarik bibirnya keatas dengan sinis. Erna model majalah dewasa yang terkenal, selalu merasa kecantikannya selalu mampu menaklukkan semua pria yang di inginkannya, tak terkecuali dengan Pandu Aditama yang kini tengah jadi incarannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Erna memilih tempat duduk yang tak jauh dari Pandu. Matanya awas dan terus menatap kagum ke arah Pandu yang bahkan tidak menoleh sana sekali padanya. Pandu tengah asik berbincang dengan sahabat sahabatnya. Mengenang dulu saat masih sekolah pendidikan.
"Brow!
Aku perhatikan, cewek yang ada di kursi depan itu, dari tadi memperhatikan kamu. Mana cantik banget lagi. Emang enak ya, jadi orang ganteng, selalu jadi pusat perhatian wanita wanita cantik." Salah satu teman Pandu menyenggol lengan Pandu dan mengutarakan apa yang sedari tadi diperhatikannya.
Pandu tersenyum dan hanya menggelengkan kepalanya. Dalam hati mengucap istighfar dan mengingat wajah teduh sang istri dan tawa ceria kedua anaknya.
"Istri dirumah jauh lebih cantik dari wanita manapun diluaran.
Dia salah satu teman SD ku dulu, tapi sepertinya dia wanita pemberani, jujur aku takut!" Pandu berkelakar dan disambut tawa oleh sahabat sahabatnya.
"Wah, ada yang cinta mati sama istri nih kayaknya." sahut salah satu temannya Pandu dan mengacungkan jempolnya ke arah Pandu.
"Pak perwira terkena virus bucin nya sang istri, hebat! hebat! jujur aku salut sama kamu brow!
Luar biasa." salah satu teman Pandu juga ikut menimpali.
Pandu hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya menanggapi celotehan sahabat sahabatnya.
"Aku hanya ingin menjaga hati istriku, karena aku pernah berbuat kesalahan yang sampai sekarang, diriku sendiri masih belum bisa memaafkan kesalahan itu.
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama yang hanya menoreh luka untuk istri. Rasanya itu sesuatu, ketika istri berubah cuek dan gak perduli, dunia serasa runtuh." Sahut Pandu menatap lurus kedepan dengan pikiran tertuju pada wajah Risma yang begitu teduh dan cantik.
Semua sahabat Pandu tersenyum dan membenarkan ucapan sang perwira dan bahkan mereka juga memiliki prinsip yang hampir sama. Menjaga rumah tangganya dengan cinta dan menyimpannya di dalam hati agar tidak mudah tergoda dari godaan di luar sana.
"Tapi menurut feeling ku, perempuan yang di depan itu, sangat ambisius dan berbahaya, karena dia tipe perempuan yang nekad. Lebih baik hindari dan jangan tanggapi.
Benar kata kamu, istri kita jauh lebih cantik dan istimewa dari semua wanita yang ada. Ah, kok jadi kangen istri dirumah ya!"
Bayu, orang yang duduk berdekatan dengan Pandu menanggapi, dan alhasil mereka jadi tertawa dengan celotehan Bayu yang merindukan istrinya.
"Sudah yuk, bukannya jam satu nanti akan ada rapat. Yuk!" Pandu mengingatkan sahabatnya kalau sebentar lagi akan ada rapat di kantor.
"Oh iya, ya. Yuk, kalau begitu!
__ADS_1
Bentar, kita bayar dulu, jangan asal kabur!"
Hahahaaa, suara tawa terdengar riuh oleh ulah empat sahabat yang sama sama memiliki selera humor.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pandu dan teman temannya beranjak meninggalkan restoran dan akan segera kembali ke markasnya.
Erna yang mengetahui Pandu akan meninggalkan restoran, bergegas menyusul langkah pandu dengan tergesa. Erna tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa mendapatkan Pandu yang terlihat sempurna dimatanya dari dulu.
Dulu Erna takut dan bahkan gak berani menatap Pandu, karena badannya yang gendut dan rambutnya yang ikal. Tapi sekarang, itu sudah tinggal kenangan. Tubuh gemuknya dulu, kini sudah menjelma jadi tubuh yang sintal dan seksi.
"Pandu! Tunggu!" Erna memanggil Pandu dengan suara yang dibuat mendayu. Bukan hanya Pandu yang menoleh, tapi juga teman temannya.
Pandu menghentikan langkah dan memutar tubuhnya melihat Erna yang tengah berjalan ke arahnya dengan gayanya yang seperti bak model.
"Maaf, kalau aku mengganggu!
Boleh kita tukaran nomor ponsel?" Erna dengan gaya anggunnya meminta kontaknya Pandu.
Pandu tetap diam mematung, mencari cara untuk tidak memenuhi keinginan Erna.
"Maaf, Er..!
Bukannya gak boleh ya, ini nomor kantor, kusus orang orang kantor. Kalau nomor pribadi aku tidak hafal, ponselku aku tinggal di kamar hotel." sahut Pandu tetap bersikap ramah.
Kesal!
karena baru kali ini dia ditolak dan gak dianggap oleh laki laki yang jadi incarannya.
"Kalau aku mau menghubungi kamu gimana, Ndu?
Padahal aku ingin banyak ngobrol sama kamu, tapi kamu lagi sibuk." Erna memasang wajah cemberut dan sedikit demi sedikit mendekat ke arah Pandu.
"Maaf ya, aku memang lupa dengan nomor ponsel yang satunya, insya Allah kapan kapan kalau ketemu lagi ." sahut Pandu singkat dan memasang wajah datarnya.
"Huh sulitnya!" sungut Erna tak suka dan membuat Pandu semakin yakin untuk menjauhi perempuan seperti Erna.
"Maaf ya, aku harus pergi bekerja lagi. Terimakasih sudah ingat sama aku." balas Pandu tetap bersikap ramah namun biasa saja.
"Aku kan minta nomor telepon, kok gak diberi sih!" Erna kesal dan semakin membuat Pandu tidak nyaman.
"Maaf, saya lupa nomor watshap pribadi saya. yang sering saya bawa ini nomor kusus untuk rejan kerja saja, maaf sekali lagi." sahut Pandu menjelaskan.
"Sombong banget kamu sekarang, Pandu!
__ADS_1
Aku sayang sama kamu, aku mau kok jadi yang kedua?" balas Erna masih dengan gaya genitnya.
"Maaf, aku hanya ingin menjaga hati istriku. Maaf ya!" sahut Pandu tegas dan tersenyum tipis ke arah Erna yang terlihat mematung.
Antara ada dan tiada.
Ketika hadirmu menyapa jiwa.
Tak banyak yang mampu terucapkan lisan dalam kata.
Hanya tatapan hampa penuh tanda tanya.
Sesaat kau menoleh dalam biasan tawa.
Namun seketika itu jua rona indah mu binasa.
Cinta....kau laksana sebuah asa yang mengangkasa.
Terasa tak berjarak.
Namun tak pernah mampu terjamah.
Karena kau hanya mampu dirasa.
Hanya mempesona dalam lara.
Walau indah mu kan abadi dalam fana
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️🔥