
Bu Desmita terdiam, tak mampu berucap apa apa, dadanya sudah sangat begitu sesak, hanya doa yang selalu ia panjatkan, untuk kesembuhan dan keselamatan anak serta cucunya. Meskipun air matanya juga tak kunjung berhenti, hingga wajahnya basah dan bahunya ikut terguncang.
Suasana haru dan terpancar kesedihan di wajah suami dan ibunya Clara.
Sandi sudah tak mampu lagi menopang tubuh nya.
Saat suster memintanya untuk melihat bayinya, Sandi hanya mengangguk lemah dan berjalan dengan gontai menuju ruangan bayinya.
Sandi tak kuasa menahan dirinya Kala melihat bayi mungil yang berada di inkubator. Tampan!
Sandi mendekatkan bibirnya ke telinga anaknya, lalu mengumandangkan adzan untuk bayi mungilnya. Serta melafazkan doa doa kebaikan, agar bayi mungilnya diberi kekuatan dan kesehatan.
Orang tua Sandi sudah sampai di rumah sakit, dan langsung menuju ICU, karena memang sudah diberitahu oleh Sandi sebelumnya.
Namun hanya ada Bu Desmita di kursi ruang tunggu yang terlihat menunduk lemah.
"Bu!" sapa Bu Rosa, lalu memeluk erat besannya. Mereka larut dalam kesedihan dan berusaha saling menguatkan.
"Semoga Clara baik baik saja, dan bisa melewati masa kritisnya. Dan cucu kita akan sehat dan tumbuh jadi jagoan yang hebat. Aamiin!" ucap Bu Rosa dengan lelehan air mata. Namun tak harus lemah, sedih memang karena orang yang disayangi telah berkutat dalam hidup dan mati.
Namun harus tetap kuat, agar hati tatap bisa berpikir jernih dan terus melafazkan doa doa kebaikan, memohon kesembuhan untuk anak dan cucunya.
Sandi menatap nanar ke arah bayi mungil yang tubuhnya terpasang beberapa alat medis.
Memaksakan untuk bisa tersenyum, Bertahan dalam situasi yang sulit begitu menyakitkan. Namun dirinya harus kuat demi istri dan anaknya.
"Nak, bertahan ya, demi papa dan mama. Lihat mama, mama rela mengorbankan keselamatannya untuk bisa membawamu melihat dunia ini. Papa janji, papa akan mencintai dan menjaga kalian. Papa janji, akan selalu menyayangi kalian seumur hidup papa. Papa bahkan gak tau harus senang atau sedih, papa hanya bisa berdoa untuk kesembuhan mu dan mama. Sehat sehat anaknya papa." Sandi tak kuasa menahan gejolak dalam dirinya, air mata terus berjatuhan, melihat bayi yang ditunggunya bertahun tahun tengah berjuang untuk kehidupannya.
"Maaf, pak!
Waktunya sudah habis. Nanti bapak boleh melihat bayinya hanya dengan ijin dokter, semua demi kebaikan anak bapak." tiba tiba suster datang menghampiri Sandi dan memintanya keluar ruangan. Karena bayinya masih masa penangan dokter.
"Sandi, Nak!" Bu Rosa menghampiri putranya yang tengah berjalan lunglai menuju ruangan dimana istrinya tengah dirawat.
"Mama!" Sandi membalas pelukan mamanya erat, menangis di pundak wanita yang begitu ia kasihi.
Menjatuhkan rasa malunya, tak perduli dilihat orang lain akan kelemahannya saat ini. Karena saat ini, ujian yang terberat dalam kehidupannya.
"Kamu harus kuat, nak!
Sabar dan tawakal. Insyaallah kamu bisa melewati ujian ini. Kita semua berharap yang terbaik, Clara segera bisa melewati masa kritisnya, begitu juga jagoan kita semua." Bu Rosa berusaha menguatkan anak laki lakinya, meskipun ia tau dirinya juga sebenarnya sangat sedih dengan apa yang tengah terjadi. Namun tak harus terpuruk dan justru semakin membuat rumit keadaan. Harus ada yang menguatkan dan memberi semangat, karena setiap kehidupan memiliki ujiannya masing masing, tergantung bagaimana kita menyikapi dan menerima ujian tersebut.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sudah tiga hari Clara belum juga sadar dari komanya, Sandi terus berada di sisi sang istri dengan ditemani mertua dan mamanya sendiri.
Bahkan Sandi juga memberikan banyak bantuan pada panti asuhan, keluarga kurang mampu, masjid masjid, dan meminta doa dari mereka untuk kesembuhan istri dan anaknya.
__ADS_1
Banyak doa yang mengalir tulus, mendoakan Clara dan juga bayinya.
"Ibu pulang saja, istirahat dulu, biar saya yang jaga Clara, Bu!
Ibu itu capek, nanti kalau ibu ikutan sakit, Clara pasti juga sedih, dan kasihan juga dengan Dania, pasti dia juga sedih dan bingung kenapa kita s mua GK pulang pulang. Sandi mohon, ibu pulang lah dulu. Besok ibu baru kesini lagi.
Jaga kesehatan ibu, demi Clara!" Sandi menatap mertuanya sayu, berharap semua segera membaik. Dirumah ada Dania yang pasti mempertanyakan.
"Baiklah, ibu akan pulang dulu.
Kalau ada apa apa dengan Clara, tolong segera kabari ibu!" sahut Bu Desmita pasrah, hatinya tidak tega meninggalkan putrinya. Namun Bu Desmita juga membenarkan ucapan menantunya.
Ada Dania yang juga harus dipikirkan dan diperhatikan.
"Biar Sandi telepon pak Aji buat menjemput ibu.
Ibu tunggu sebentar." Sandi merogoh ponselnya di dalam saku celananya, mencari kontak sopirnya.
"Pak aji, tolong jemput ibu dirumah sakit sekarang.
Terimakasih ya pak, asalamualaikum!" Sandi mematikan panggilan telepon setelah terdengar jawaban salam dari pak aji.
"Sandi akan jaga Clara, dia yang terbaik saja. Insyaallah semua akan baik baik saja Bu! kita harus optimis untuk kesembuhan Clara dan jagoan." Sandi memaksakan tersenyum di hadapan ibu mertua, agar tidak semakin membuatnya sedih karena keadaan anaknya. Sandi sangat tau, diantara istri dan mertuanya terjalin hubungan yang sangat dekat.
"Terimakasih, doa ibu juga tidak akan pernah putus, semoga kita mampu melewati ujian ini, ibu ingin melihat anak ibu bahagia dan hidup tenang tanpa tekanan di dalam hati juga pikirannya." sahut Bu Desmita lemah, membuat Sandi mengernyit, tidak mengerti maksud ibu mertuanya tentang kalimat tertekan.
Sandi sudah berusaha bersikap baik selama ini dan Sandi juga mencintai Clara Bu!" balas Sandi dengan dada yang mulai terasa sesak.
Bu Desmita menoleh dan tersenyum tipis menatap menantunya.
"Entahlah, sebenarnya ibu tidak setuju dengan keputusan kalian menyembunyikan kebenaran soal Dania pada Pandu. Karena bagaimanapun mereka itu berhak tau, untuk Pandu menerima atau tidak itu urusan nanti dan biar jadi keputusannya.
Tapi kita punya kewajiban untuk memberi tau. Kasihan Dania, dia harus tau ayah kandungnya.
Meskipun ibu percaya, kamu juga sangat baik dan menyayangi Dania. Tapi figur ayah kandung juga jauh lebih penting untuk Dania dapatkan.
Dan ini sangat membuat Clara tertekan, hingga memendam pedihnya sendirian." sahut Bu Desmita dengan buliran bening yang sudah jatuh dari sudut matanya.
Sandi terdiam memikirkan ucapan ibu mertuanya.
"Apa aku harus menemui Pandu untuk membicarakan ini semua. Hanya sama Pandu. Risma tidak perlu tau. Ya, harusnya itu yang kulakukan dulu." Batin Sandi, dan memutuskan untuk mengungkap siapa Dania pada Pandu sendiri, dan tanpa harus Risma mengetahuinya.
"Permisi!
Apa Bu Desmita sudah mau pulang sekarang?" tapi bs tiba pak Aji muncul. Bu Desmita hanya menjawab dengan anggukan kecil pada pak Aji untuk menjawab pertanyaan sopir keluarga menantunya.
"Ibu pulang dulu ya, titip Clara!" Bu Desmita menatap ke arah Clara dari jendela kaca, tersenyum tipis serta menyelipkan doa di lubuk hatinya untuk putri tercintanya.
__ADS_1
"Bu, Hati hati!
Salam sama Dania.
Insyaallah Sandi akan cari waktu untuk bertemu dengan Pandu. Sandi setuju dengan apa yang ibu katakan." Sandi menatap dengan mata lelah, melepas kepergian mertuanya.
Bu Desmita hanya tersenyum dengan matanya yang terlihat sembab. Bibirnya seolah kelu untuk sekedar berucap.
Di sepanjang jalan, Bu Desmita hanya terdiam menatap jalanan d Ngan perasaan yang tidak menentu. Pikirannya terlanjur kacau.
Namun entah kenapa, Bu Desmita ingin Pandu mengetahui jika Dania putri kandungnya. Karena yakin, jika Clara sebenarnya tertekan memikirkan nasib putrinya nanti jika sudah dewasa.
"Pak Aji, mampir ke mini market sebentar ya, mau beli oleh oleh buat Dania!" Bu Desmita bicara singkat pada kak aji untuk berhenti di mini market terdekat.
"Baik Bu!" sahut pak Aji sangat sopan.
Melirikkan pandangannya di kaca spion melihat perempuan umur hampir enam puluh tahun itu terus mengalirkan air matanya. Merasa iba dan juga ikut merasakan kesedihan dengan keadaan Clara. Karena pak Aji juga selalu diperlakukan dengan sangat baik oleh Clara, bahkan Clara juga menghormati pak Aji sebagai orang yang lebih tua.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1