
"Boleh, aku senang kalau mas Sandi tidak keberatan." balas Clara tersenyum dan kembali menatap pemandangan yang ada di depannya.
"Maafkan aku Clara!
Semua yang terjadi karena keegoisanku. Semoga aku tidak lagi mengulangi dan ingatkan aku jika kembali bersikap buruk padamu." Sambung Sandi yang di balas senyuman manis dari sang istri.
"Iya, mas! kita akan saling mengingatkan setelah ini!" sahut Clara singkat.
"Aku akan telpon Bi Marni dan memintanya untuk menyiapkan beberapa baju selama aku tak nggak disini, nanti biar diantar pak Aji kemari." sambung Sandi dengan menggenggam lembut tangan sang istri.
"Iya, mas! Terimakasih ya!" Clara tersenyum tipis berusaha untuk menerima perubahan sikap suaminya, melepaskan rasa sakit hatinya karena sikap Sandi yang egois, demi menata masa depan yang lebih baik dan juga demi Dania. Karena Sandi sangat menyayangi Dania.
Tak berselang lama, pak aji sudah datang membawa koper dan diserahkannya pada Sandi.
"Terimakasih ya, Pak! Titip rumah selama kamu menginap disini. Jangan menerima tamu siapapun selama saya tidak ada." Sandi bicara dengan nada sopan pada pak Aji yang langsung mengangguk paham. Sandi menyelipkan dua lembaran merah ke saku jaket pak Aji.
"Sama sama, Pak!
Kalau begitu saya permisi dulu. Dan terimakasih kopinya!" pak Aji yang bekerja sudah cukup lama dengan Sandi, tak ada rasa canggung di antara mereka, meskipun tetap menjaga batasan yang ada antara atasan dan bawahan.Setekah kepergian pak Aji. Sandi menuju kamar milik Clara dan istrinya itu sudah ada di dalam dengan baju tidurnya. Clara mengenakan piyama berwarna pink, terlihat cantik yang begitu alami, karena tidak ada polesan make up sama sekali di wajah Clara.
Sandi meletakkan kopernya begitu saja di pojok dekat lemari, lalu mendekati istrinya.
Saling tatap dan Saling bertukar nafas entah siapa dulu yang memulai.
Hingga saling memuja dan mengarungi nikmatnya surga dunia dalam pernikahan, menuju puncak dalam manisnya madu halalnya sebuah hubungan suami istri.
Saling tersenyum dan mendekap erat.
"Terimakasih, Ra!" Sandi menatap lekat pada wajah istrinya yang terlihat merona.
"Sama sama, Mas!" sahut Clara yang menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Erna bersiap siap akan pergi ke pondok dengan diantar Runi sepupunya.
"Sudah siap, Er?" Runi sudah menunggu Erna di teras depan rumah ibunya.
__ADS_1
"Sudah mbak!" sahut Erna singkat dengan senyuman.
"Kita naik motor saja ya, kan pondoknya dekat, hanya tujuh ratus meter saja dari sini." Runi meminta persetujuan Erna, karena Runi tau bagaimana dulu Erna, pasti tidak akan mau naik motor dan merasa malu karena gengsi.
"Iya, mbak! mbak Runi gak papakan? aku gak enak saja, takut merepotkan!" Sahut Erna lembut dengan wajah terlihat tidak enak menatap sepupunya itu.
"Halah kayak sama siapa to kamu ini. Biasa saja, asal kamu gak malu aku bonceng dengan motor, loh ea?" sahut Runi santai dengan senyum yang menampilkan giginya yang putih bersih.
"Gak lah mbak, aku justru merasa sungkan sudah merepotkan mbak Runi. Tapi kalau mbak memaksa, okelah yuk berangkat!" hehehee Erna terkekeh dan merasakan kebahagiaan saat berada di tengah keluarga budhenya, mereka orang yang supel, ramah dan sederhana, meskipun soal harta budhenya juga orang yang cukup berada. Di kampung sawahnya berhektar hektar, sapi perasnya ada puluhan.
Belum lagi suaminya juga kerja di pemerintahan dengan gaji yang lumayan besar, sedangkan menantunya juga memiliki usaha sendiri sendiri. Tapi mereka memilih hidup sederhana.
"Yasudah, berangkat gih. Keburu siang. Nanti di jalan panas. Runi, titip salam sama Abah Faisal dan umi Zara. Dan ini titip buat infak." Bu Ranti memberikan amplop yang cukup tebal pada Runi untuk diserahkan ke pondok. Sudah jadi kebiasaan di keluarga Bu Ranti memberikan sedekahnya ke pondok Abah Faisal, karena di pondok itu tidak hanya menerima murid murid orang berada, namun juga banyak murid muridnya yang yatim piatu dan dari golongan fakir sehingga di gratiskan biaya pendidikannya, namun banyak dermawan yang dengan senang hati memberikan bantuannya untuk mereka. Salah satunya keluarga Bu Ranti dan pak Danu. Mereka donatur tetap pondok yang di asuh Abah Faisal, paman dari pak Danu.
"Baik, Bu! Nanti Runi pasti sampaikan!
Asalamualaikum!" Runi menyalimi tangan ibunya takzim dan bersiap naik diatas motornya dengan membawa tas berisikan baju milik Erna yang ditaruhnya di jok depan.
"Budhe Erna berangkat ya, doain Erna semoga betah dan bisa konsisten dengan niat Erna untuk memperbaiki diri." Erna mencium punggung tangan budhenya dan mereka berpelukan.
"Hati hati, dan teguhkan niatmu nduk, budhe akan terus berdoa untuk kebaikanmu." bisik budhe Ranti dan mengusap lembut bahu ponakannya, lalu melepaskannya dengan rasa haru dan bangga.
Selama di perjalanan mereka bercanda dan menikmati jalan yang masih sangat terlihat asri dan hijau, sangat indah di mata Erna yang hampir tak pernah menikmati suasana damai dan nyaman dikampung seperti ini.
Tak butuh waktu lama, Runi sudah berhenti di depan bangunan yang cukup luas dan terlihat sangat nyaman karena banyak tanaman yang berjejer di halaman pondok sehingga menambahkan kesan ke asriannya.
Runi menuntun Erna dan meminta ijin untuk bertemu langsung dengan Abah Faisal dan istrinya.
"Asalamualaikum, Abah! Umi!" Runi menyalimi umi Zara santun dan mengatupkan kedua tangannya di dada pada Abah Faisal, pun dengan Erna yang ikut melakukan hal yang sama dengan Runi.
"Waalaikumsallm, Run!
Ada keperluan apa kok tumben sepagi ini sudah sampai disini? Dan ini siapa?" sahut umi Zara sambil matanya menatap ramah ke arah Erna yang tersenyum.
"Ini Erna, umi. Saudara sepupu saya yang lama tinggal di Jakarta. Tujuan saya kesini, ingin mengantarkan Erna untuk menuntut ilmu di pondok ini, tolong bimbing saudari saya, umi! Abah!" Runi bicara sangat hati hati dan santun. Sedangkan Erna memperhatikan cara Runi bicara dan bagaimana sikapnya yang terlihat begitu menghormati dua orang yang ada di depannya.
"Nak Erna, ingin tinggal di pondok atau akan pulang pergi belajarnya?" umi Zara menatap Erna dengan senyuman yang nampak begitu meneduhkan, diusianya yang hampir kepala enam, umi Zara masih terlihat segar dan cantik.
__ADS_1
"Jika di ijinkan, saya ingin tinggal di pondok saja, umi! Karena saya masih harus banyak belajar, terus terang selama ini saya hanya sibuk dengan dunia saya, dunia yang begitu menumpuk dosa.
Saya ingin tobat dan memperbaiki diri saya menjadi manusia yang lebih baik, mohon umi dan Abah membimbing saya." Erna bicara dengan suara terbata, malu dengan dirinya yang dulu, menenggelamkan wajahnya menunduk ke bawah menatap ke arah sepatunya dengan mata yang sudah basah oleh air mata penyesalan.
"Tidak ada manusia yang sempurna, apa lagi luput dari kesalahan dan dosa. Insyaallah dengan niat ingin bertobat dan memperbaiki semuanya itu sudah jadi jalan kebaikan. Alloh maha tau dan maha pengampun. Semoga Istiqomah." Balas Abah Faisal lembut tanpa mau menghakimi keburukan orang sebesar apapun kesalahannya.
"Nanti nak Erna akan tinggal dengan para santri perempuan di pondok kusus putri, biar nanti di antar Aisyah ke kamar ya!" umi Zara menimpali masih dengan senyuman hangat nan meneduhkan.
Runi mengusap bahu Erna lembut, memberi dukungan dan kekuatan untuk saudarinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️