Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 28


__ADS_3

Jani tersenyum lebar saat mengambil motornya di rumah. Awalnya Sekar melarang Jani untuk membawa motor kembali. Motor Astrea legenda keluaran tahun 2000 itu sungguh menjadi motor kesayangan Jani. Motor itu tidak lagi terlihat seperti tampilan awal atau aslinya, pasalnya oleh Jani sudah dimodifikasi. Bahkan dibagian depan Jani memasang sebuah keranjang.


" Jan, apa tidak bawa mobil saja. Itu mobil yang ayah belikan waktu itu kenapa tidak pernah dipakai kan sayang jadinya," keluh Sekar terhadap sang putri.


" Jual aja bund, Jani nggak kepengenan pakai mobil. lebih nyaman naik Si Boy. Sat set wat wet tanpa kena macet berkepanjangan ye kan."


Sekar membuang nafasnya kasar, selalu itu yang dikatakan oleh sang putri. Dan dengan entengnya Jani mengatakan bahwa mobil VW T-Cross keluaran terbaru sebagai hadiah ulang tahun Jani yang ke 20 itu suruh dijual lagi. Sekar sudah tidka bisa bicara apapun.


Jani bukannya tidak bersyukur dan tidak berterimakasih atas pemberian sang ayah, tapi memang dia lebih suka mengendarai motor ketimbang mobil. Terlebih motornya itu dibeli atas hasil tabungannya sendiri dari menyisihkan uang jajan sejak kelas 1 sekolah menengah atas. Jani membeli Si Boy, begitulah ia menamai motor kesayangannya itu saat kelas 3 SMA. Setelah ia mendapatkan SIM ia langsung kemana-mana dengan motor tersebut.


" Apa suamimu tidak masalah?"


" Ehmmm, Jani pikir tidak. Om Charles tidak pernah meributkan sesuatu yang kecil. Jika Jani merasa nyaman maka Om Charles akan membiarkan Jani melakukan apa yang Jani inginkan."


Bukan mengarang cerita, tapi memang itulah kenyataannya. Charles memang tidak pernah mempermasalahkan hal kecil termasuk keinginan Jani menaiki motor.


" aya udah bund, pamit. Udah sore ini."


Sekar menahan sebentar jani lalu berlari ke dapur. Ia sudah mempersiapkan beberapa lauk untuk dibawa oleh Jani pulang.


" Woaaah, makasih bund. Pas nggak usah masak lagi nanti saat sampai rumah."


Jani meletakkan paper bag pemberian bunda nya di keranjang depan motornya. Setelah mencium tangan Sekar ia pun menyalakan motor dan berlalu dari kediaman Dwilaga.


Sekar menarik nafasnya dalam dan mengeluarkan perlahan. Rumahnya kembali sepi. Di rumah yang lumayan besar itu ia hanya tinggal berdua dengan sang suami. Meskipun masih ada putra ketiganya, tapi Andra sendiri jarang pulang ke rumah.


" Punya anak empat ternyata kalau sudah dewasa begini tidak lagi ada di rumah. kembali lagi menjadi berdua seperti awal-awal menikah."

__ADS_1


Sekar tersenyum dan kembali masuk ke rumah. Ia kini tinggal menunggu kepulangan sang suami. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan. Paling kalau benar-benar merasa sepi ia akan mendatangi kedua cucunya secara bergantian. Adanya Nataya dan Yasa sedikit membuat hari tuanya berwarna.


***


Melihat mobil Charles yang sudah terpakir rapi di garasi rumah membuat jani bergegas turun. Ia langsung masuk ke rumah sambil mengucapkan salam.


" Assalamu'alaikum,maaf om tadi mampir ke rumah buat ambil motor."


" Waalaikumsalam,no problemo. Oh iya terimakasih ya untuk makan siangnya. Segera mandi dan bersiap untuk ibadah magrib."


Jani mengangguk, sebelum masuk ke kamar ia memberikan dulu pape bag yang dibawakan oleh bundanya. Charles tentu paham. Saat Jani masuk ke kamar, Charles membuka paper bag tersebut lalu mengeluarkan isinya dan memindahkannya ke dalam wadah lain.


Ada rendang, ayam goreng, bahkan ada sayur urap plus tahu dan tempe goreng. Charles tersenyum lebar, ibu mertuanya itu sungguh perhatian. Memang keluarga Dwilaga memiliki banyak sisi positif. Kesederhanaan, rasa kekeluargaan yang tinggi dan humble pastinya.


Setelah beberapa saat berlalu jani keluar dari kamar lengkap dengan menggunakan mukena nya. Tampak wajah gadis itu yang segar terkena air wudhu.


" Cantik," sebuah kata pendek mewakili isi hati Charles. Beberapa kali melakukan kewajiban bersama tapi baru kali ini Charles memandang lekat wajah sang istri. Entah mengapa terdapat rasa tenang dalam wajah tersebut.


" Eeh ayo."


Charles memutus tatapannya dan menuju ke mushola kecil dalam rumahnya. Ia sudah mengambil wudhu sejak tadi jadi langsung siap untuk menjalankan kewajiban 3 rakaat.


Bacaan ayat suci dilantunkan dengan baik dan benar oleh Charles. Keduanya beribadah dengan begitu khusyu hingga salam tanda shalat berakhir. Jani meringsek maju ke depan dan meraih tangan Charles dan mencium punggung tangan tersebut. Saat Jani hendak memundurkan tubuhnya Charles menahannya. Ia lalu meraih wajah Jani dan mencium kening Jani singkat.


" Mari seperti ini selama pernikahan kita berlangsung. Aku dan kamu berlaku seperti suami dan istri pada umumnya."


Keduanya saling menatap mata satu sama lain. Jantung keduanya sama-sama berpacu cepat saat ini. Ada rasa yang tidak bisa mereka jabarkan. Jani pun hanya mengangguk saat Charles mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


Charles kemudian memutus kontak mata mereka dan mengajak Jani untuk makan malam. Jani mengekor Charles hingga di ruang makan. Gadis itu seperti biasa, mengambil nasi dan lauk yang diinginkan oleh Charles.


" Oh iya om, sebelum mulai makan. Bagaimana tadi di perusahaan?"


" Aah iya aku lupa menceritakannya ke kamu. Aman, kita tetap pada rencana semula mengeluarkan produk itu awal bulan depan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena semua memang berjalan sesuai rencana sebelumnya. Oh iya, apakah boleh jika besok atau lebih tepatnya setiap hari membawakan aku bekal makan siang. Ku pikir lebih efektif dari pada aku harus keluar untuk makan mengingat pekerjaan akhir-akhir ini sangat banyak."


" Siap. Itu adalah hal yang mudah untuk Rinjani."


Charles tersenyum, ia sungguh senang keinginannya untuk a masakan istri setiap hari terkabul juga.


Keduanya makan dengan hikmad tanpa suara. Hanya denting sendok dan piring yang terdengar. Namun sepertinya acara makan malam mereka sedikit terganggu karena sebuah gedoran pintu rumah.


Duagh duagh duagh


" Om, bel rumah kita nggak rusak kan?"


" Nggak tuh."


Keduanya sama-sama menyudahi makan malam mereka dan berjalan bersama menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


" Huft dia lagi, tidak usah dibuka," keluh Charles.


" Eitsss tidak boleh begitu. Buka aja. Pengen tahu mau apa lagi dia kali ini."


Jani menaik turunkan alisnya. Jelas Charles tidak mengerti. Tapi Charles merasa Jani punya rencana untuk mengerjai orang yang sekarang ada di balik pintu tersebut.


Charles pasrah mengikuti kemauan istri kecilnya tersebut. Ia pun langsung membuka pintu rumah saat Jani mengangguk ke arahnya. Jani tersenyum lebar seraya mengucapkan kalimat selamat datang kepada si tamu.

__ADS_1


" Selamat datang mbak, senang melihat Anda berkunjung ke kediaman kami. Mari masuk."


TBC


__ADS_2