
Semakin hari perut Jani semakin besar sering perkembangan kehamilan. Semu baik dan sehat, tapi mereka belum bisa melihat jenis kelamin si baby saat usg 4 bulan kemarin. Baby nya masih menyembunyikan hal tersebut. Tapi baik Jani maupun Charles tentu tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka mau diberi anak laki ataupun perempuan sama saja yang penting lahir dengan sehat dan lengkap.
Memasuki semester 8 perkuliahan, kehamilan Jani juga mulai memasuki trimester akhir. Saat ini dia sedang menyusun skripsi, dan sialnya dosen pembimbingnya adalah sang kakak.
" Kampret, kenapa harus Kak Radi sih dospemnya, ampun deh," keluh Jani saat mengerjakan bab 2 di perpustakaan kampus.
" Awas Jan, jangan ngedumel, jangan benci sama kakak lo. Ntar anak lo nurun lo."
Jani seketika langsung terdiam saat Tari mengatakan hal tersebut. Keduanya sama sedang mengerjakan skripsi, tapi dengan dosen pembimbing yang berbeda. Jani kemudian mengusap perutnya yang mulai membuncit, bulan ini tepat 7 bulan usia kandungannya. Sekar dan Aryo ingin mengadakan acara mitoni ( 7 bulanan) yang akan dilaksanakan akhir pekan.
" Lo datang ya Tar, jangan lupa ajak Lim. Oh iya gimana hubungan kalian? Lim bukannya lagi nyusun skripsi juga?"
" Baik Jan, kami saling mendukung. Sempat Lim mengajak gue ketemu ma bonyok nya, dan sejauh ini mereka welcome."
" Alhamdulillaah, gue ikut seneng. Semoga karir dan asmara lo berjalan lancar Tar."
Jani tulus mendoakan sang sahabat. Tari juga mengaminkan doa Jani itu. Keduanya kembali bersibuk ria dengan skripsi mereka.
Jani lalu berdiri, ia merasa ada buku yang lupa diambil olehnya. Ini lah untungnya menyusun skripsi di perpustakaan, kita bisa langsung mencari buku referensi yang dibutuhkan. Selain itu kita juga bisa meminjam skripsi dari para alumni yang memang ada di bagian kumpulan skripsi. Bukan untuk mencontek, tapi hanya sebagai bahan pertimbangan dengan apa yang akan kita tulis.
" Et dah, kenapa tinggi bener sih," ucap Jani saat melihat buku yang dia mau ternyata ada di rak paling atas. Ia bingung cara nya mengambil, tapi kemudian ia teringat Tari. Jani kembali ke meja mereka, namun Tari tidak ada di sana.
" Duuh Tari nggak ada lagi, tumben bener sepi. Petugas perpus juga lagi pada sibuk."
Jani berdiam sejenak, ia mencoba berpikir. Buku itu sungguh ia sangat perlu. Dan bab 2 miliknya, hanya kurang teori dari buku tersebut.
Sreeeek
Jani menarik sebuah kursi untuk mengambil buku yang terletak di atas rak. " Bismillah," ucap Jani saat kaki nya mulai menapak satu demi satu ke ats kursi.
" Duuh kurang dikit lagi."
Jani mencoba menjulurkan tangannya dan kaki nya sedikit berjinjit. Sedikit lagi tangannya bisa menjangkau buku tersebut.
Bruuuuk
" Arghhhhhh!!! Toloooong."
Tari yang baru datang dari kamar mandi terkejut mendengar teriakan Jani, pun dengan para petugas perpus. Dan betapa kagetnya tari melihat Jani sudah terjatuh di lantai. Darah merembes di kaki nya diikuti air ketuban.
" Jan ... Jani!!"
Jani pingsan, Tari kemudian menghubungi Radi menjelaskan apa yang terjadi. Tidak berselang lama, Radi dan Aryo datang ke perpus. Keduanya sungguh terkejut dengan keadaan Jani. Radi langsung mengangkat Jani, sedangkan Aryo menghubungi Dika dan juga Charles.
__ADS_1
" Baik Yah!"
Charles yang sedang rapat langsung berdiri berlari ke luar. Ia tidak peduli dengan rapat yang saat ini sedang berlangsung. Cilla mengetahui abangnya sedang tidak beres pun mengekor.
" Bang kenapa?"
" Jani, Jani jatuh Cil, sekarang dibawa ke rumah sakit sama Ayah."
" Astagfirullah."
Cilla ikut berlari, dia meraih kunci mobil yang dibawa Charles. Cilla tidak mungkin membiarkan Charles membawa mobil dalam keadaan kalut begitu.
" Bang berdoa, semoga Kak Jani dan baby tidak apa-apa."
Charles bergeming, ia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Cilla. Saat ini hanya ketakutan yang memenuhi dirinya.
Ckiiiit
Cilla menghentikan mobilnya tepat didepan pintu IGD. Mobil belum sepenuhnya berhenti Charles sudah membuka pintu mobil dan melompat turun lalu berlari masuk ke dalam. Ternyata kedatangan dia dan Jani hanya selisih sebentar. Charles masih bisa melihat jani yang di dorong menuju ke ruang penanganan.
" Yah, Jani kenapa ini yah. Sayang, bangun sayang. Please."
" Bang, sabar dulu, biar dokter periksa ya, Ayah jelaskan."
" Yah, bang, Jani harus segera melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayi nya. Ketuban Jani sudah habis, tindakan ini harus dilakukan."
Dika keluar dan menjelaskan kepada Aryo dan Charles. Charles tentu terkejut mendengar itu, apalagi usia kandungan Jani baru 7 bulan.
" Tapi dokter, Jani baru 7 bulan."
" Tidak apa-apa Tuan Charles. Usia & bulan sudah cukup untuk lahir. lagi pula kalau tidak segera dilakukan tindakan, nyawa ibu dan bayi akan terancam." Dokter Lisa yang baru keluar dari ruang penanganan menambahkan penjelasan dari DIka.
Charles mengacak rambutnya, dia terdiam sejenak dan akhirnya menyetujui. Charles langsung diarahkan ke bagian administrasi untuk menandatangani persetujuan operasi.
Saat itu juga Jani dioperasi. Sekar datang bersamaan dengan Rosa dan Roberth. Semua menunggu di depan ruang operasi. Masing-masing memanjatkan doa agar semuanya selamat.
1 jam berlangsung, suara tangis bayi terdengar begitu menggema. Semua langsung mengucapkan syukur. Charles diminta masuk ke ruangan untuk melihat bayinya dan langsung mengadzani. Air mata tak kuasa ia bendung saat melihat bayi nya yang sehat dan lengkap.
" Selamat tuan, anak anda laki-laki. Tidak ada sesuatu yang kurang meskipun dia lahir di usia 7 bulan."
" Alhamdulillaah Ya Allah, lalu bagaimana dengan istri saya dokter Lisa."
" Alhamdulillah Tuan Charles, Mbak Jani tidak apa -apa. Operasi berjalan lancar, hanya saja mbak Jani lumayan kehilangan banyak darah tapi kami bisa mengatasinya."
__ADS_1
Charles mengucapkan syukur dan terimakasih. Ia mengadzani putranya, lalu setelah itu dibawa oleh perawat untuk dimasukkan ke inkubator. Setelah beberapa saat jani dibawa ke ruang rawat, Charles menunggui istrinya itu tepat disampingnya.
" Sayang, anak kita sudah lahir. Dia begitu tampan seperti diriku. Kau pasti akan kesal."
Charles tertawa dan menangis. Betapa takutnya dia kehilangan dua orang yang paling dicintainya itu. hampir saja nyawanya ikut melayang saat mengetahui Jani terjatuh dan pingsan.
" By," panggil Jani lemah.
" Alhamdulillah sayang, kamu sudah sadar."
Charles menciumi wajah istrinya itu. Dia kemudian memanggil dokter dan tak lama dokter datang sambil membawa box bayi mereka.
" By, aku mau lihat anak kita."
Dokter Lisa mengambil putra Charles dan meletakkannya di samping Jani. Ibu muda itu tersenyum ambil menitikkan air matanya. ia tidak menyangka begitu cepat bertemu dengan anak yang selama ini berada dalam perutnya.
" Selamat datang ke dunia sayang. Ayah dan bunda sungguh bahagia melihat mu. by, nama anak kita siapa?"
" Ravindra Fawwas William, seorang anak yang kuat dan selalu memiliki keberkahan dalam hidup."
" Selamat datang ke dunia Ravi, kami akan mencintaimu dengan sepenuh hati kami."
Rasa bahagia dan syukur meliputi dua keluarga besar. Semua menyambut bahagia kehadiran Ravindra. Takdir memang tidak ada yang mengetahui, dari pura-pura menjadi kesungguhan. Dari terpaksa menjadi ketulusan. Seperti yang dialami oleh Jani dna Charles. Tidak ada yang menyangka semua kini berakhir indah.
...TAMAT...
Woaaah, guys akhirnya selesai juga ini. Sungguh sangat berterimakasih untuk semua yang selalu mendukung author. Jani dan Charles lunas ya hehehe. Yang request semoga puas dengan apa yang othor sajikan.
Next akan ada kisah lain, tetep dukung author ya readers kezayengan. Lop you all puuuul.
Burung dara burung merpati
Terbang tinggi di atas awan
Jika masih ada waktu kita bertemu nanti
Mari saling menyapa dengan senyuman
Salam hormat dan sayang
Author IAS
*note: kalau ada bonchap mau bonchap tentang siapa ðŸ¤
__ADS_1