Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 59


__ADS_3

Martin saat ini sedang berada di sebuah club terbesar di kota J. ia memesan ruang VVIP untuk menghabiskan malam dan menghilangkan rasa marahnya. Sudah beberapa hari lewat setelah kejadian di ballroom Hotel Pandawa tapi Martin masih saja diliputi rasa marah.


Kenapa begitu? Hal itu jelas ia rasakan karena omset penjualannya menurun drastis. Bahkan review produk perhiasan yang baru sungguh sangat buruk. Beberapa pemesan pun membatalkan pesanan mereka karena kejadian tersebut.


" Damn ... Burhan memang kurang ajar dan Charles, sialan betul orang itu. Dari lama dia memanglah selalu menjadi penghambat Red Blue Jewelry. Gara-gara William Diamond, RBJ sangat sulit menembus pasar internasional."


Glek ... Glek ...


Martin menenggak vodka yang ada di meja langsung dari botolnya dan tak lagi menggunakan gelas. Sudah habis 3 botol dia saat ini namun kepalanya masih tegak terangkat dan belum juga ambruk.


" Hallo Tuan Martin, maafkan saya sudah lancang datang ke ruang VVIP tuan. Saya datang menawarkan kerjasama. Dan saya yakin ini akan berhasil. Sekali dayung dua hingga tiga pulau terlampaui."


Martin mengerutkan kedua alisnya saat melihat siapa yang duduk di depannya. Awalnya ia ingin marah, bagaimana bisa ruang VVIP bisa dimasuki oleh sembarang orang tanpa izin si pemesan. Tapi saat orang itu memperlihatkan sesuatu, ia pun mengurungkan niatnya untuk memaki.


" Jelaskan keuntungannya untuk ku dan mengapa kau ingin melakukan itu. Aku tidak mau membeli kucing dalam karung."


Orang itu tersenyum simpul. Ia kemudian mengatakan maksud dan tujuannya kepada Martin. Awalnya Martin sedikit terkejut. Tapi keuntungan yang akan dia peroleh dari tawaran ini tentu bukan perkara kecil.


" Baiklah, sekarang pulanglah dan datang besok ke kantorku. Kita bicarakan hal ini lebih lanjut."


Orang itu mengangguk lalu segera keluar dari ruang VVIP yang dibooking Martin. Terlihat wajah puas dan senyum lebar dari orang tersebut.


" Dan, aku akan mendapatkan lebih banyak lagi dari sebelumnya. Bukankah itu menyenangkan," ucap orang itu sambil berjalan meninggalkan klub.


🍀🍀🍀


Suara adzan berkumandang menandakan pagi mulai hadir. Jani dan Charles sudah berada di mushola kecil mereka guna menjalankan ibadah wajib 2 rakaat. Mereka melakukan ibadah bersama dengan khusyu. Selepas itu baik Charles maupun Jani melakukan aktivitas masing-masing. Jani langsung menuju ke dapur dan Charles mulai membersihkan lantai. Ya, itulah kegiatan pagi mereka. Keduanya saling berbagi tugas.


Satu jam berlangsung Jani selesai dengan kegiatan memasaknya. Ia yang tadinya mau mencuci baju dilarang oleh Charles.


" Buruan mandi. Nyuci baju nya ntar sore aja. Berangkat lebih pagi biar nggak kena macet," ujar Charles.

__ADS_1


Jani pun langsung berlari ke kamar dan mandi. Pun dengan Charles, ia mandi di kamar mandi yang berada di luar kamar.


Drtzzzzz


" Bang, lagi apa?"


" Kelar mandi ada apa Cill?"


Charles mendengar dengan seksama setiap apa yang dikatakan oleh Cilla di sambungan telepon. Ia mengangguk-anggukan kepala tanda ia memahami.


" Baik tunggu abang di kantor. Abang berangkat lebih pagi. Antar kakak ipar mu dulu ke kampus."


" Baik bang."


Charles membuang nafasnya kasar. Agak nya hal ini akan memakan waktu yang sedikit panjang. Tapi tidak masalah, ia yakin setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya.


" Kenapa by?"


" Cilla, aku minta dia buat ke perusahaan lebih pagi."


***


Selepas mengantarkan Jani, Charles bergegas ke perusahaan. Di sana masih terlihat sepi. Jam baru menunjukkan pukul 07.00, para karyawan biasanya akan datang pukul 07.30. Tapi Cilla dan Benzo sudah datang sesuai instruksi Charles.


Security memberi salam kepada Charles dan memberitahu bahwa adik dan asistennya sudah datang 15 menit yang lalu.


" Baik, terimakasih Pak Pri."


" Sama-sama Pak Bos!"


Dengan sedikit berlari Charles segera menuju ruangannya. Terlihat Cilla dna Benzo tengah sibuk di depan laptop mereka masing-masing.

__ADS_1


" Cek kontrak orang itu Ben, sampai kapan dia bekerja untum kita?" Teriak Charles dari pintu masuk ruangannya.


" Akhir bulan ini bos."


Charles memijit kedua pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Pantas saja orang itu mulai berani menjual desain-desainnya ke banyak perusahaan. Sepertinya doa tidka akan memperpanjang kontrak kerjanya dengan William Diamond.


" Jadi gimana bang?" tanya Cilla. Gadis berhijab itu tak habis pikir. Temannya yang ia begitu percaya tiba-tiba membelot begini. Vernon Jayden, designer perhiasan milik William itu adalah teman sekampus Cilla. Ia adalah pria berbakat dalam bidang desain perhiasan. Meskipun Vernon adalah lulusan teknik tapi memnag keahlian membuat rancangan perhiasan begitu mumpuni.


Cilla membawa Vernon ke perusahaan karena memang pria itu memiliki bakat. Sebuah perjanjian kontrak dibuat, awalnya Vernon setuju untuk berada di WD selama 10 tahun dengan sebuah syarat pembagian royalti atas desain yang dibuatnya. Tapi tiba-tiba ia mengubah perjanjian itu menjadi 5 tahun saja dan WD sepenuhnya memiliki desain yang ia buat.


Namun, saat ini sebuah bencana datang menghampiri WD. Vernon rupanya mulai menjual desain perhiasan itu ke berbagai perusahaan perhiasan menjelang masa kontraknya berakhir. Parahnya desain yang ia jual itu mirip-mirip dengan desai yang Vernon buat untuk WD.


Dalam dunia desain sebuah perbedaan kecil saja sudah membuat desain itu tidak bisa dikatakan meniru. Maka dari itu saat ini Charles begitu pusing. Jika perusahaan yang membeli desain milik Vernon itu memproduksinya maka jelas sekali WD tak lagi eksklusif. Ini jelas berdampak pada penjualan perhiasan William Diamond.


" Maaf bang, seandainya aku nggak bawa tuh bocah kemari mungkin semua ini nggak akan terjadi," sesal Cilla.


" Tidak ada yang perlu disesali, dan jangan menggunakan kalimat pengandaian, Allah tidak menyukai hambanya yang suka berandai-andai. Semuanya sudah terjadi, percuma juga menyesali. Kita harus memikirkan jalan keluar lainnya."


Charles menatap wajah adiknya dengan seksama. Cilla, adiknya itu dulu sekolah di bidang desain grafis, sebuah ide datang ke kepalanya.


" Mengapa kamu nggak coba buat mendesain. Kamu bukannya suka gambar, kamu juga kuliah di bidang desain. mengapa tidak memulai membuat desain itu."


" Naah, bener tuh bos. Kok malah nggak kepikiran sih," imbuh Benzo.


Cilla menatap abang dan asisten abangnya bergantian. Sebuah hembusan nafas kasar dilakukan gadis itu. Ia kemudian menggeleng pelan.


" Nggak bisa bang, Cilla nggak PeDe. Gambar Cilla sungguh sangat jelek. Cilla emang suka gambar karena itu hobi saat Cilla lagi iseng. Tapi untuk dijadikan profesional, huuuu Cilla sama sekali nggak berani," keluh Cilla.


Charles menghela nafasnya. Jika mereka tidak segera mengeluarkan produk-produk baru maka bisa dipastikan akan mulai ditinggalkan pelanggan. Keekslusifan sebuah perhiasan menjadi sebuah kebanggaan bagi pemakainya. kalau barang yang dipakai pasaran maka itu juga akan memengaruhi kenyamanan. Terlebih target market WD memang kelas atas.


" Gini aja, sekarang kamu nggak usah ikut ngurusi masalah Si Vernon ini. Coba fokus membuat desain. Abang kasih libur 3 hari untuk kamu mencoba membuatnya. Tuangkan imajinasimu di karya mu. Cill, Vernon akan menghancurkan kita. Aku yakin saat ini dia tengah mencoba melakukan itu. Entak kenapa dia begitu tapi kita haus segera mengantisipasinya."

__ADS_1


Cilla paham setiap apa yang disampaikan oleh sang kakak. Dia juga merasa bersalah. Tapi satu hal yang ia tidak tahu mengapa Vernon melakukan hal tersebut. " Kayaknya aku harus nemuin tuh orang. Aku harus tanya apa maksud semua ini. kalau dia memang mau keluar dari Wd ya nggak masalah tapi mengapa harus menjual desain yang mirip dengan apa yang ia buat untuk WD."


TBC


__ADS_2