
Di bagian Indonesia timur, saat ini Jani dan Charles tengah menikmati indahnya langit sore yang berwana jingga. Semburat kemerahan itu tampak indah. Selaras dengan matahari yang mulai kembali ke peraduannya. Warna oranye yang terpantul di lautan itu membuat suasana hati menjadi begitu damai.
Ya, saat ini Jani dan Charles mewujudkan rencana honeymoon atau yang lebih tepatnya babymoon di pulau indah sebelah timur Indonesia. Dimana sebuah desa adat dan wisata yang bernama Desa Sasak berada.
Keberagaman budaya negeri ini memang tidak pernah luput dari perhatian baik wisatawan domestik maupun manca negara. Laut yang masih bersih juga menambah daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang sedang melancong.
" Akhirnya kita bisa juga menghabiskan waktu berdua ya sayang," ucap Charles sembari menciumi pucuk kepala sang istri. Jani saat ini sedang bergelayut manja dalam pelukan Charles dan pria itu selalu menyukai saat begini.
" Iya by, alhamdulillah semua masalah selesai satu per satu. Semoga kedepannya tidak ada yang seperti ini lagi."
" Apapun itu kita hadapi bersama sayang."
Jani mengeratkan pelukannya. Beberapa bulan ini hidupnya benar-benar seperti roller coaster. Naik dengan perlahan namun diturunkan dengan kecepatan penuh. Was-was, khawatir, takut semua ia rasakan. Namun bahagia juga ia rasakan, menjadi sebuah bunga di gersangnya tanah.
" Mari masuk, sudah mau magrib. Nggak bagus ibu hamil di luar saat magrib."
Charles mengangkat dan menggendong istrinya masuk ke penginapan yang mereka sewa. Satu minggu mereka ambil untuk menghabiskan waktu berdua. Menepi dari riuhnya ibu kota dan melepaskan kepenatan yang selama ini menggelayut.
" By, ayam taliwang sama nasi puyung enak nih."
" Baiklah, apapun untuk istriku. Nanti habis magriban kita nyari ya."
Jani mengangguk, keduanya bersiap untuk menjalankan ibadah 3 rakaat tersebut. Sebuah doa keduanya panjatkan agar selalu diberi keberkahan dalam hidup dan selalu dilindungi dalam setiap menjalankan kegiatan.
" Sayang, mau langsung nyari makan?"
" Bentar by, mau ngaji bentar."
__ADS_1
Charles tersenyum, rupanya istrinya itu tidak meninggalkan kebiasaan baiknya meskipun tidak di rumah. Charles jadi ingat pertemuan pertama mereka saat di club. Ia yakin Jani bukanlah penggemar tempat itu. Satu hal yang belum Charles tahu mengapa Jani bisa di sana saat itu.
Kalimat penanda Jani selesai membaca kitab suci pun dilantunkan. Jani merapikan mukenanya kembali dan duduk di atas ranjang. Ia sedikit heran mengapa suaminya itu sedari tadi menatapnya tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun.
" Ada apa by?"
" Aku hanya penasaran. Kamu di keluarga yang ku tahu lumayan protektif dan paham agama, tapi mengapa kamu bisa ke klub. Dan waktu itu, kamu sempet mabuk bukan? Hari di mana kita bertemu pertama kali."
Jani menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak menyangka Charles akan bertanya seperti ini. Jani akui, dulu dia emang agak bandel. Masih ingin bebas melakukan apapun termasuk mencari kesenangan di klub. Tapi dia jarang sekali meminum minuman keras, dan malam itu pertamanya ia melakukan.
" Aku beberapa kali ke klub memang by. Tapi hanya sekedar main aja. Nah waktu itu aku emosi banget pas diledekin Sella. Dibilangnya anak mama, selalu diketek mama. Padahal Sella sering ngatain aku miskin, makanya tuh bocah aneh. Ya kali orang miskin jadi anak mama. Semakin kenceng dia ngeledek aku semakin kesel juga. Dia nantangin minum, ya aku kepancing. Nah aku ladenin tuh. Eeeh nggak sanggup juga. Mau pulang, tapi malah nyasar ke kamar om-om. Untuk om-om nya model begini. Kalau model buncit, botak haduuh nggak ngerti dah."
Jani bergidik saat membayangkan apa yang ia ucapkan sendiri. Sedangkan Charles ia hanya memerhatikan dan mendengarkan panjang lebar cerita istrinya itu.
Sebuah tarikan nafas panjang dilakukan oleh Charles. Apalagi saat ia membayangkan Jani benar-benar masuk di kamar pria hidung belang, aissh, membayangkan saja membuat Charles ngeri.
Jani terkekeh geli saat melihat Charles bicara di depan perutnya. Ia bersyukur mendapatkan Charles sebagai suaminya. Pria yang usia nya terpaut hampir 11 tahun dengannya itu memang pribadi yang dewasa dan ngemong.
" Terimakasih by, terimakasih sudah menerima kurangku. Terimakasih sudah sabar menghadapi aku."
" Sama-sama sayang, terimakasih juga sudah hadir dalam hidupku. Kamu adalah sebuah anugrah yang terindah yang Tuhan berikan. Kamu dan anak kita, sekarang menjadi prioritas utama dalam hidupku."
Jani memeluk Charles dan mencium bibir sang suami. Ciuman itu kali ini hanya sekedar ciuman dan tidak lebih. Sebuah ketulusan dan rasa saling mencintai bisa dirasakan di sana.
🍀🍀🍀
Lain Charles lain pula Benzo sang asisten. Terlihat malam itu Benzo baru keluar dari gedung WD. Ia merenggangkan ototnya dengan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
" Buset, gue udah masuk dalam kategori pemuda jompo. Wait, pemuda jompo atau bujang lapuk. Aish ... Mblo, kapan ini akan berakhir. Pengen juga gitu macam bos, pulang disambut istri. Baiklah Ben, lancarkan saja halu mu. Siapa tahu tuing, langsung di kasih jodoh dari langit."
Benzo masuk ke dalam mobilnya dan bersiap untuk pulang. Ia mulai melajukan mobilnya keluar dari pekarangan gedung WD. Menyusuri gelapnya malam, rintik hujan mulai turun.
Bukan dingin, tapi lumayan segar. Suasana panas di ibu kota menjadi lebih sejuk saat hujan mulai sedikit bertambah deras.
" Akhirnya hujan juga, lumayan mengurangi polisi eh polusi udara," gumam Benzo lirih. Ia tak lupa menyalakan wiper agar jarak pandangnya bisa tetap aman saat mengemudi.
Menuju jalan yang mengarah ke rumah miliknya, Benzo dibuat terkejut saat melihat seseorang berdiri di tengah hujan sambil berusaha menutupi mobil bak terbukanya dengan terpal. Awalnya Benzo acuh, tapi ia tidak tega juga terlebih orang itu sangat kesusahan. Ia oun menghentikan mobilnya dan keluar dari sana.
Benzo selalu sedia payung di bagasi mobil, ia lalu turun dan berjalan menghampiri orang tersebut untuk menawarkan bantuan.
" Ada yang bisa saya bantu?"
" Maaf, jika tidak merepotkan, bisakah saya meminta tolong untuk mengaitkan terpal itu di sisi-sisi mobil. Sebelum semua tanaman hias ini hancur. Sekali lagi maaf dan terimakasih sebelumya."
Benzo mengangguk ia kemudian membantu orang tersebut untuk segera menutupi tanaman yang ada di atas mobil pick up. Meskipun menggunakan jas hujan plastik, bisa ia lihat wajah orang tersebut sangat murung.
" Baiklah sudah ... maaf kalau tidak keberatan menjawab, apakah baru saja mengambil tanaman-tanaman ini?"
" Bukan tuan, sebenarnya hari ini saya diminta mengirim tanaman-tanaman ini. Ada yang memesan, tapi orang yang bersangkutan mengatakan bukan jenis itu yang dia mau. Padahal saat memesan jelas-jelas dia mau, akhirnya dengan terpaksa saya membawanya kembali."
Benzo membuang nafasnya kasar, selalu, dalam hal bisnis ada saja hal-hal seperti ini terjadi.
" Semoga Anda diberi kesabaran. Aah iya perkenalkan nama saya Benzo Ronald."
" Saya, Lidya Kertajasa. Terimakasih untuk bantuan Anda tuan Benzo."
__ADS_1
TBC