Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 69


__ADS_3

Seseorang tersenyum saat menghentikan mobilnya di ujung gang. Besok perhiasan yang ia inginkan akan selesai. Itu adalah hal yang paling menyenangkan di beberapa hari yang menyebalkan bagi dirinya.


Vernon, pria itu kemudian turun dari mobil. Ia merasa rindu dengan Jani. Apalagi setelah melihat Jani yang datang ke perusahaan waktu itu membuatnya semakin ingin dekat dan menyentuh Jani.


" Aku datang sayang," gumam Vernon.


Ia berjalan sembari bersenandung. Semakin dekat dengan rumah Charles maka semakin lebat senyum Vernon. Ia melirik jam di tangannya. Itu sekitar pukul 10 malam. Sebuah keyakinan masuk dalam benak Vernon kalau Jani pasti sudah tidur.


" Kamu pasti cantik sekali kalau sedang tidur. Putri tidurku. Aku akan datang dan membawamu pergi dari pria jahat itu."


Vernon berjalan mendekat ke arah rumah. Ia mencoba memutari rumah itu dan mencari letak kamar Jani. Vernon berjalan ke sisi kiri, ada sebuah kamar di sana tapi terlihat tidak berpenghuni. Ia kemudian mencoba ke sisi kanan, di sana bukanlah sebuah kamar.


" Tidak, aku tidak ingin gagal. Aku harus bisa melihat Jani."


Vernon memutari rumah bergaya amerika itu. Ia mencoba mencari cara agar bisa masuk ke sana. Merasa di bawah ia tidak menemukan apapun, Vernon mencoba melihat ke atas. Sebuah senyuman terbit saat ia melihat ada loteng di sana. Tampaknya itu biasa digunakan untuk menjemur pakaian.


Vernon berusaha memanjat loteng, ia akan mencoba masuk dari tempa itu. Ia yakin akan bisa masuk ke sana.


Hap, Vernon mendaratkan kakinya di lantai loteng. Ia tersenyum senang saat melihat ada sebuah pintu di sana.


" Pintu yang ini tidak mungkin menggunakan kata sandi seperti pintu utama bukan."


Vernon berusaha untuk membuka pintu itu dengan menggunakan sebuah kawat. Dan, klek berhasil. dengan mudah Vernon berhasil masuk ke kediaman Charles.


( Jangan ada yang protes, kan ada cctv emang nggak tahu. Ini Charles ma Jani pada tidur dan fokus penjagaan tidak di rumah Charles tapi di kediaman Dwilaga.)


Dengan langkah perlahan Vernon masuk ke dalam rumah melalui loteng. Ada sebuah tangga kecil untuk turun. Tapi Vernon merasa ada yang aneh rumah tersebut begitu sepi. Memang sih ini sudah malam dan mungkin sudah pada tidur, tapi ini serasa tidak berpenghuni.


Vernon terus turun mencoba untuk mencari di stiap kamar di rumah itu. Total ada 3 kamar di sana. Satu yang ia lihat tadi sama sekali tidak ada tanda-tanda di huni. Vernon pun ke kamar yang satu, itu kamar paling besar, ia yakin itu kamar Charles. ia membukanya perlahan.

__ADS_1


" Mereka tidak di rumah. Apa Charles sedang ke luar kota? Jika begitu Jani pasti ada di rumah sendiri. Tapi di kamar ini ada barang-barang perempuan. Tidak, kau yakin ini hanya kamuflase agar orang tua mereka tidak curiga mereka bersandiwara. Ya benar seperti itu."


Vernon tidak menyerah, dan tetap kukuh dengan pemikirannya tentang pernikahan Jani dan Charles yang menurutnya hanya pura-pura.


Pria itu kemudian kembali keluar, ia lalu masuk ke kamar sebelah. Kamar yang tepat bersebelahan dengan kamar Charles. Kamar itu begitu rapi. Tidak banyak barang yang di sana. Tapi Vernon mencoba untuk membuka isi lemari. Ia tersenyum lebar saat mendapati ada pakaian wanita di sana meskipun tidak banyak.


Vernon mengambil semua pakaian yang ada di sana. Tidak ada koper tote bag pun jadi. Ia meyakini pakaian yang dikamar itu adalah pakaian Jani yang sering dipakai, maka dari itu ia mengambilnya semua. Bahkan sampai pakaian dalamm pun ia bawa.


Sreet


Vernon sedikit terkejut saat sebuah kertas tertarik oleh tangannya saat mengambil pakaian terakhir. Awalnya dia tidak peduli, tapi saat ia melihat sekelebat benda tidak asing di kertas itu ia pun mengambilnya.


Sebuah materai, Vernon pun segera menyalakan lampu utama. Kedua sudut bibirnya sehingga membuat sebuah lengkungan.


" I got it, kan sudah ku bilang. Ini semua terpaksa. Baiklah jani sayang, aku akan segera membawamu pergi dari sini. Tunggu aku. malam ini kita tidak akan bertemu, tapi aku yakin besok malam kamu sudah berada di pelukanku."


Kediaman Dwilaga pagi hari sudah dihebohkan oleh kelakuan Jani yang merengek minta dibuatkan bubur sumsum oleh Andra. Kontan Andra teriak histeris. Dia baru saja sampai rumah setelah berpergian. tubuhnya jelas sangat lelah tapi tiba-tiba sang adik merengek begitu.


" Kucrit apa an sih. Nggak tahu apa abang capek begini," keluh Andra.


" Sayang beli aja ya, kasihan kan Bang Andra nya baru juga sampai rumah." Charles berusaha membujuk sang istri tapi Jani tetap tidak mau.


" Crit, lu napa dah. Rese ih!"


Jani seketika menangis saat Andra berbicara dengan nada sedikit tinggi. Panik sudah kakak ketiga Jani tersebut. Selama ini mereka sering sekali bertengkar tapi tidak pernah Jani menangis sampai segitunya.


Bungsu keluarga Dwilaga itu langsung merangsek ke pelukan sang suami. Charles sungguh bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba begitu sensitif itu. Ia menjadi merasa tidak enak dengan Andra.


Plak

__ADS_1


Sekar yang datang dari taman belakang langsung menepuk lengan Andra dengan sedikit keras karena membuat adiknya menangis. Andra sungguh kebingungan, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ada apa sih Crit, abang minta maaf ya. Abang nggak maksud buat ngebentak kucrit."


Jani masih terisak, dia enggan menatap sang abang.


" Bang Charles, setelah sarapan langsung ke RSMH ya. Dika, sudah membuatkan janji untuk Jani memeriksakan dirinya kepada Dokter Lisa."


Charles mengerutkan kedua alisnya pun dengan Jani, ia langsung duduk dengan tegak. Ia merasa tubuhnya baik-baik saja, jadi mengapa harus pergi ke dokter segala.


" Jani nggak sakit bund? Astagfirullaah, iya bun. Sekarang saya baru paham. Ya, setelah ini saya akan membawa Jani ke rumah sakit."


Charles baru mengingat kata-kata Cilla kemarin bahwa jika saja mungkin Jani tengah mengandung. Charles tersenyum lalu mengusap lembut kepala sang istri.


" Andra, segera buatkan bubur sumsum permintaan Jani, nanti bunda bantu."


" Kenapa nggak bunda aja."


" Itu yang minta calon keponakan kamu."


Pluk


Andra baru paham sekarang mengapa si bungsu begitu. Ia jadi teringat kejadian kedua kakak iparnya terdahulu.


" Astaga. Nasib mu mblo, jadi tumbal mulu buat para bumil. Nggak ipar nggak adek sendiri tetep jadi korban."


Sekar terkekeh geli mendengar gerutuan anak ketiganya itu. Ia tahu bagaimana kedua menantunya dulu saat mengidam, Andra juga terkena imbas nya. Sama seperti saat ini.


TBC

__ADS_1


__ADS_2