Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 56


__ADS_3

" Apa yang kamu lakukan tadi di kampus? Ada perlu apa kamu di kampus, Sell?"


Pujo yang baru saja pulang dari Universitas Nusantara langsung menemui putrinya. Ia memang masih wira-wiri ke universitas untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirnya sebelum sepenuhnya berhenti. Dan, yang tadi melihat Sella aada di kampus pun juga Pujo. Banyak tanya dalam benak Pujo mengenai sang anak.


" Eng-enggak ngapa-ngapain kok pa! Beneran Sella nggak ngelakuin yang aneh-aneh."


Mata Pujo memicing, ia tidak serta merta percaya dengan apa yang Sella katakan. Pujo merasa Sella saat ini sedang menyembunyikan sesuatu. Sebagai ayah dia paham betul perangai anak gadis nya itu.


" Sell, papa ingatkan kepadamu. Kalau kamu berniat buruk dan ternyata kamu benar melakukannya, maka papa tidak akan menolong kamu. bahkan jika kamu dipenjara sekalipun papa tidak akan membebaskan kamu. jadi pikirkan dari sekarang. ingat Sell, obsesi itu buruk, berubah lah dan terima takdir yang ada. Jika kamu sudah tidak mendengarkan apa kata papa maka terserah lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. tapi ingat, saat itu juga papa lepas tangan terhadap apa yang terjadi dalam hidupmu."


Glek


Sella menelan saliva nya dengan susah payah. Ia tidak menyangka papa nya itu memili feeling yang kuat terhadap dirinya. Jika sang papa sudah mengatakan hal tersebut maka bisa dipastikan akan dilakukan.


Pujo melenggang masuk ke kamar setelah mengatakan peringatan kepada sang putri. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar segera bisa pergi dari Kota J. Sella tidak bisa dibiarkan terus berada di kota ini, ia merasa putrinya akan berbuat buruk.


Lidya, bibi dari Sella itu menghampiri keponakannya. ia mengulurkan tangan untuk mengusap lembut kepala Sella.


" Dek, sudah. turuti kata papa mu ya. dek, coba adek pikir lagi, apa adek beneran akan berbuat yang buruk? Jika benar, apa dengan itu akan membuat adek puas? Lalu jika adek masuk penjara misalnya, apakah adek siap hidup di sana? lantai dingin, jauh dari keluarga, jauh dari peradaban. setipa hari hanya ruangan sama yang bisa dilihat."


Tubuh Sella merinding seketika saat mendengar semua yang Lidya katakan. Ia langsung membayangkan hal itu. Dia berada di penjara dan orang yang ingin dia celakai tetap bebas hirup di luat. Sella menggelengkan kepalanya cepat untuk membuyarkan bayangan yang masuk ke kepalanya.

__ADS_1


" Dek, membenci orang itu tidak baik, iri, dengki, itu adalah cara setan untuk menghasut manusia. Adek tidak akan merasa tenang sampai kapanpun. Seperti saat ini, bibi yakin Adek terus merasa gelisah. Dek tahu nggak, itu adalah hati yang belum lapang. Adek masih punya kesalahan yang belum ada selesaikan. Adek belumlah meminta maaf kepada jani, bahkan adek semakin membenci Jani. Dek, dia lho nggak salah apapun sama kamu. Sebaliknya, kamu yang udah banyak salah sama dia."


Sella tertegun dengan perkataan Lidya. Apa yang dikatakan Lidya semuanya benar Jani memang tidak pernah punya salah dengan dirinya tapi ia menganggap Jani adalah musuh. Padahal selama ini Jani tidak pernah menyinggungnya tapi dia lah yang sering menyinggung Jani.


Sella tertunduk, sepertinya ia mulai mengerti bahwa banyak sekali kesalahan yang ia lakukan. Tanpa berkata apapun, Sella bangkit dari duduknya dan berlalu masuk ke kamar. Lidya menghembuskan nafasnya pelan, ia berharap Sella mengerti dengan apa yang ia katakan itu.


🍀🍀🍀


Charles menghentikan jalannya saat melintas di depan ruangan Cilla. Ia kemudian mengerutkan alisnya saat melihat sosok pria yang belum pernah ia kenal duduk berhadapan dengan Cilla.


Selama ini sang adik tidak pernah terlihat bersama pria manapun kecuali Benzo. Tapi detik selanjutnya Charles maklum, usia Cilla sudah 25 tahun, mungkin sudah waktunya bagi sang adik untuk mendapatkan pendamping hidup.


Charles menarik lengan Ben saat asistennya itu menghampirinya. Charles begitu penasaran, pasalnya ia melihat Cilla begitu nyaman berbicara dengan pria itu.


" Darius Edmund, CEO MoonDrink, katanya mereka beberapa kali bertemu."


Benzo melewatkan cerita malam itu. Ia sudah berjanji kepada Cilla untuk tidak menceritakan kejadian malam tersebut kepada Charles dan kedua orang tua Cilla.


" Ooh oke, ayo balik ke ruanganku."


Dengan masih memegang lengan Benzi, Charles berjalan menuju ruangannya. Benzo hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang bos. Semenjak menikah bosnya itu tidak terlalu kaku, malah kadang menjadi absurd.

__ADS_1


" Apa ini yang dinamakan menemukan pawang yang tepat, eh maksudku pasangan yang tepat," batin Benzo. Meskipun merasa aneh tapi Ben tetap mengikuti sang bos hingga ke ruangannya.


" Jadi Nona Cilla apakah berminat untuk jadi model MoonDrink?"


Darius rupanya mengajak Cilla untuk menjadi model produknya. Namun dengan cepat Cilla menolak. Itu sungguh bukan keahliannya. Lagi pula Cilla tidak suka tampil di depan publik.


" Wadduh Tuan Darius, bukannya saya menolak. Tapi sungguh saya tidak bisa. Begini saja, saya alan rekomendasikan beberapa model William Diamond. Siapa tahu ada yang cocok untuk iklan produk Anda."


" Apakah bisa begitu? Waah terimakasih banyak, sungguh saya sangat kebingungan mencari model."


Cilla menganggukkan kepala, apa yang ia katakan tentu bukan hanya omong kosong belaka. Terbukti Cilla langsung memperlihatkan beberapa foto model lengkap dengan komposit nya sehingga Darius bisa melihat dan memilih yang sesuai dengan produk yang akan diiklankan.


Akan tetapi, sepertinya Darius sama sekali tidak memperhatikan apa yang dibicarakan. Sedari tadi dia hanya memerhatikan cara Cilla berbicara.


" Bagaimana, apakah Tuan Darius sudah memutuskan apa yang cocok?" Cilla memastikan dengan bertanya.


" Bisakah memanggilku dengan sebutan lain. Jangan tuan."


" Eh ... ."


TBC

__ADS_1


__ADS_2