
Beberapa hari berlalu, Jani sudah merasa dirinya sangat baik. bahunya juga sudah tidak sakit. Saat ini dia sedang berada di dapur untuk kembali memasak. Di dalam kamar Charles yang baru saja keluar dari kamar mandi sedikit kebingungan mencari istrinya. ia pun berjalan cepat keluar. Dilihatnya Jani tengah sibuk melakukan aktivitas memasaknya.
Dengan perlahan Charles berjalan dan greb, dia memeluk jani dari belakang. Sedikit membuat Jani terkejut dan hampir saja spatula itu melayang di kepala Charles.
" Kaget ihh."
" Maaf, ya ampun bau bawang pun masih tetep enak asli. Jadi pengen bawa ke kamar lagi."
Jani menepuk keningnya pelan. Semakin hari suaminya itu semakin mesum jika sedang berdua. ya, Mbok Nah saat ini sedang kembali ke kediaman Rosa dan Roberth. keluarga Mbok Nah datang jadi beberapa hari Mbok Nah akan berada di sana.
Charles terus saja mengganggu jani yang sedang memasak. Ia mulai menciumi jani di sana sini membuat wanita itu kesal.
" Ooooom, awas iiih. nanti nggak mateng-mateng. lagian mau ke perusahaan kan. Jadi please minggir dulu."
" Nggak pengen ke kantor, mau di rumah aja sama kamu gimana. Ada Cilla sama Benzo ini. Yook kapan kita honeymoon."
Jani menggeleng, mereka tampaknya gagal untuk berbulan madu karena minggu ini Jani ada ujian semester. Jadi sangat jelas mereka tidak bisa pergi. Charles yang mengetahui itu seketika lunglai dan lemas. Keinginannya menghabiskan waktu berdua bersama istri kecilnya itu harus tertunda lagi.
" Gagal deh," keluh Charles.
" Halah, di rumah juga bisa kok. Sama aja dimanapun tempatnya ujung-ujungnya kasur juga," ujar Jani sambil mengedipkan kedua matanya ke arah Charles. Pria itu tentu tidak tahan dengan ulah Jani. Tanpa basa basi, Charles mengangkat tubuh Jani layaknya mengangkat karuh beras. Tak lupa ia mematikan kompor.
" By, ampuuun."
" Hohoho tidak bisa, salah sendiri mancing."
Jani pasrah saat dirinya di bawa kembali ke kamar. Terlebih dia harus merelakan masakannya yang jelas tidak akan matang karena ulah sang suami. Pagi itu Charles kembali meminta hak nya dan Jani tentu juga senang saja melakukannya. Semakin hari rasa cinta keduanya semakin bertambah. Tidak lagi ada ragu dalam hati Jani dan Charles atas pilihan hidupnya.
TAMAT ...
Nggak belum kok, masih lanjut hehehe.
__ADS_1
Keduanya kembali keluar kamar dalam keadaan sudah rapi, Jani mau tidak mau harus mandi lagi pun dengan Charles. Sarapan mereka diubah menunya menjadi roti oles selai. Ya, hanya itu yang akan mereka makan karena apa yang dimasak Jani tidak matang. Semua karena ulah Charles, padahal Jani juga menikmati.
" Aku akan berangkat ke kampus By," ucap Jani.
" Oke aku antar, Jangan pakai motor dulu.A ku masih was-was. entah, aku merasa gadis itu akan kembali lagi."
" Semoga tidak, dan semoga Sella sudah kapok dengan hukumannya itu."
Charles hanya mengangguk kecil. Dalam hatinya ia belum sepenuhnya yakin bahwa gadis yang namanya Sella akan berhenti mengganggu Jani. Jika dil.ihat dari cerita sang istri, Sella itu begitu membenci Jani. maka dari itu Charles memiliki kemungkinan bahwa Sella akan masih berusaha mengganggu Jani.
" Aku bawa mobil aja ya," pinta Jani.
" Jangan sayang, aku antar dulu aja ya. Nanti kalau memang udah full sembuh boleh lah bawa sendiri."
Charles sungguh masih khawatir dengan keadaan sang istri. Jika boleh, dia ingin Jani lebih lama istirahat di rumah. Tapi tampaknya itu tidak bisa. Jani terlihat mulai merasa bosan berada di rumah.
🍀🍀🍀
Namun, pria itu sungguh tidak fokus. Sedari tadi dia merasa gelisah. Tiba-tiba dirinya teringat akan Agatha. Sudah lama sejak terakhir kali Agatha datang ke apartemennya waktu itu, dan mereka tidka lagi bertemu.
Sekarang ini Agatha juga tidak tampak berseliweran. Sean yang juga dibebaskan oleh pihak WD untuk mengambil job lain tidak pernah bertemu dnegan Agatha.
" Kau kemana sebenarnya, mengapa tidak pernah kelihatan?" gumam Sean pelan.
Pria itu kemudian membereskan perlengkapannya saat bagian pemotretan dirinya selesai. Saat hendak keluar Sean melintas di depan ruang make up. Beberapa perkataan model lain membuatnya berhenti di sana dan mendengarkan sejenak.
" Katanya Agatha pensiun dini ya."
" Oh ha, bagus lah. Terlalu sok ya gitu, turunnya cepet."
" Tapi aku yakin sih ada apa-apa. Bokapnya kan terbukti nyuri desain William Diamond. Kupikir dia malu deh."
__ADS_1
" Aah bisa jadi, skandal lagi. Tapi biasanya bukannya kalau kena skandal malah jadi naik ya pamornya."
Semua yang ada di ruangan tersebut tertawa terbahak-bahak. Mengingat Agatha adalah wanita sombong nan angkuh, membuat mereka tampak senang saat ada rumor Agatha berhenti dari dunia modeling.
Sean yang mendengar hal tersebut tentu langsung terkejut. Beberapa kali dia mencoba untuk menghubungi Agatha namun tak juga di jawab.
" Rumah, aku coba saja ke sana."
Sean bergegas keluar dari kantor WD dan langsung menuju ke rumah pribadi milik Agatha. Sesampainya di sana Sean terkejut saat mendapati ada baner yang ditempel di pagar. Dalam baner tersebut ada sebuah tulisan berhuruf kapital 'RUMAH INI DIJUAL', Sean seketika lemas. Kemana dia harus mencari Agatha. Salah satu orang yang ia kenal dekat dengan Agatha pun tidak tahu keberadaan Agatha.
Sebelumnya Sean sudah menghubungi Lita. Tetapi, Lita sendiri tidak tahu dimana Agatha. Sean pun pasrah, mungkin dia tidak akan bisa bertemu dengan Agatha lagi. Ia kemudian kembali masuk ke dalam mobil. Sean kembali melihat rumah Agatha dan baner tersebut, sebuah hal membuatnya tersenyum.
" Laaah itu ada nomornya, akan ku coba hubungi."
Sean sejenak merutuki kebodohannya yang kurang teliti dengan adanya nomor telepon di baner itu.
" Ya hallo."
" Apakah ini nomor pemilik rumah yang di jual?"
" Ooh bukan saya adiknya. Ada apa ya, apakah Anda mau membeli rumah kakak saya?"
Sean terdiam sesaat, membeli rumah? Tidak, dia tidak mungkin membeli rumah Agatha. Sean mencoba berpikir keras agar bisa mendapatkan informasi mengenai Agatha.
" Aah adiknya Agatha. Begini saya adalah teman dekatnya Agatha, saya sedikit kebingungan mencari keberadaan Agatha. Apakah bisa memberitahu dimana Agatha berada? Ada sesuatu ham yang ingin saya sampaikan kepada dia."
Hening, tidka ada suara dari seberang sana. Hingga kemudian beberapa saat panggilan telepon itu mati. Sean membuang nafasnya kasar. Tapi beberapa menit kemudian ada pesan masuk, sebuah lokasi dikirimkan dari nomor yang tadi ia hubungi.
" Yess, akhirnya aku bisa bertemu dengan mu lagi."
TBC
__ADS_1