
Cilla menyetujui apa yang dikatakan oleh Charles. Hari ini dia mulai libur hingga 2 hari kedepan. Cilla berniat untuk mengunjungi pantai, siapa tahu dia menemukan inspirasi di sana. Tapi seperti perkataannya, ia ingin menemui Vernon dulu.
Cilla tidak menghubungi Vernon tapi ia langsung mendatangi rumah temannya itu. Tapi sat mulai mendekat ke area rumah, ia melihat mobil Vernon keluar dari halaman.
" Kemana tuh orang. Sudah 2 hari dia nggak ke perusahaan. Mentang-mentang akhir bulan kelar kontrak dia seenaknya saja." Cilla bergumam sambil membuntuti mobil Vernon.
sekitar 45 menit Cilla membuntuti Vernon dengan jarak aman akhirnya gadis itu tahu kemana pria tersebut pergi. " Oooh ternyata begini, Baiklah aku paham sekarang."
Vernon masuk ke pekarangan perusahaan Red Blue Jewelry. Sebuah kesimpulan yang Cilla ambil yakni Vernon bekerjasama dengan Martin. Ia pun buru-buru memberi kabar itu kepada Charles. Di seberang sana Charles mulai paham siap rivalnya kali ini.
" Tampaknya ada yang mau bermain-main denganku. Baiklah dengan senang hati akan ku layani. Cilla, kamu lakukan apa yang abang katakan kemarin. jangan pikirkan soal ini. Biar aku dan Ben yang menanganinya."
" Baik bang."
Charles yang masih berada di rumah dan belum berangkat mengantar istrinya itu ke kampus sat ini tengah bersiap. Ia hendak mengganti pakaiannya, dari kaos oblong dan sarung menjadi kemeja dan celana panjang. Tapi saat ia membuka kaosnya, Jani langsung memeluk dari belakang.
" Hey bocah, kenapa tiba-tiba meluk. Sudah hampir siang ini, nanti telat lho ke kampus."
Bukannya menjawab, Jani malah menciumi punggung Charles membuat pria itu bangkit hasratnya. Apalagi tangan Jani mulai meraba dada dan terus turun ke bawah.
" Astaga sayang, apa yang kamu lakukan hmm. Kalau kamu terus melakukan ini maka kita akan berakhir di situ dan kamu bisa telat masuk tes semester."
" Pengen aja nyium aromamu. Tapi aku nggak mau berakhir di kasur."
Kepala Charles mendadak pening. Istrinya ini entah sedang mode kucing atau bagaimana. Dia mengendus-endus tubuhnya layaknya kucing yang sedang ingin di manja-manja oleh sang pemilik.
Charles langsung menangkap tangan Jani yang mulai meraba bagian bawahnya dan alhasil miliknya mulai bereaksi. Tapi Charles tahu ini tidak bisa dilakukan karena jani harus segera pergi ke kampus.
" Sayang, mau bermain? nanti ya kalau sudah pulang. Sekarang kuliah dulu oke?" bujuk Charles.
" Huft, nggak seru," ucap Jani dengan nada kesal dan lalu berbalik meninggalkan Charles yang kebingungan.
__ADS_1
" Laah ini bocah salah makan kali ya. kenapa jadi gitu dah."
Charles hanya menatap heran ke arah punggung Jani yang mulai menjauh dan menghilang dari balik pintu. Ia tidak habis pikir, mengapa pagi ini begitu aneh. Tapi Charles menepis pikirannya, ia mulai memakai pakaian kerja yangs udah disiapkan oleh Jani.
Di ruang makan jani tampak kesal. Mood nya tiba-tiba turun drastis. Bibirnya sudah maju 5 centimeter, bahkan sepertinya bisa untuk cantelan gayung. Charles yang baru keluar dari kamar dan menghampiri sang istri hanya terkekeh geli melihat wajah istrinya begitu. tapi sebisa mungkin ia menahannya agar mood Jani tidak semakin buruk.
" Masih marah? masih kesel? nanti akau akan pulang cepat, sepuasnya dah kalau mau endus-endus. jadi jangan kesel ya, nanti mau ujian. Sayang belajarnya semaleman ilang gegara kesel."
" Beneran pulang cepet? Oke kalau begitu."
" Haa?"
Charles terperangah, ia membuka mulutnya lebar-lebar. Padahal ia niatnya bercanda tapi sepertinya Jani menganggap itu serius.
" Mampuss, mana maslaah di perusahaan lagi crowded," gumam Charles lirih.
🍀🍀🍀
Sebenarnya saran Charles untuk dia libur sungguh membuat Cilla merasa senang. Awalnya memang ia berat meninggalkan perusahaan, apalagi saat ini banyak permasalahan yang harus diurus. Akan tetapi, saat berada di alam begini cukup membuat senyum gadis berhijab itu mengembang.
" Haaaaah, anginnya seger. Lumayan masih pagi jadi masih enakeuuun," ucap Cilla sambil membentangkan tangannya menikmati hembusan angin pantai.
Seseorang dari tempat yang sedikit jauh melihat gadis itu dengan senyum. Tidak sia-sia dia mengikutinya sehingga bisa berada di tempat yang sama dengan si gadis. Tapi dia tidak berkeinginan untuk menghampiri. Ia akan melihat dari jauh saja.
" Aishhh, apa aku ditaraf mengejar? Apa ini adalah akibat dari kegagalan cinta waktu itu sehingga aku segitunya. Jangan sampai aku dikira penguntit nantinya ha ha ha," gumam Darius lirih tapi dengan tertawa kecil. Ya, orang yang saat ini memperhatikan Cilla adalah Darius. Ia terus melihat gadis itu. Semakin dilihat keinginan Darius untuk mendekati Cilla semakin besar. Kali ini dia bertekad untuk memperjuangkan hatinya. Darius tidak ingin gagal kali ini.
Di depan sana Cilla mengeluarkan kertas sketsa dan pensilnya dari dalam tas. Ia mulai menggoreskan pensilnya itu di atas kertas. Sebuah ide masuk ke dalam kepalanya.
Cilla teringat oleh Jani, sang kakak ipar. Ia mengingat momen saat Jani dan Charles menikah. Kecantikan natural Jani saat itu membuat Cilla mempunyai bayangan sebuah perhiasan yang jika dipakai Jani maka akan menambah cantik.
" Berlian merah muda, itu pasti akan sangat cantik," ucap Cilla bersemangat. Ia terus fokus dengan buku sketsa dan pensilnya hingga tanpa sadar ada seseorang yang datang menghampirinya.
__ADS_1
" Kita ketemu di sini La, ku pikir kamu kerja ternyata kamu di sini."
" Ver, kok kamu bisa di sini?"
Cilla segera menutup buku sketsanya. Ia tentu terkejut melihat Vernon ada di tempat itu. Pasalnya tadi ia jelas melihat mobil Vernon memasuki perusahaan Red Blue Jewelry.
" Kenapa memangnya nggak boleh. ini tempat umum La, siapa aja boleh kemari."
Cilla mengerutkan kedua alisnya. Ia merasa Vernon tidak bertindak seperti biasanya. Cilla memasang kewaspadaan tinggi terhadap temannya itu. Ia punya perasaan yang tidak enak.
" Oh iya Ver, apa kamu benar tidak akan memperpanjang kontakmu dengan kami?"
" Ya, begitulah. Hanya tinggal sampai akhir bulan ini bukan dan aku akan pergi dari William Diamond. Kenapa? Apa tidak rela aku pergi?"
Cilla semakin merinding melihat tatapan Vernon kepada dirinya. Ini sungguh lian dari biasanya. Cilla pun merangsek mundur berusaha menjauhkan dirinya dari Vernon. Tapi setiap beberapa jengkal ia mundur, maka Vernon juga semakin maju.
Cilla langsung memasukkan bukunya ke dalam tas dan membuat kuda-kuda. Tangannya berada di depan tubuhnya berjaga-jaga jika Vernon melakukan sesuatu padanya.
" Kenapa La, segitunya sama aku."
" Kamu aneh Ver. Kamu nggak kayak biasanya."
Vernon menyeringai, dan hal itu membuat Cilla bergidik. Vernon benar-benar terlihat sangat aneh. Cilla akhirnya bangkit dari duduknya dan berdiri. Saat ia hendak membalikkan badan, Vernon dengan cepat menarik tangan Cilla dan mendorongnya. Cilla yang berdiri di bebatuan tentu sedikit limbung. Kini hanya tangan Vernon yang menjadi pegangannya.
" Kau, kau mau apa Ver!"
" Aku? Aku mau apa? Aku mau abangmu menangis pilu karena dia sudah mengambil apa yang aku inginkan selama ini. Dan aku akan membuat dia menangis mulai dari kamu. Jadi bye Cilla ... "
" Aaaa ... !!!"
TBC
__ADS_1