
Benar saja, Agatha dan Martin keluar dari perusahaan RBJ bersama-sama dan menaiki mobil yang sama juga. Tampaknya mereka benar-benar akan melakukan apa yang mereka rencanakan tadi.
Semua karyawan yang melihat Agatha dan bos mereka itu sungguh merasa terkejut, pasalnya selama ini Martin tidak pernah memperlihatkan kedekatan dengan wanita manapun. Tapi dengan Agatha, Martin begitu terang-terangan.
" Bagus, selangkah lebih dekat menjadi seorang kaya raya yang terpandang. Charles kau akan kalah, kita lihat nanti. Para pelanggan mu pun sudah mulai berpaling."
Burhan tertawa dengan perasaan puas hati. Setelah melihat Mobil yang dinaiki Martin dan Agatha menjauh dari gedung RBJ, Burhan pun ikut pegi juga. Dia ingin pulang lebih cepat.
Kringgg
Ponsel Burhan berbunyi, |Sebuah panggilan masuk dari seorang rekannya. " Iya ada apa, bagus. Kita akan lakukan yang sama juga. Kerjakan terus, yakinkan para konsumen bahwa RBJ lah yang memiliki keaslian design itu."
Burhan menarik nafasnya penuh dengan kelegaan. Apa yang dia rencanakan iya akin akan berjalan dengan sangat lancar. Hanya kurang beberapa hari lagi William Diamond akan melaunching produk barunya, dan di saat itu juga Burhan akan membuat sebuah kehebohan lainnya. Rencana utamanya adalah menggagalkan peluncuran produk baru dan sekaligus menghancurkan kepercayaan konsumen terhadap William Diamond.
Di kediaman Permana, Paundra tampak Paundra marah-marah tidak jelas. Hal tersebut membuat Lani kebingungan dengan ulah putranya itu.
" Kamu kenapa sih, dari tadi begitu. Nggak jelas banget." Lani mengomeli Paundra yang terlihat menggerutu.
" Itu ma, Si Tari brengsek banget. Ditanyain dimana Jani di raat nggak pernah mau jawab. Padahal kan aku mau nunjukin kepedulian dan perhatianku sama Jani."
Lani masih tidak mengerti apa yang putranya katakan. Ia hanya mengerutkan kedua alisnya itu menanggapi cerita Paundra.
" Tck, mama pasti nggak ngerti. Itu Lho, kemarin kan Jani jatuh pas kegiatan kampus di puncak, nah dia dibawa pulang dulu. Tapi kita nggak dan yang tahu dimana Jani dirawat."
Lani membuang nafasnya kasar. tampaknya wajah tampan putranya itu tidak selaras dengan isi otaknya.
" Ndra, begoo jangan dipelihara apa. Dia kan putri Aryo dan Sekar. pastilah dia di rawat di RSMH, dimana kakak keduanya adaah dokter bedah hebat di sana dan RSMH itu rumah sakit milik keluarganya."
__ADS_1
Paundra menepuk keningnya sendiri. Ia lupa akan hal itu. bukan lupa tapi tidak berpikir hinga sejauh itu. Mata pria itu berbinar, ia kemudian mencium pipi Lani dan langsung berlari keluar.
" Makasih ma, aku akan ke sana sekarang," teriak Paundra ke arah Lani. Di depan ia berpapasan dengan Burhan. Tidak berkata apapun, Paundra hanya menepuk lengan papa nya dengan sedikit lebih keras.
" Astaga anak itu benar-benar. MAu kemana sih ma, kok buru-buru begitu?" tanya Burhan kepada sang istri.
" Mau ke rumah sakit. Menjenguk putri bungsu Aryo Dwilaga yang sedang dia incar itu," jawab Lani singkat sembari melenggang ke dapur untuk meyiapkan kopi sang suami.
Senyum Paundra begitu lebar saat memasuki gedung rumah sakit. Tangan kanannya membawa sebuket bunga mawar dan tangan kirinya membawa parcel buah yang lumayan besar. ia berjalan dengan penuh keyakinan menuju meja informasi.
" Hallo mbak, saya mau tanya. Dimana putri maksud saya dimana Rinjani dirawat ya?"
Sang resepsionis sedikit terkejut ada pria yang menanyakan adik dari dokter Dika itu. Ia menyelidik wajah Paundra. " Maaf, Anda siapa ya?"
" Saya kekasih eh maksud saya teman kampus Rinjani."
" Maaf mas, Mbak Rinjani nya sudah pulang."
Wajah Paundra yang tadinya penuh senyum seketika muram. Tapi dia tidak mau pulang dnegan tangan kosong. Paundra pun berpikir lagi, apa yang ia bisa lakukan.
" Aah begitu mbak, ya sudah saya minta alamat rumahnya ya."
" Maaf mas, saya tidak bisa memberikan informasi pasien. Jika mas memang temannya seharusnya mas tahu alamat rumah pasien."
Skak mat
Paundra langsung terdiam saat mendengar resepsionis itu mengatakan hal tersebut. Dengan kesal Paundra pergi, saat sampai di luar ia langsung membuang semau barang yang dibawanya ke tempat sampah.
__ADS_1
" Sialan, brengsek, mengapa semuanya seakan menutupi keberadaan Jani. Nggak Tari, nggak resepsionis itu, tidak ada yang bisa mengungkapkan keberadaan Jani. Semakin sulit saja aku mendekati gadis itu."
Pundra berjalan menuju tempat parkir. Dengan rasa marah yang memenuhi dadanya, pria itu mengemudikan motornya sangat cepat meninggalkan rumah sakit.
🍀🍀🍀
Paundra yang begitu marah mencari Jani berbanding terbalik dengan wanita yang dicarinya. Saat ini Jani yang ada di kamar berkali-kali melihat ke arah jam di ponselnya. Sudah pukul 19.30 tapi Charles belum juga pulang. Ingin menelpon tapi Jani takut suaminya itu tengah sibuk.
Jani tadi mendengar dari ayah mertuanya bahwa perusahaan sedang kacau. Maka dari itu Jani menahan diri untuk menghubungi Charles.
" Kok sepi bener ya nggak ada om suami. Biasanya selalu ada di rumah, pas nggak kelihatan lumayan kosong juga."
Jani bergumam pelan, padahal di rumah ada kedua orang tua dan mertuanya tapi Jani merasa ada yang kurang. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur. Tapi tetap saja ia tidak bisa, padahal tadi sudah minum obat, rasa kantuk itu sama sekali tidak hinggap.
" Huftt, om suami, kapan pulang sih."
Cekleek
Pintu kamar Jani di buka. Dengan cepat Jani membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu. Senyum wanita itu mengembang sempurna melihat siapa yang masuk ke kamarnya.
" Om, kok lama sih pulangnya."
" Apa kamu merindukan aku? Haish, senengnya ada yang rindu. Kenapa sayang hmmm? Tunggu aku mandi sekalian sholat isya dulu ya."
Jani mengangguk, dan Charles langsung berlalu ke kamar mandi. Tapi sebelum itu, Charles membuka kemeja nya. Dapat Jani lihat otot perut suaminya itu sungguh terbentuk dengan bagus. Jani menatap nya tanpa berkedip sekaligus.
" Astaga, om suami kenapa malam ini kelihatan seksii sekali. Haduuh parah nih. Om-om meresahkan memang."
__ADS_1
TBC