
Dika menepuk punggung Charles. Ya, Dika juga berada di sana bersama dengan sang istri. Dia meminta tukar shift kepada rekannya untuk bisa ikut mengawasi Jani.
" Sabar bang," ucap Dika lirih.
Charles hanya bisa mengangguk. Saat ini ia tidak boleh melakukan apapun agar rencana Jani berjalan lancar.
Silvya terus menajamkan penglihatannya ke arah Vernon dan Jani. Sebenarnya dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyamar menjadi pelanggan yang duduk di meja tepat sebelah meja Jani dan Vernon. Hal tersebut memudahkan tim Silvya untuk meringkus Vernon jika ada tanda-tanda pergerakan dari Vernon.
" Oh iya, apa kamu sudah menyiapkan pakaianmu?" tanya Vernon kepada Jani. Vernon jelas hanya basa-basi, ia bisa melihat jelas tas Jani yang lumayan besar, jelas di sana banyak baju yang dibawa.
" Sudah dong kak, oh iya kita mau pergi ke mana kak. Aku harap kita akan pergi jauh, aku tidak ingin bertemu lagi dengan pria tua itu."
Jani sungguh pandai berkata-kata, ia mengucapkan hal itu dengan nada manja dan sedikit memelas. Meyakinkan Vernon bahwa ia benar-benar ingin pergi.
" Tenang saja, aku sudah menyiapkan tiket pesawat ke benua biru. Kita akan menjelajahi negara-negara di sana. Apa kamu mau?"
Jani mengangguk cepat. Dalam hatinya merutuk, bagaiman dia bisa bersikap manja begitu kepada pria yang bahkan sama sekali tidak ia kenal. Dia hanya pernah bertemu sekali.
" Kayaknya gue harus dapat piala oscar untuk akting kali ini," batin Jani.
Jani terus mengajak Vernon berbicara. Namun tiba-tiba ponsel Vernon berbunyi saat ia hendak memberikan perhiasan yang sudah ia siapkan kepada Jani.
" Sayang, ini hadiah khusus untukmu."
" Terimakasih kak, tapi ponselmu dari tadi bunyi terus. Apa tidak sebaiknya dijawab, siapa tahu penting."
Vernon membuang nafasnya kasar. Sungguh panggilan telepon itu sangat menganggu momen manisnya bersama Jani.
" Martin, apa yang kamu mau hah!"
__ADS_1
" Brengsek kau Vernon. Aku ini bos mu! Kapan kau mau ke perusahaan. Katanya haru ini kamu sudah mulai bisa bekerja."
Vernon tentu tidak lupa bahwa hari ini adalah hari pertamanya ia bekerja untuk RBJ. Ia sudah menandatangi kontrak kerja itu.Tapi Jani jelas lebih penting dari apapun. Ia tidak mungkin melepaskan kesempatan untuk bersama Jani.
Vernon terdiam sesaat, ia sedang memikirkan sesuatu yang sekiranya menguntungkan semua pihak. Ia tidak tetap bisa bekerja dan tetap bisa terus bersama wanita pujaannya.
" Martin dengarkan aku, saat ini aku sedang menuju ke bandara. Aku ada kepentingan di luar negeri. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku tetap akan mengirimkan desain yang kamu mau. Bukankah mendesain itu bisa dilakukan dimana saja. Setelah kau tutup panggilanmu akan ku kirimkan 2 desain. Bagaimana?"
" Baiklah, aku pegang kata-katamu. Aku harap kau tidak lama di luar negeri. Ku tutup telponnya dan segera kirimkan desainnya."
Tuuuuut
Panggilan telepon itu langsung ditutup oleh Martin. Vernon bernafas lega. ia menatap Jani lalu tersenyum, " Maaf ya, jadi mengacuhkan dirimu. Pria itu sungguh tidak sabaran."
Vernon mengambil tangan Jani lalu menciumnya dengan lembut. Jani risih sebenarnya, tapi ia harus menahan untuk sesaat lagi. Ya sebentar lagi untuk bisa melumpuhkan Vernon.
" Oh iya, apa kau tidak menanyakan surat perjanjian itu?" tanya Vernon tiba-tiba.
Vernon tersenyum puas dengan jawaban Jani. ia mengambil kertas perjanjian itu lalu merobeknya menjadi bagian-bagian kecil.
Sreeet ... sreeet ... sreeet
Vernon membuang kertas itu ke tempat sampah. Jani tersenyum begitu juga dengan Charles, Silvya dan Dika. Hal itu lah yang mereka inginkan.
" Baiklah, mari kita berangkat ke bandara. Pesawat kita akan take off jam 1 siang."
" Ayo kak. Kak bolehkan aku menggenggam tanganmu."
Vernon rasanya ingin berteriak saat mendengar Jani menanyakan hal tersebut. Ia sangat senang, dengan senang hati ia mengulurkan tangannya. Jani tersenyum, dari baluik tubuhnya ia menekan cincin d i bagian tengahnya sehingga jarum kecil keluar dari dari bawah, tepatnya di bagian telapak tangan. Ia lalu meraih tangan Vernon dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
10,9,8,7,6,5,4,3, dan 1
Bruk
Tepat 10 detik, Vernon langsung jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Semua orang yang bersembunyi langsung keluar. Silvya memeriksa keadaan Vernon, mencoba menggoyangkan tubuh pria itu dan tidak ada respon.
" Bagus, dia tertidur sempurna. Langsung bawa ke rumah sakit Jason saja mas,"ucap Silvya kepada Dika, sang suami.
Dika mengangguk, beberapa anak buah Silvya langsung mengangkat tubuh Vernon. Sama sekali tidak ada kesulitan. Tapi sat ia bangun nanti bisa dipastikan akan mengamuk.
" Kerja bagus Jani, kamu hebat," puji Silvya kepada adik iparnya.
" Terima Kasih kak. Tahu nggak sebenarnya aku takut dan sungguh deg-deg an dari tadi."
Charles memeluk tubuh sang istri lalu mengusap punggung istrinya itu. Siapa yang tidak takut menghadapi orang seperti Vernon. Orang yang jelas jiwanya dan mentalnya sakit. Penyakit seperti itu jelas lebih menakutkan dari penyakit fisik.
" Kamu hebat sayang, aku bangga kepadamu."
Jani mengeratkan pelukannya terhadap Charles. Suami Jani bisa merasakan bahwa tubuh sang istri bergetar. Sepanjang waktu tadi pasti Jani sangat menahan ketakutannya.
🍀🍀🍀
" Dimana aku! Lepaskan! Siapa Kalian! Mana kekasihku! Mana Jani! kalian pasti yang memisahkan kami. Dasar manusia-manusia rendah. Kalian memisahkan cinta kami. Kalian selalu jahat, kalian tidak pantas disebut manusia."
Vernon berteriak histeris dan marah di sebuah ruangan tertutup. Ya, saat ini pria itu sudah berada di tempat Jason. Ini adalah tantangan tersendiri bagi Jason untuk menyembuhkan penyakit Vernon.
" Bagaimana, apa kau suka Jas? Silvya bertanya kepada temannya itu.
" Sangat Silvya, sangat. Aku sangat suka. Ini akan membantuku untuk membuat obat jenis baru. Obat bagi orang-orang yang depresi. Sebenarnya ini juga bagian dari sebuah depresi. Halusinasi dan mengingkari sebuah kenyataan yang ada. Sangat bagus, semoga orang ini bisa sembuh nanti."
__ADS_1
" Aku pun berharap begitu Jas. Aku malah merasa kasihan terhadap orang-orang seperti Vernon ini. Sama hal nya dengan Tania waktu itu yang begitu terobsesi dengan Mas Dika. Aku harap dia pun juga bisa segera sembuh. Mereka orang cerdas dan berbakat namun salah dalam berpikir."
TBC