Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 73


__ADS_3

Vernon segera masuk ke mobil dan menuju ke kediaman Charles. Ia tidak ingin terlalu lama menyimpan perhiasan itu. Vernon ingin segera memberikannya kepada sang pujaan hati.


Ckiiit, kali ini dia tidak berhenti di ujung gang, ia berhenti tepat di jalan depan rumah Charles. Sebelum turun Vernon kembali melihat tampilannya di depan cermin. Ia harus memastikan bahwa dirinya sudah sempurna.


" Baiklah mari kita turun. Semua sudah tampak luar biasa. Aku yakin Jani akan terpukau Ver."


Vernon tersenyum saat turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Charles. Dia tidak menemukan mobil pria itu di sana, tapi ada motor Jani. ia ingat, motor itu adalah motor yang dipakai Jani saat sekolah dulu.


" Waah, kau bahkan masih menggunakan motor itu hingga saat ini. Baiklah, mari kita bertemu sayang."


Ting tong


Vernon membunyikan bel pintu rumah tapi belum ada jawaban dari dalam. Lagi, Vernon mengulangi apa yang ia lakukan hingga berkali-kali tapi tetap tidak ada jawaban apapun di sana.


" Sial, apa dia tidak ada di rumah? lalu kemana dia pergi? Apakah kuliah? ku rasa tidak."


Vernon berinisiatif untuk kembali memanjat dinding dan menuju ke loteng tapi tampaknya ia harus kembali menelan kecewa karena pintu loteng tidak lagi bisa ia mudah.


" Sialan, sepertinya dia sudah tahu bahwa akau datang kemari. Hmmm apa yang harus ku lakukan untuk memancing mereka keluar ya jika benar mereka bersembunyi."


Tumben Vernon tidak kesal dengan apa yang ia alami. Tampaknya dia sedang berpikir sesuatu.


Di kamar Jani, Charles kembali memeriksa kamera pengawas rumah pribadinya. Ia melihat ada Vernon di sana dengan tampilan yang begitu rapi lengkap dengan sebuah tas kecil dan sebuah buket bunga.


Jani juga ikut melihat tersebut. Ia pun langsung menepuk lengan sang suami dengan sedikit lebih keras.


" Tuuh kan by, dia nggak ada habisnya. Tuh liat seringainya. Senyum misteriusnya itu. Udah deh by, mending pake caraku. Dari pada nih ya tuh surat nanti di sebar, waaah jadi kacau dunia persilatan kan. Gimana, coba deh ayang suami pikirin lagi."


Charles melihat ke arah istrinya yang tampak bersemangat dengan apa yang dia rencanakan tadi itu. Mata jani berbicara dengan sangat cantik membuat Charles seketika itu mencium bibir sag istri.

__ADS_1


Plak


lagi-lagi Jani menepuk lengan Charles," Ish, lagi serius juga."


" Habisnya kamu ngegemesin tahu nggak."


" By!!!"


Charles tergelak melihat ekspresi kesal Jani. Ia kini kembali ke mode serius. Sebenarnya apa yang dibicarakan Jani ada benarnya juga. Tapi sepertinya mereka berdua harus menjelaskan perihal surat perjanjian itu dulu kepada kedua keluarga mereka.


" Sayang, sepertinya kita harus jujur soal surat perjanjian itu. Dari pada nanti beneran si Ver ini Membawa ke publik dan mereka baru tahu bisa lebih gawat."


" Baiklah setuju, mari malam ini mengundang mommy, daddy dan Cilla ke rumah. Kita ungkapkan semuanya saat makan malam nanti."


Charles setuju dengan usul Jani. Ya ini harus segera diluruskan agar tidak terjadi goncangan kedepannya. Apalagi Roberth, ayah dari Charles mempunyai riwayat penyakit jantung. Jangan sampai dia kambuh lagi penyakitnya gara-gara berita tersebut.


Sekar sungguh senang, ini akan jadi makan malam pertama mereka dengan seluruh anggota keluarga setelah pernikahan Jani dan Charles.


" Baiklah kalau begitu bunda pesan aja ya makanannya. Kalau masak sudah nggak sempat sayang," ucap Sekar kepada Jani.


" Siap bund, Jani pikir juga begitu. Kita bikin acara makan malamnya di taman belakang saja. Nanti aku sama Om Charles eh Bang Charles yang bakal rapikan taman belakangnya," usul Jani yang ditanggapi anggukan kepala oleh Sekar.


Sekar langsung gerak cepat memesan makan malam. Dan juga, ia meminta semua anak dan menantunya untuk pulang ke rumah. Radi dan Dika menjawab mereka bisa. Kebetulan juga Dika tidak ada jatah dinas malam, jadi aman.


🍀🍀🍀


Makan malam di kediaman Dwilaga sungguh menyenangkan. Suasana malam itu begitu akrab. Semua terlihat menikmati setiap santapan yang disajikan.


" Terimakasih Mas Aryo dan Mbak sekar untuk makan malam nya." Roberth tampak begitu senang. Rasanya sebuah kebahagiaan diusia tuanya ini sungguh membuatnya semakin merasa bertambah sehat.

__ADS_1


" Sama-sama Bang Roberth. Ini ide anak-anak. Dan ternyata menyenangkan juga begini berkumpul bersama." Aryo menjawab dengan penuh senyuman.


Di sebuah sudut meja Charles dan Jani saling pandang. Mereka saling mengangguk. Sepertinya sudah siap untuk memulai mengatakan tujuan sesungguhnya.


" Ekhem, maaf. Bolehkah saya minta perhatiannya sebentar. Ada sebuah hal yang harus saya dan Jani sampaikan." Charles mulai berbicara, semua yang ada di sana langsung fokus kepada Charles yang bicara dalam posisi berdiri.


" Sebenarnya saya dan Jani secara khusus membuat acara ini karena ingin menyampaikan sesuatu. Ada sebuah hal yang kami sembunyikan dari semua orang. Dimana ini hanya saya dan Jani yang tahu. Dan mungkin ini adalah kesalahan kami. Sebelumnya kami mohon maaf kami tahu kami salah."


Para orang tua sungguh bingung dengan apa yang dikatakan Charles. Mereka tidak mengerti. Tapi tidka ada yang memotong, mereka memilih untuk mendengarkan lebih lanjut dulu.


" Ayah, bunda, mom, dad dan semuanya. Sebelum kami memutuskan untuk menikah, kami sempat membuat sesuatu. Kami membuat sebuah surat perjanjian. Dimana di dalam surat itu berisi bahwa kami setuju akan menikah tapi setelah setahun usia pernikahan kami akan berpisah."


Semua tentu terkejut. Aryo dan Roberth sudah mau marah. Tapi oleh istri mereka, keduanya ditahan.


" Tapi, itu dulu. Kami benar-benar memutuskan untuk menerima pernikahan ini. Memang awalnya kita terpaksa menikah. Tapi setelah menjalaninya akhirnya kami sungguh saling mencintai. Dan ini tidak bohong."


Kali ini Jani yang berbicara, kata-kata pasangan itu terdengar sangat tulus dan penuh penyesalan.


" Apa kalian benar-benar sudah saling menerima?" tanya Aryo.


" Sudah yah, nih buktinya Jani mlendung." Jawaban Jani sontak membuat suasana yang tadinya tegang menjadi mencair. Kekehan terdengar dari setiap orang.


" Ya sudah kalau begitu. Kami apresiasi kejujuran kalian. Meskipun sungguh kami kecewa juga, mengapa itu harus terjadi. Tapi yang penting kalian sudah saling mencintai," ucap Robert.


" Nah masalahnya, surat perjanjian itu jatuh ke tangan Vernon. Dan mungkin akan timbul keributan dikemudian hari."


" Apa?!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2