
Vernon saat ini sudah berada di Red Blue Jewelry. Sesuai Janji Martin bahwa perhiasan yang diinginkan Vernon jadi dalam waktu seminggu, dan hari ini adalah hati nya.
" Ini yang kamu inginkan."
Mata Vernon berbinar saat membuka kotak perhiasan tersebut. Semua sungguh pas, sesuai dengan apa yang ia inginkan. Ia kemudian mengacungkan ibu jarinya ke arah Martin.
" Terbaik, kamu bisa melakukannya dengan sempurna Tuan Martin. rasanya aku tidak sia- saia memilihmu menjadi partnerku selanjutnya. Baiklah mulai besok aku akan bekerja. Siapkan ruangan yang nyaman untukku. Aah aku punya syarat. Tidak ada yang boleh masuk ke ruanganku tanpa seizinku, bahkan cleaning service pun tidak jika bukan atas izinku."
" Baiklah, semua sesuai yang kau inginkan saja."
Martin benar-benar pasrah dengan semua keinginan Vernon. Ia tidak bisa berkutik. Sungguh desain perhiasan yang dibuat oleh Vernon jika sudah terlihat hasilnya dalam bentuk perhiasan sangat indah dan bagus. Martin sangat yakin bahwa ini akan jadi masa kebangkitan RBJ dalam persaingan. Martin yakin bahwa RBJ akan bisa menyaingi WD kedepannya nanti jika Vernon sellau menciptakan karya seni yang seperti itu.
Vernon keluar dari gedung RBJ setelah mendapatkan apa yang dia mau. Sekarang ia hanya harus mencari waktu yang tepat untuk memberikan hadiah itu untuk Jani. Hadiah yangs udah lama ia persiapkan untuk bidadari yang menolongnya beberapa tahun silam. Hadiah khusus yang ia yakini bahwa Jani pun akan sangat senang saat menerimanya.
" Ini untukmu gadis ku. Kamu pasti akan senang. Dan ini pasti akan sangat cantik jika dipakai olehmu. Tidak tidak, tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikanmu. Bahkan perhiasan ini pun tidak ada apa-pa nya dibandingkan dengan kecantikanmu."
Vernon segera menyimpan kotak perhiasan itu disebuah tas yang sudah dia bawa khusus untuk menyimpannya. Ia memperlakukan kotak perhiasan itu layaknya sebuah kristal yang jika jatuh akan pecah berhamburan. Dengan perlahan, dia meninggalkan parkiran RBJ dan ingin segera bisa menemui Jani di kediamannya.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan Vernon tiba-tiba menepikan mobilnya. ia teringat akan rumah Jani tadi malam. Rumah itu sungguh sepi, Kalau Charles keluar kota, tidak mungkin Jani dibawa serta.
" Apa ada yang ku lewatkan? Apa mereka sudah pindah? Tapi tidak mungkin. Barang-barang pria itu jelas masih ada di rumah itu jadi mereka tidak mungkin pindah. lalu, kemana mereka pergi semalam. Apakah menginap di tempat lain. Ya, mungkin Jani menginap di tempat lain semalam. Aku harap hari ini dia sudah pulang. Dan ini waktu yang pas, Jani pasti di rumah sendiri karena pria itu berada di perusahan."
Vernon yang tadi sempat kusut wajahnya karena mengingat rumah Jani yang semalam kosong kini berubah menjadi tersenyum. Tapi ia urung untuk langsung ke kediaman Jani. Vernon memilih untuk pulang. Tentu ia harus mengganti pakaiannya dulu. Ia ingin tampil sempurna di Jani saat akan memberikan hadiahnya itu.
Vernon bergegas masuk ke rumah saat sampai di kediamannya. Ia langsung masuk kamar dan memilih pakaian terbaiknya. Tuxedo hitam menjadi pilihan Vernon. Warna hitam merupakan warna favoritnya. Ia mematut dirinya didepan cermin. Tak lupa ia menyisir rambutnya agar tampilannya semakin menawan.
" Sempurna! Vernon, kau memang tampan, muda, dan memesona. Charles, cih. Pria tua itu bahkan tidak ada apa-apa dibanding dengan kamu. Maka tentu sudah pasti bukan siapa yang pantas bersanding dengan seorang Rinjani."
Vernon memuji dirinya sendiri. Ia menatap tampilannya yang sempurna di depan cermin. Dan itu adalah menurutnya pribadi. Ia kemudian berjalan kembali ke arah lemari dna membuka sisi yang satunya lagi. Di san adia menempatkan pakaian Jani yang semalam ia ambil dari rumah Charles. Vernon mengambil salah satunya dan menghirup aromanya dalam-dalam.
Bayangan Vernon kembali saat Jani menemui Charles di kantor waktu itu. ia melihat bagaimana Jani begitu cantik dan seksi saat wanita tersebut dan Charles bercumbu. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa Jani sungguh memiliki tubuh yang sangat bagus. Dada dan bokong yang sintal. Vernon jadi membayangkan bagaimana kalau dia yang berada di sisi Charles.
" Damn, dia bergejolak. Sial baru membayangkannya saja sudah membuat diriku begitu berhasrat."
Vernon memijit pelan benda yang ada di pangkal pahanya itu. Benda itu memberontak ingin keluar membuat Vernon sedikit kesal.
__ADS_1
" Tunggulah, jangan sekarang. Tunggu hingga dia jadi milikmu sepenuhnya."
Vernon menetralkan dirinya dan cara itu berhasil. Ia jelas tidak mau merusak penampilannya yang baginya sudah sangat sempurna itu untuk hal yang tidak jelas.
Di sisi lain Jani dan Charles bersiap untuk kembali ke kediaman Sekar dan Aryo. semua buku kuliahnya sudah dimasukkan ke dalam mobil. Charles juga sudah memeriksa pintu yang ada di loteng. Dia memberikan kunci ganda di sana dengan manambahkan kunci selot dari dalam. Charles juga menaruh meja dan kuri kayu di depan pintu agar Vernon tidak bisa masuk lagi dari sana.
Meskipun sementara waktu ini dia akan tinggal di rumah mertuanya, tapi dia juga tidak sudi jika rumahnya disambangi oleh Vernon lagi.
" Baiklah mari kita kembali ke rumah ayah dan bunda," ajak Charles tapi Jani menarik tangan Charles sehingga pria itu berhenti dan tidak jadi keluar dari pintu. " Ada apa lagi sayang? semuanya sudah kan?"
" By, sebenarnya aku punya sebuah ide. Tapi ini agak riskan."
Charles mengerutkan alisnya. Ia tidak paham dengan ucapan sang istri.
Jani mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Secara hati-hati jani menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.
" Tidak, jangan gila kamu! Aku jelas tidak setuju. Pasti ada cara Lain!"
__ADS_1
TBC