Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 63


__ADS_3

Vernon mengikuti Mobil Charles. Dia ingin tahu dimana Charles dan jani tinggal. Paling tidak itu adalah modal untuk nya mendekati Jani. Jika tahu dimana letak tempat tinggal Jani maka ia akan mudah menemui Jani kapanpun.


Vernon berdiri di ujung gang saat melihat mobil Charles berbelok di sebuah rumah. Rumah bercat warna putih itu memiliki desain amerika style.


" Oke ketemu, sekarang putar balik dulu. Siapkan hadiah untuk Tuan Putri dan berkunjung kemudian."


Vernon menekan pedal gasnya dalam-dalam membawa mobilnya pergi dari kawasan perumahan tersebut.


Di dalam rumah Jani langsung melemparkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya terasa begitu lelah, padahal dia tidak bekerja berat. Tapi rasanya seperti habis menyapu rumah 10x.


" Sayang, ganti baju mu dulu,"ucap Charles.


" Sayang... Bersihkan badan lalu ayo sholat luhur. Jan ... Jani ... ."


Charles yang ada di walk in closet tidakmendengar suara sang istri sama sekali. Dua kali ia meminta istrinya untuk membersihkan tubuh, tapi tidak ada sahutan sam sekali. Penasaran, akhirnya Charles segera keluar sambil mengenakan kaos oblongnya. Ia tersenyum kecil melihat Jani yang sudah tertidur pulas masih dengan pakaian yang dipakainya ke kampus tadi.


" Laah, ini bocah curang bener ya. Tadi udah bikin aku nggak tahan sekarang dia enakan tidur. Kamu kenapa hmm, agak aneh gini."


Charles mendekat ke arah Jani. Ia mengusap lembut wajah istrinya itu dan satu persatu membuka pakaian Jani untuk diganti dengan baju rumahan. Ia akan membiarkan istrinya itu tidur dan akan membangunkan nya setelah beberapa waktu.


Charles berjalan keluar kamar lalu menutup pintu kamar dengan pelan. Ia akan menjalankan kewajiban 4 rakaat lebih dulu dan kemudian membuat makan siang.


Di dalam kamar Jani sedikit terkejut saat menjumpai dirinya tertidur. Apalagi setelah melihat bajunya berubah. " Aah ini pasti om suami yang melakukan. Astagfirullah aku belum sholat."


Dengan segera Jani bangkit dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Ia harus segera menunaikan kewajibannya.


" By!!! Kenapa nggak bangunin aku!" ucap Jani kepada suaminya saat keluar kamar.


" Maaf sayang, kamu tadi tidurnya pules banget. Buruan sholat, dan segera ke sini. Aku masak sesuatu untukmu."

__ADS_1


Jani tersenyum, awalnya ingin marah akhirnya tidak jadi. Ia merasa aneh dengan dirinya. Mengapa bisa dikit-dikit kesal dan dikit-dikit senang. Jani menggeleng pelan lalu segera menjalankan kewajibannya.


" Jadi bagaimana ujiannya?"


" Alhamdulillah lancar. tinggal 2 hari lagi selesai semuanya. Haaah, pengen cepet-cepet rampung. Aiiih, setahun lama banget ya."


Jani meletakkan kepalanya di atas meja makan. Setelah makan siang mereka tengah berbicara santai. Charles mendengarkan keluhan istri kecilnya itu dengan seksama.


" Lalu sekarang mau apa? mau belajar atau mau apa?'


" By, jangan belajar mulu apa. Mau bobo aja yuk. Bosen dari kemarin bukuuu mulu."


" Ya udah yook."


Charles mendekat ke arah jani lalu menggendong istrinya itu ala bridal style. Jani tersenyum senang, tapi belum juga sampai kamar Jani sudah tidur di gendongan Charles.


" Astaga, cepet banget sih tidurnya. terus ini agenda nya pulang cuma buat tidur aja kah. Aisssh anak ini."


Malam harinya, sesuai yang sudah dijanjikan, Vernon mengunjungi rumah Martin. Sebuah sambutan hangat dilakukan pria itu untuk calon rekan kerjanya.


" Silahkan duduk Tuan Vernon. Apa yang ingin kamu minum?"


" Apa saja, tapi aku tidak akan banyak basa-basi. Aku akan mengatakan tujuanku datang kemari."


Martin membuang nafasnya kasar. rupanya pria muda yang ada di hadapannya itu tidak suka basa-basi. Tapi, martin segera mengubah ekspresi wajahnya. ia tersenyum dan merangkul pundak Vernon lalu membawanya duduk di sofa ruang tamu.


" Baiklah mari kita duduk. Bisa tunjukkan mana desai yang kamu inginkan untuk jadi sebuah perhiasan?" Martin langsung bertanya, tahu bahwa rekannya itu tidak suka bertele-tele, ia pun juga to the point.


" Ini, ini aku minta khusus. Dan yang tiga ini free untuk perusahaanmu."

__ADS_1


Mata Martin membelalak. Ia sungguh takjub dengan hasil desain yang digambar oleh Vernon.Ia tidak menyangka tangan pria muda itu sungguh ahli membuat rancangan sebuah perhiasan.


" Ekhem ... Baiklah. lalu perhiasan yang kamu mau itu apakah satu set?" Martin menetralkan keterkejutannya.


" Ya aku ingin satu set, mulai dari kalung, cincin, dan juga anting . Persis seperti apa yang aku gambar di sini. Tapi ingat yang ini adalah khusus dan eksklusif. Aku hanya ingin ini ada satu set saja. jika ketahuan kamu menduplikasinya, maka percayalah aku bisa menghancurkan perusahaanmu!"


Ancaman yang di lakukan Vernon tidak main-main. Bahkan dia sudah membuat surat persetujuan yang ditempeli sebuah materai. Martin hanya bisa membubuhkan tanda tangannya. Awalnya melihat desain perhiasan yang dikatakan Vernon khusus itu ingin ia produksi masala. tapi rupanya Vernon lebih cerdik dari yang ia duga.


" Sudah, baiklah. Ini akan jadi selama satu bulan," ucap Martin.


" No, aku mau ini satu minggu sudah siap," elak Vernon. Dia tidak mau proses itu lama. ia ingin segera bisa memberikan perhiasan itu kepada jani.


" Apa! Kau gila ya! Mana bisa seminggu satu set perhiasan jadi?" Martin tentu protes dengan kemauan Vernon.


" Aah baiklah, ini ternyata bisa menjadi salah satu syarat ku untuk bekerja kepadamu. Jika kau tidak bisa mewujudkan perhiasan yang ku mau dalam waktu satu minggu maka aku tidak jadi bergabung dengan Red Blue Jewelry. Jadi sekarang keputusan ada di tanganmu."


Martin terdiam, sungguh ia tidak menyangka bahwa Vernon begitu sangat licik. Martin membuang nafasnya kasar, sepertinya dia harus mengikuti keinginan Vernon jika menginginkan Red Blue Jewelry bisa menyaingi William Diamond.


" Ya baiklah aku akan mengabulkan apa keinginanmu asalkan kamu tidak lupa dengan janjimu."


" Deal!"


Vernon tersenyum lebar. Ia begitu puas dengan apa yang sekarang ini dia lakukan. Semua keinginannya akan terpenuhi. Dan ia yakin, Jani akan menyukai hadiahnya nanti. Gadis itu, gadis berseragam abu-abu itu kini menjelma menjadi wanita cantik. Wajahnya tidak berubah, dan cantiknya semakin terpancar.


" Aku akan datang. Sebentar lagi. Saat perhiasan itu jadi, aku akan memberikannya kepadamu. Aku yakin kamu pasti akan senang. Rinjani, gadis ku. Kamu hanya akan jadi milikku. Tidak akan ku biarkan seorang pun menyentuhmu termasuk pria tua brengsek itu. Aku yakin Jani pasti dipaksa. Aku yakin ini adalah sebuah perjodohan orang tua mereka. Orang tua yang egois. Sungguh egois."


Vernon memiliki versinya sendiri mengenai pernikahan Jani dan Charles. Tapi yang jelas dia tidak bisa menerima Jani dan Charles bersama dan keinginannya mengambil Jani dari Charles begitu kuat. Dalam pikirannya Jani merasa tertekan dan terpaksa berada di sisi Charles.


" Aku akan membawamu, sebentar lagi, jadi tunggulah."

__ADS_1


TBC


__ADS_2