Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 39


__ADS_3

Tring, sebuah pesan masuk ke ponsel Lim saat Lim dan Tari berada di ruangan Jani. Lim pun membaca pesan tersebut, betapa terkejutnya Lim saat mengetahui apa isi dari pesan itu.


" Pak Radi, bisa kita bicara sebentar," pinta Lim kepada sang dosen.


Radi mengangguk, mereka kemudian keluar meninggalkan ruangan Jani. Di sisi lina Tari sedang bingung menyaksikan seorang pria yang sedari tadi menggenggam erat tangan Jani. Dilihat dari wajah pria itu tidak asing sebenarnya, sangat familiar. Pria dewasa itu terlihat tampan dengan wajah bule nya.


" Tar, gue ngak apa-apa nggak udah sok melow begitu," ucap Jani lemah.


" Gue beneran takut lo kenapa-napa Jan." Tari berkata lirih, selama ini berteman baru kali ini dia merasa begitu khawatir saat Jani terkena masalah.


Tari akhirnya memilih keluar untuk membiarkan Jani istirahat. Charles pun mengangguk pelan saat Tari berpamitan.


" Tahu gitu aku nggak ngizinin kamu pergi sayang."


" Om, kan nggak ada yang tahu apa yang bakal terjadi kedepannya. Semua misteri Ilahi."


Charles tentu sadar akan hal itu. Tapi melihat Jani yang terbaring sakit seperti ini dia merasa begitu bersalah. Ia merasa tidak bisa menjaga istrinya itu.


Sebuah usapan lembut mendarat di pungging Charles. Pria itu seketika menoleh. Rupanya itu adalah tangan sang ibu mertua. Sekar tersenyum lembut ke arah menantunya tersebut.


" Makanlah dulu, istirahatlah. Sedari tadi kamu belum makan apapun."


" Nanti saja bund, aku masih belum lapar."


" Om, makanlah. Aku sudah baik-baik saja. Biar bunda menemaniku di sini. Aku pun tidak ingin om sakit karena telat makan."


Charles menghembuskan nafasnya pelan ia akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh sang istri. Pria itu berjalan pelan keluar ruang rawat menuju kantin.


Di kangin tampak Lim duduk bersama dengan Aryo dan Radi. Lim yang mendapatkan pesan dari salah satu anggotanya tadi kembali mengajak Radi berbicara diluar dna rupanya Aryo ikut serta.

__ADS_1


" Jadi maksudmu ada yang sengaja mendorong Jani begitu?" tanya Radi memastikan.


" Iya pak, saga mendapat pesan ada salah satu dari anggota komunitas yang melihat Jani di dorong. Tapi dia tidak mau namanya disebut, dia takut terkena masalah."


Penjelasan Lim membuat Radi seketika paham. Pasti yang melakukan itu bukan mahasiswa biasa melainkan ada kekuatan dibelakangnya.


" Baik, aku paham. Tapi sebaiknya kita temuin dia saja nanti," ucap Radi .


" Apakah saya boleh ikut?"


Semua orang yang duduk di salah satu meja kantin langsung menoleh ke sumber suara. Suara itu adalah milik Charles. Rupanya Charles mendengar setiap apa yang dibicarakan oleh Lim. Charles menjadi tidka sabar untuk mengetahui siapa orang yang telah berbuat buruk terhadap istrinya.


" Kamu nanti lepas kendali bang." ucap Radi. Radi memanggil Charles dengan sebutan Bang karena dia menghormati Charles lebih tua usianya. Sebaliknya Charles untuk menghormati Radi bahwa dia adalah kakak dari Jani Charles pun memanggil Radi dengan sebutan kak.


" Tidak akan begitu kak, aku tentu bisa mengendalikan emosiku. Aku hanya ingin tahu siapa yang berani melukai Jani dengan sengaja."


Tampaknya Charles tidak bisa di cegah. Radi hanya bisa pasrah, terlebih Aryo juga sudah mengangguk setuju atas apa yang jadi permintaan Charles.


Selepas subuh, Charles beserta anggota keluarga lain sepakat untuk memindahkan Jani dari Rumah Sakit Van Winkler menuju Rumah Sakit Mitra Harapan. Semua tersebut diputuskan demi kemudahan anggota keluarga merawat Jani. Apalagi di RSMH Jani bisa langsung dibawah pengawasan Dika.


" Terimakasih Jas untuk semuanya," ucap Dika sebelum mereka menaiki ambulan.


" Jangan begitu sungkan, seperti dengan siapa saja. Aku sangat bisa membantumu," jawab Jason dengan senyuman kecil. Dokter itu selalu mahal senyum kecuali kepada orang-orang terdekatnya salah satu satunya ya Dika ini. Maka dari itu beberapa karyawan di rumah sakit miliknya sedikit terkejut saat Jason tersenyum.


Dika menjabat tangan Jason diikuti Charles dan anggota keluarga Dwilaga yang lain. Mereka mulai mengucapkan terimakasih dan berlalu menaiki mobil mereka masing-masing kecuali Charles dan Dika. Kedua orang itu naik ke ambulan. Sedangkan Radi, Aryo dan Sekar naik mobil.


Charles juga sudah meminta Benzo menyusul untuk membawa mobilnya kembali ke kota J. Keluarga Charles juga terkejut atas apa yang menimpa menantu mereka. Awalnya Rosa ingin menyusul tapi oleh Charles dilarang.


" Mommy dan daddy langsung ke RSMH saja, Jani akan dipindahkan ke sana."

__ADS_1


" Baik, kami akan ke sana. Tapi kondisi Jani sudah oke kan."


" Alhamdulillah mom sudah lebih baik juga kok."


Rosa bernafas lega. Mendengar cerita Charles mengenai apa yang menimpa Jani sungguh membuat Rosa sedih. Robert dan Cilla pun tidak habis pikir, ada orang setega itu melakukan perbuatan burik kepada orang baik.


" Apa motifnya ya dad?" tanya Cilla kepada Roberth.


" Entahlah sayang, daddy juga tidka tahu. Mungkin kalah saing atau memnag dia tidak suka dengan Rinjani." Jawaban Robert kepada sang putri bungsu diikuti anggukan kepala Rosa.


Dalam dunia ini ada dua golongan orang yaang hidup, yang pertama adalah orang yang suka dengan kita dan yang kedua adalah orang yang tidak suka dengan kita. Dan ketika orang tidka suka dengan kita maka sebaik apapun yang kita lakukan tidak akan bisa mengubah pandangan buruknya terhadap kita.


" Cilla tetap ke perusahaan ya mom, dad, kalau ditinggal semua nanti kacau. Bang Ben kan juga nyusul abang."


" Ooh iya, nggak apa-apa. Nanti kalau mau jenguk sehabis pulang kerja."


Cilla mengangguk, ia tentu tidak bisa meninggalkan perusahaan saat ini. Terlebih Charles dan Benzo tidka ada. Jadi Cilla harus menghandle WD. Ia yakin abangnya itu akan lama absen mengingat sang kakak ipar sakit.


" Semoga Kak Jani segera pulih. Aku yakin abang nggak akan tinggal diam. Dia kalau udah sayang sama orang nggak akan tanggung-tanggung, dan siap-siap saja orang yang menyakiti kesayangan abang, nggak akan dibiarkan hidup dengan nyaman dna tentram."


Cilla bergumam pelan sepanjang dirinya mengendarai mobilnya ke perusahaan. Ia sangat tahu tentang kakak lelaki satu-satunya itu dan sepak terjang Charles dalam melindungi orang-orang yang disayang.


Fokus Cilla yang sejenak terbagi karena ikut kepikiran dengan kakak iparnya membuat gadis itu sedikit meleng saat berkendara. Tanpa sadar mobil yang ia bawa sedikit melipir ke kiri jalan sehingga membuat pengemudi di belakangnya hampir saja menabrak mobilnya.


Ciiiit


" Astagfirullah," ucap Cilla penuh kaget. Ia pun segera keluar dari mobilnya dan berjalan ke belakang. " Maaf, saya sungguh minta maaf. Apakah Anda terluka."


Seseorang keluar dari mobil yang terhalang oleh mobil Cilla. Ia melihat Cilla dengan seksama lalu tersenyum. " Tidak apa-apa nona, saya baik-baik saja. Lain kali kiranya nona lebih hati-hati lagi."

__ADS_1


TBC


__ADS_2