
Guys, 3 bab nih. Mohon dukungannya ya. Retensi bab 40 nanti semoga bagus lagi biar terus lanjooot ini cerita Om Charles dan Jani. Terimakasih, Matursuwun.
...----------------...
Cilla sungguh merasa tidak enak. Akibat kecerobohannya ia hampir saja mencelakakan orang lain. Berkali-kali Cilla meminta maaf kepada pria yang mobilnya hampir saja bertabrakan dengan mobil miliknya.
" Saya sungguh mohon maaf tuan. Aah ini kartu nama saya. Jika Tuan sekiranya ada yang terluka atau mobil Tuan lecet, Anda bisa langsung menghubungi saya. Kalau begitu saya permisi."
" Baik nona, saya terima. Silahkan dan selalu berhati-hati."
Cilla kembali membungkukkan tubuhnya sebelum masuk ke dalam mobil. Ia merutuki dirinya sendiri yang meleng saat berkendara.
" Bodoh Cilla, nggak hati-hati banget sih. Untung orangnya baik. Coba kamu dapat yang galak beuuh udah dimaki habis-habisan kamu."
Cilla menyalakan mobilnya lalu menekan pedal gasnya dalam. Ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan. Beberapa hari ke depan ia yakin akan sibuk mengurus WD tanpa sang kakak.
Di sisi lain, pria yang tadi hampir bertabrakan dengan Cilla tersenyum lebar. Gadis berhijab dengan wajah blasteran indo luar itu entah mengapa membuat dirinya merasa ada yang lain di hatinya.
Semenjak cinta yang miliki tak terbalaskan, tidak pernah sekalipun dia melirik wanita.
" Silvya, apa aku menemukan penggantimu sekarang?"
Darius Edmun, CEO dari MoonDrink itu masih melihat mobil Cilla yang menjauh. Kejadian Cinta sepihak yang pernah ia alami dulu membuat Darius enggan mencoba untuk mencintai. Beberapa wanita yang mendekati dirinya tidak pernah membuatnya tertarik.
Namun, saat ia melihat gadis berhijab itu ada rasa ingin mengenalnya lebih.
" Cilla Catherine William, Presiden Direktur William Diamond. Sepertinya akau harus berkunjung ke sana," gumam Darius pelan. ( hayooo siapa yang masih inget sama Darius cung! hehehe)
Darius kemudian masuk ke dalam mobilnya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke kantor MoonDrink. Ia masih dipusingkan mencari model untuk promosi produknya.
__ADS_1
***
Universitas Nusantara tepatnya di ruang komunitas pecinta alam beberapa mahasiswa tengah mendiskusikan apa yang sedang dialami Rinjani. Semua bertanya-tanya, apakah benar Jani murni mengalami kecelakaan atau ada yang sengaja melakukannya.
Paundra mendekati Tari mencoba mencari informasi mengenai apa yang terjadi. Dan tentu mencari tahu dimana Jani di rawat. Namun Tari yang sudah di warning oleh Radi sang dosen bahwa ia tidak boleh menyebarkan informasi tersebut.
" Gue nggak tahu Paundra. Gue kemarin terakhir kali sama Lim ketemu saat di RS Van Winkler. Tapi setelah itu dia dibawa kemana gue nggak ngerti," ucap Tari senatural mungkin agar keberadaan Jani tidak diketahui.
" Laah kan lo sahabatnya, masa lo nggak tahu sih." Paundra masih terus berusaha mendesak Tari. Ia tahu Jani dan Tari sangat dekat, jadi mustahil Tari tidak tahu.
" Gue hanya sahabat, nggak semua aoa yang sahabat gue tahu gue juga harus tahu. Kita punya privasi yang tidak perlu diberitahukan kepada orang lain."
Jani benar-benar risih dengan sikap Paundra. Ia pun kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan Paundra dan pindah ke sebelah Lim.
Sesaat Tari menelisik ke seluruh ruangan. Ia tidak menemui adanya Sella di sana.
Sella sebenarnya memang tidak aktif di komunitas maka dari itu kemarin Tari sedikit heran mengapa Sella ikut. Tapi saat melihat kelakukan Sella yang menempel pada Pundra akhirnya Tari mengerti kalau Sella berusaha menarik perhatian dari Paundra.
" Iya, takut mungkin," jawab Lim asal.
" Maksudmu apa Lim?"
Tari jelas curiga dengan apa yang dikatakan oleh Lim. Ia mencoba menyelidiki Lim melalui wajahnya. Lim yang ditatap seperti itu oleh Tari jelas merasa salah tingkah. Antara takut ketahuan dan grogi juga.
Pada dasarnya Lim tidak pernah sedekat ini dengan perempuan. Dan bersama tari membuat pria itu sedikit merasa berdebar dadanya.
" Awas iiih jangan deket-deket napa Tar."
" Aku curiga kamu mengetahui sesuatu. Ayo katakan."
__ADS_1
Lim berdiri langsung berlari meninggalkan Tari. Tari tidak mau tinggal diam, ia pun mengejar Lim yang lebih dulu menjauh. Tapi langkah kaki Lim terhenti saat melihat si dosen killer alias Radi di depannya. Lim pun berhenti mendadak sehingga Tari menabrak punggung Lim.
" Kampret, Lim kalau mau berhenti bilang dong jangan dadakan gitu."
" Sttt, diem."
Tari langsung mengunci mulutnya rapat saat melihat di depan Lim ada kakak pertama Jani. Tatapan tajam Radi selalu membuat para mahasiswanya bergidik.
" Apa bisa bicara Lim, sekalian bawa anak itu."
" Bi-bisa pak, saya akan ke ruangan bapak bersama dia."
Radi mengangguk lalu meninggalkan Lim. Lim pun langsung bergegas pergi, ia harus mencari orang yang dimaksud. Orang itu adalah orang yang katanya melihat Jani di dorong.
tari yang tidak mengerti hanya bengong menyaksikan Lim berlari. ia akhirnya memilih kembali ke kelas. Sebentar lagi mata kuliah dimulai dan dia tidak ingin terlambat.
***
" Apa kamu yakin bahwa orang itu yang mendorong Jani."
Radi sudah berada di ruangannya. Di sana Ada Lim dan juga Prita. Ya orang yang mengirim pesan kepada Lim saat di rumah sakit adalah Prita. gadis itu mengaku melihat Jani doi dorong. Tapi sekarang saat ditanya, Prita diam saja. Tampaknya gadis itu takut.
" Kamu tidak usah takut Prita, saya akan melindungi mu. Bahkan pihak kampus akan melindungi mu. Perlu kamu tahu bahwa Jani adalah adik kandung saya, maka dengan kata lain Jani adalah putri dari pemilik Universitas. Tapi meskipun kejadian itu bukan menimpa Jani tetaplah semuanya mendapat keadilan, bukankah begitu Prita?"
Prita langsung terhenyak saat mengetahui fakta itu. Ia kesusahan menelan saliva nya saat mengetahui bahwa Jani adalah putri Aryo dan adik dari Radi. Dalam hati Prita, orang itu pasti akan habis setelah ini.
" Iya pak betul. Hhhhh, baiklah. Orang yang mendorong Jani saat itu adalah Sella. Saya melihat dari kejauhan tapi saya sungguh tidak berani untuk mencegah. Nyali saya terlalu ciut, mengingat Sella adalah purti dari salah satu dewan komite kampus. Saya takut terkena masalah. Maka dari itu saya hanya diam. Tapi saat mengetahui Jani tidak sadarkan diri, saya rasa saya perlu mengatakan kebenarannya karena Jani butuh keadilan juga."
Radi membuang nafasnya kasar, Kali ini masalahnya tidak akan mudah. ia akan berhadapan dengan salah satu dewan komite. Dan untuk membuktikan kesalahan Sella maka ia harus mengeluarkan Prita sebagai saksi.
__ADS_1
" Aku harus membicarakan ini kepada ayah," gumam Radi lirih
TBC