Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Bonchap 2


__ADS_3

Hari selanjutnya, Benzo datang lebih pagi dari pada kedua bosnya. Hari ini ada janji untuk bertemu orang dari Harita Nursery. Sebuah jasa pembuat taman yang diinginkan oleh Cilla untuk membuat taman di depan gedung William Diamond tepatnya di sisi kanan.


Padahal pertemuannya masih nanti jam 10, tapi entah mengapa Ben berniat untuk datang lebih awal. Sebenarnya itu memang kebiasaan dirinya. Selama menjadi asisten Charles, Benzo memanglah selalu rajin datang pagi. Terlebih memang dia adalah seorang yang sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini.


Drtzzz


Ponsel Benzo berdering. Dia yang baru saja hendak berjalan masuk menghentikan langkahnya untuk untuk melihat siapa yang menelponnya.


" Aaah Cilla, ya kenapa Cil?"


" Bang Ben, hari ini Cilla nggak ke kantor. Kaki agak bengkak ini sama Kak Darius nggak boleh ke WD."


Benzo terdiam sejenak. Hari ini Cilla ada janji dengan orang pembuat taman, dan harus ada Cilla karena Cilla yang menginginkan mau seperti apa taman itu dibuat.


" Laah terus orang dari Harita Nursery gimana. Cilla kan yang mau?"


" Ehmm, gini aja bang. Bang Ben hari ini ada banyak kerjaan nggak? Kalau nggak ada, anter orang dari HN ke sini aja ya?"


" Ooh gitu, okeh deh siap. Kayaknya aman kok. Bos juga nggak bilang mau kemana."

__ADS_1


Sebuah keputusan sudah diambil. Itu adalah cara tepat karena Ben tentu tidak akan bisa memutuskan taman seperti apa yang akan dibuat. Begitu pula Charles, untuk soal-soal begini memanglah domainnya Cilla.


Waktu berlalu, tak berselang lama security dari lantai bawah mengantarkan orang dari HN menuju ke ruangan Benzo. Sebelumnya Benzo memang sudah menitip pesan kepada security tersebut.


" Pak ben, selamat pagi. Ini ada orang dari Harita Nursery."


" Aaah ya, terimakasih pak. Silahkan duduk nyonya, atau kah nona?"


" Terimakasih Pak, panggil saja saya Lidya."


Lidya mengulurkan tangannya. Sepintas Ben merasa tidak saing dengan wajah wanita di depannya itu. ia merasa begitu familiar. Tapi, tak lama kemudian ia menyambut tangan Lidya untuk bersalaman.


" Sebentar Mbak Lidya, Sebenarnya saya disini hanya seorang Aspri. Yang menginginkan taman itu adalah bos saya. Nah, kebetulan bos saya tidak masuk. Beliau menginginkan Anda untuk datang ke rumahnya. Saya akan mengantarkan Anda. Apakah Anda tidak keberatan?"


Lidya berpikir sebentar. Ini adalah sebuah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Jadi ia memutuskan untuk setuju.


" Baik pak, saya tidak keberatan."


Benzo tersenyum. Keduanya kemudian meninggalkan WD dan menuju ke rumah Cilla. Selam di perjalanan Benzo beberapa kali melihat ke arah Lidya. Sungguh ia pernah bertemu dengan wanita yang duduk di sebelahnya itu. Tapi dimana, dia sungguh lupa.

__ADS_1


" Maaf sebelumnya Mbak Lidya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Wajah Anda seperti familiar. Sumpah saya nggak gombal lho ini." Akhirnya Benzo bertanya juga. ia sungguh penasaran. Tapi rupanya jawaban Lidya semakin menegaskan bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya.


" Saya juga merasa pernah bertemu Anda. Tapi saya tidak yakin apakah saat itu dan saat ini adalah orang yang sama? Apakah Anda yang waktu hujan membantu saya menutupi mobil pick up milik saya?"


" Yaaa, benar. Itu saya. Ha ha ha, benar kan saya tidak salah. Bagaimana kabarmu Lidya? Aku nggak nyangka kamu pemiliki HN."


Pembicaraan mereka pun akhirnya mengalir dengan santai. Lidya tanpa ragu mengatakan bahwa sebenarnya HN sedang berada di masa sulit. Banyaknya perusahaan yang menggunakan tanaman artificial membuat penyedia tanaman asli sepertinya sedikit tergeser. Benzo ikut prihatin dengan apa yang menimpa wanita disebelahnya itu.


" Makanya sungguh aku senang sekali masih ada yang mau pakai jasa ku."


" Aku yakin Cilla pasti suka. Dia penyuka sesuatu yang real bukan yang palsu. Maaf ya hari ini kamu harus ke rumahnya dia. Cilla sedang hamil dan kakinya sedikit bengkak. Suaminya begitu posesif jadi ya begitu."


Lidya mengangguk paham. Mendengar bahwa kali ini kliennya seorang perempuan sebenarnya dalam hati kecilnya ia merasa sedikit khawatir. Beberapa kliennya terdahulu yang perempuan kebanyak rewel. Maunya ini itu saat konsultasi tapi berujung tidak jadi.


Sebuah doa dipanjatkan oleh Lidya, semoga kali ini kliennya tidak seperti yang sudah-sudah.


" Kenapa, sepertinya begitu gugup? Tenang saja, Cilla adalah orang yang menyenangkan. Dia baik, bukan hanya dia yang baik tapi seluruh keluarganya juga baik kok dan nggak rewel. Kamu akan senang berbicara dengan dia, pasti."


Ada binar bahagia di mata Benzo saat membicarakan keluarga bosnya. Lidya bisa melihat itu, tapi dia tidak tahu dan tidak berani bertanya. Saat ini yang ia harapkan adalah apa yang akan dikerjakan nanti bisa berjalan lancar.

__ADS_1


TBC


__ADS_2