
Charles langsung membawa Jani ke rumah sakit terdekat. Niatnya ingin membawa Jani ke Rumah sakit Mitra Harapan, tapi tampaknya sudah tidak memungkinkan untuk membawa Jani ke sana. Terlalu jauh dan jelas terlalu lama.
Jani langsung dimasukkan ke ruang IGD untuk ditangani. Sedangkan Charles, ia menghubungi ayah mertuanya. Bagaimanapun kedua orang tua Jani harus tahu.
" Yah, ini Charles. Sekarang saya sedang berada di rumah sakit Van Winkler, Jani terjatuh saat berkegiatan penanaman pohon sama komunitas kampus. Temannya tadi yang menghubungi Charles." Charles menjelaskan panjang lebar. Di seberang sana Aryo tentu sangat terkejut. Posisi dia ternyata tengah rapat, Aryo pun menyudahi rapat yang kebetulan hampir selesai.
Aryo langsung beranjak dari tempat duduknya. Radi yang melihat ada raut kekhawatiran dari wajah sang ayah pun ikut berdiri dan menyusul.
" Yah, ada apa?"
" Jani dibawa Charles ke rumah sakit. Katanya jatuh saat acara penanaman pohon. Ayah mau ke sana. Kamu pulang jemput bunda mu terus ke rumah sakit Van Winkler. Sekalian hubungi Dika, buat mindahin Jani ke RSMH. Charles mau bawa ke RSMH udah nggak keburu."
Radi jelas terkejut atas penjelasan sang ayah. Tapi ia harus bergerak cepat sesuai instruksi Aryo.
Di rumah saki Van Winkler, Charles sungguh merasa begitu khawatir. pasalnya dokter yang menangani Jani belum juga keluar. Sudah setengah jam di dalam dan dokter tersebut belum muncul juga. Hanya salah seorang perawat saja yang keluar dari ruangan tersebut. Entah untuk apa Charles pun tidak tahu. Yang jelas bukan untuk mengambil darah karena Jani tidak mengalami pendarahan.
3 jam berlalu dan dokter belum juga keluar. Charles semakin was-was. Pikiran buruk memenuhi kepalanya, Tapi ia kemudian beristigfar mengusir itu semua. Charles meyakinkan dirinya bahwa Jani tidak apa-apa.
" Charles, apa sebenarnya yang terjadi?"
" Ayah!"
terlihat Aryo datang dari arah pintu dan Charles langsung menyambutnya dengan mencium punggung tangan ayah mertuanya tersebut. Charles membawa Aryo untuk duduk. ia kemudian menjelaskan apa yang ia dengar dari Tari. Aryo mengerutkan kedua alisnya, ia merasa ini bukan kecelakaan biasa.
" Saya juga berpikir begitu yah, tapi kita harus menunggu Jani dulu. Dia yang paling tahu, tapi entah dari tadi belum juga keluar."
Selesai Charles bicara, dokter yang menangani jani keluar juga. Charles dan Aryo langsung berdiri menghampiri sang dokter.
" Bagaimana dok, mengapa lama sekali?" tanya Charles tidak sabar. Aryo menepuk pelan punggung menantunya itu. Bisa Aryo lihat, Charles begitu khawatir. Ada rasa syukur dibalik musibah ini. Aryo melihat bahwa Charles begitu menyayangi Jani, meskipun pernikahan mereka adalah hasil dari paksaan Radi.
__ADS_1
" Maaf tuan, ada beberapa luka ternyata di tubuh pasien. Jadi kami harus memeriksanya secara detail Kami menemukan ada patah tulang di tulang selangka sebelah kanan. kami tadi sudah melakukan CT scan dan lumayan harus dilakukan tindakan operasi."
Charles dan Aryo membuang nafasnya kasar, merekapun hanya mengangguk patuh untuk tindakan yang harus dilakukan selanjutnya.
" Saya mau bertanya, ini mau dilakukan operasi di sini atau mau di RSMH saja mengingat Dokter Dika merupakan dokter bedah hebat."
" Di sini saja Jas, aku yakin kau bisa juga melakukannya."
Dari arah pintu datanglah Dika bersama Radi dan juga Sekar. Charles langsung menyalami Sekar pun dengan Radi dan Dika.
" Apa kau yakin Dokter Dika? apa kamu mau ikut mengoperasi."
" Ya, aku yakin. Jika diperbolehkan maka aku akan ikut."
Jason tersenyum, ia selalu suka bagaimana Dika bersikap. Suami dari Queen mafia itu seperti istrinya, memiliki aura yang kuat. Apalagi Dika dari jaman kuliah memang terkenal sebagai mahasiswa yang cerdas dan berbakat.
Setelah selesai Charles menuju depan ruang operasi di sana udah ada keluarga sang istri. Charles sungguh merasa bersalah, jika dia tidak mengizinkan Jani untuk pergi mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.
" Jangan menyalahkan diri sendiri nak, ini sudah jadi takdir dari Tuhan. Mari dilalui," ucap Sekar menenangkan sang menantu.
" Tapi ini memang harus diselidiki, ini kegiatan kampus, maka harus ditindak. Jangan sampai ada kejadian serupa yang menerima mahasiswa yang lain."
Apa yang dikatakan Radi jelas disetujui oleh semua orang termasuk Charles. Dia sungguh tidak sabar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jika benar ada yang sengaja melakukannya maka ia berjanji akan membuat perhitungan dengan orang tersebut.
🍀🍀🍀
Kabar Jani dibawa ke rumah sakit langsung menyebar di anggota komunitas pecinta alam yang saat ini sedang perjalanan ke kampus minus Lim dan tari. Sebagai ketua, Lim bertanggung jawab untuk apa yang terjadi dengan anggotanya. Dan Tari, ia karena saking khawatirnya dengan Jani maka ia meminta ikut kepada Lim.
" Apakah aku akan habis kali ini Tar?" tanya Lim kepada Taru saat mereka memasuki gedung rumah sakit milik Jason.
__ADS_1
" Nggak gitu juga kali Lim. Meskipun keluarga Dwilaga begitu terpandang dan kaya raya mereka sungguh low profile. Dan pasti tidak akan menyalahkan seseorang, mereka akan menyelidikinya terlebih dulu baru mengambil tindakan."
Penjelasan Tari sedikit membuat Lim tenang. Tapi tetao saja ia gusar, ia tentu tahu bagaimana Radian Nareen Dwilaga, si dosen killer itu. Nah, itulah yang Lim takutkan. Menghadapi sang dosen.
Rupanya saat mereka datang Jani sudah selesai operasi dan sudah di pindahkan ke ruang rawat. Ketika mereka ingin masuk pas sekali Radi dan Ayo keluar dari sana. Lim pun langsung menyalami dosen dan pemilik universitas tersebut. Dalam hati dia sungguh berdoa agar semuanya baik-baik saja.
" Pak bagaimana keadaan Jani?" tanya Lim dnegan sedikit takut.
" Alhmadulillah Lim semuanya sudah baik. Tapi tulang selangka Jani patah jadi harus operasi. Oh iya mari ikut kami kita bicarakan bagaimana kronologisnya. Tari juga ikut ya, nanti kalau sudah selesai baru ketemu Jani."
Tari dan Lim mengangguk, ada perasaan lega di dada Lim saat mendengar ucapan aryo. Benar kata Tari, mereka begitu humble.
Di sebuah kantin rumah sakit keempat orang itu berada saat ini. Lim dan Tari menceritakan apa yang terjadi. Baim Lim maupun Tari memang tidak berada di dekat Jani jadi mereka pun tidak tahu apa yang terjadi.
" Yah, aku punya ide. Begini, Lim, kabarkan keadaan Jani ke grup chat kalian. Oh iya kalian punya grup chat kan, beritahu mereka Jani mengalami luka parah dan saat ini belum sadarkan diri. Kuta lihat bagaimana reaksi mereka. Apa kau paham Lim?"
" Baik Pak Radi, saya paham."
Lim langsung melakukan apa yang Radi minta. Ia menuliskan keadaan Jani yang audah didramatisir oleh Radi. Berharap itu akan memancing reaksi orang.
Tring
Pesan diterima oleh semua anggota grup. Tidak ada yang tidak membaca, Lim jelas bisa mendeteksi hal itu. Kini merek tinggal menunggu rekasi para anggota.
Namun ternyata ada seseorang yang ketakutan di sana saat mengetahui keadaan Jani saat ini.
" Nggak, nggak ada yang lihat gue saat itu. Gue yakin semuanya nggak tahu apa yang terjadi."
TBC
__ADS_1