Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 74


__ADS_3

Semua orang jelas terkejut dengan pengakuan Charles dan Jani. Tapi beruntungnya mereka semua menerima. Tapi tidak munafik, mereka marah juga. Mengapa harus ada surat perjanjian segala.


Tapi saat ini bukan itu yang jadi fokus utama. Charles dan Jani sudah mengaku salah, dan mereka cukup senang karena kejujuran putra putri mereka.


Permasalahannya saat ini adalah Vernon. Ini jelas akan ada goncangan besar jika Vernon nekat memberitahu publik soal ini surat perjanjian itu.


" Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang," tanya Dika kepada adik dan adik iparnya.


" Aku sebenarnya punya ide. Aku harap semua mendukungku. Agak sedikit riskan tapi ini akan jadi cara satu-satunya," jawab Jani.


Charles menggeleng, ia jelas tidak setuju dengan cara ini. Tapi Jani mengusap lengan Charles lembut mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Jani secara perlahan menjelaskan mengenai rencananya. Semua orang jelas terkejut dengan keinginan Jani untuk menemui Vernon secara pribadi. Semua orang yang ada di situ mengatakan tidak. Tapi tidak dengan satu orang.


" Lakukan Jan, kakak setuju?"


" Benarkah, Kak Silvya setuju dengan rencanaku?"


Silvya mengangguk, ya, Silvya menjadi satu-satunya orang yang setuju dengan apa yang Jani ingin lakukan. Dika kemudian menatap tajam ke arah sang istri dan Silvya hanya mengangguk kecil. Dika membuang nafasnya kasar, dia tahu pasti istrinya itu akan ikut andil dalam hal ini.


" Jani, setelah ini ikut kakak. Ada hal yang harus Jani ketahui. Sedikit tips dan trik. Untuk semuanya, harap tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Saya punya kenalan tenaga profesional. Saya akan meminta bantuan teman untuk mengawal Jani nanti," ucap Silvya.


Semua tampak percaya dengan Silvya. Seorang CEO perusahaan besar pasti lah punya pengalaman dalam bidang seperti ini dan pastinya juga punya kenalan dengan orang-orang yang profesional dalam bidang keamanan.


" Kapan Jani mau nemuin pria itu?" Tanya Silvya, mereka saat ini saling berhadapan. Tapi Charles dan Dika juga ada bersama mereka.


" Secepatnya kak, jika bisa besok aku akan menemuinya. By, punya nomor ponselnya kan?"


Charles mengangguk, ia sungguh khawatir dan masih belum setuju dengan apa yang akan Jani lakukan.


Dika bisa melihat kekhawatiran Charles. Kakak kedua Jani itu berkata," Kita akan mengawasi. Kita tidak akan membiarkan Jani menemui pria itu sendirian."

__ADS_1


Silvya mengangguk, jelas hal itu tidak mungkin. Silvya memberikan sebuah alat untuk Jani, semacam kejut listrik tapi ini berbeda. Orang yang terkena akan langsung pingsan karena alat tersebut memiliki jarum kecil dan di sana semacam obat bius yang akan membuat orang tersebut langsung jatuh pingsan.


" Kak, apa ini tidak terlalu mencolok. Dia pasti akan curiga. Orang seperti itu pasti kewaspadaannya tinggi."


Silvya tersenyum dengan perkataan Jani. Rupanya adik iparnya itu cerdas juga. Silvya kemudian mengeluarkan sesuatu lagi. Sebuah cincin, sama cincin tersebut juga memiliki fungsi dan cara kerja yang sama. Jani hanya perlu menyentuh Vernon lalu Vernon bisa seketika tak sadarkan diri.


" Apakah lebih baik yang ini?"


Jani mengangguk cepat. Jelas cincin ini lebih mudah digunakan ketimbang alat kejut listrik tadi. Jani kemudian meminta Charles untuk memberikan nomor ponsel Vernon. Charles membuang nafasnya kasar. Ia benar-benar dilema.


" By, percaya padaku," ucap Jani meyakinkan.


Charles kemudian mengeluarkan ponselnya dan memberikan nomor ponsel Vernon. Jani langsung menghubungi Vernon, semua anggota keluarga langsung berkumpul dan semuanya diam. Jani mengaktifkan mode loudspeaker pada ponselnya agar semuanya bisa mendengar apa yang akan Jani dan Vernon bicarakan.


" Hay hallo, apa benar ini nomer Kak Vernon?"


Jani menyapa dengan nada yang begitu lembut. Diseberang sana awalnya Vernon enggan menjawab nomer yang tidak ia kenal, tapi nalurinya menyuruh Vernon segera menjawabnya.


" Masa Kak Vernon tidak mengenali suara aku sih."


" Jani, apakah benar ini kamu. Woaah, aku sungguh sangat senang. Tapi dari mana kamu mendapatkan nomorku."


Jani terdiam sejenak, dia harus membuat sebuah drama yang epik. Dia juga harus meyakinkan Vernon agar percaya padanya.


" Ini kak, aku diem-diem ngambil ponsel om tua itu. oh iya aku lihat di cctv Kak Vernon datang ke rumah. maafkan akau ya kak, aku di lagi keluar.Om itu sungguh posesif aku tidak suka, dia bilang kamu mengejarku dan aku diungsikan. Ini aku sembunyi-sembunyi menghubungimu. Huft, aku sungguh tertekan hidup dengannya. Kakak pasti tahu akan hal itu bukan?"


" Ya, aku jelas tahu. Aku menemukan surat perjanjian itu. Tenang lah aku akan membawamu dari dia. Aku yakin kamu tidak menginginkan pernikahan ini. Aku akan menyelamatkanmu dari jerat ppria tua itu."


Obrolan Jani dan Vernon berlanjut, Jani terus memprovokasi Vernon mengatakan bahwa dia benci Charles. Vernon tertawa senang, semua prediksinya benar. Dia bahkan mengatakan bahwa secara khusus membuatkan Jani hadiah. Itu kini akan ia gunakan untuk pernikahan mereka. Waah, tampaknya Vernon benar-benar menggilai Jani.


Semua yang mendengarkan itu bergidik ngeri. Vernon sungguh sudah sakit jiwa nya. iani tentu tidak bisa hanya sekedar masuk ke tahanan tapi harus ke rumah sakit jiwa.

__ADS_1


" Baiklah Kak, aku harus menutup telepon ini. Aku takut om tua itu mengetahui apa yang sedang kita lakukan."


" Ya kau benar sayang, segera tutup ponselmu. Nanti atau besok aku hubungi lagi. Aku akan merencanakan kepergian kita, aku akan memberitahu dimana lokasi kita bertemu selanjutnya."


Dirasa cukup, Jani langsung menutup panggilannya, semua orang bernafas lega. Mereka yakin rencana Jani ini akan berjalan lancar. Vernon begitu percaya dengan kata-kata Jani.


" Jan, rutinlah mengirim pesan. Aku yakin dia sudah masuk ke dalam rencana kita. Kamu hanya terus berusaha untuk meyakinkannya."


Jani mengerti apa yang dikatakan Silvya. Silvya sendiri sudah menghubungi temannya, Jason. Dokter itu jelas sangat senang sekali bisa mendapatkan orang seperti Vernon. Itu akan berguna bagi penelitiannya nanti.


Malam semakin gelap, semuanya mulai meninggalkan kediaman Dwilaga dan menuju ke rumah masingmasing. Sebuah pesan yang disampaikan Silvya kepada Jani untuk segera mengabarinya jika Vernon sudah menentukan tempat dimana mereka akan bertemu.


Jani langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tak lama Charles masuk membawakan segelas susu untuk istrinya.


"Minumlah sayang."


" Terimakasih by."


Jani menenggak habis segelas susu rasa coklat yang dibuatkan Charles. ia kemudian menaruh gelas itu di atas nakas.


" Sepertinya yang kamu ucapkan kepada Vernon itu begitu tulus dari dalam hati. Apakah aku seburuk itu." Charles menatap Jani dengan tatapan yang tidak bisa Jani artikan Tapi yang pasti ia tahu bahwa malam ini dia akan habis. Sepertinya suaminya itu cemburu.


" By, tunggu. Itu kan hanya akting." Jani merangsek mundur saat Charles mulai merangkak diatas tubuhnya.


" No, itu terlihat begitu natural. Anda kena hukum Nyonya Charles. Bersiaplah menerima hukuman Anda."


Charles mulai mencium bibir Jani, ia juga sudah mulai menjelajahi tubuh sang istri dengan tangannya. Charles tahu, ia harus hati-hati untuk mengajak Jani berhubungan maka dari itu ia hanya ingin mencumbu istrinya itu.


" Aku harap ini segera selesai sayang."


" Iya by, aku pun. Mari kita berdoa bahwa semuanya akan baik-baik saja."

__ADS_1


TBC


__ADS_2