
Pujo yang sedari tadi merasa gelisah kini mengerti apa yang membuatnya hatinya itu tidak tenang. Sebuah cerita mengalir dari Jani, Prita dan Lim. Terlebih dari Prita, salah satu mahasiswi yang menjadi saksi mata atas perbuatan putrinya.
Pujo tertunduk lesu dan sangat merasa bersalah. Dirinya sungguh tidak tahu sang putri berkelakuan seperti itu. Dia merasa gagal menjadi orang tua.
" Saya sungguh minta maaf Pak Aryo, nak Jani. Saya benar-benar minta maaf. Saya akan membawa anak itu untuk datang sendiri meminta maaf Kepada putri Anda pak. Untuk hukumannya, silahkan saya pasrah saja. Bagaimanapun dia salah dan wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan bila perlu saya akan mundur dari dewan komite."
Aryo dan Jani saling pandang, apa yang diucapkan Pujo membuat mereka terkejut. Bagi Aryo, Pujo merupakan orang yang berdedikasi tinggi dalam pekerjaannya dan bisa dibilang sangat jujur.
" Tidak usah sampai begitu Pak Pujo, Pak Pujo tidak perlu mundur dari dewan komite. Untuk Drazella kami akan membicarakannya lebih dulu."
Pujo mengangguk pasrah. Ia pun pamit undur diri. Sungguh dia sangat malu dnegan kelakuan sang putri. " Sepertinya aku sungguh harus resign dari sini. Sella sangat keterlaluan."
Pujo berjalan menuju tempat parkir dan ingin segera pulang untuk menanyai Sella. Ia ingin tahu apakah putrinya itu akan berkata jujur atau masih terus mengelak. Pujo yakin, alasan Sella tidak masuk kuliah pasti karena masalah ini dan bukan benar-benar sakit.
Di ruangan Aryo, Radi meminta Lim dan Prita untuk kembali ke kelas mereka masing-masing. Sebuah tarikan nafas dilakukan keduanya saat semuanya terungkap.
" Aku pikir bokap nya Sella tuh galak, sok gitu. Tapi ternyata enggak," ucap Prita kepada Lim. Mereka berjalan beriringan menuju kelas masing-masing.
" Iya gila, aku juga nggak nyangka. Sifatnya beda jauh ama si Sella," tukas Lim setuju dengan ucapan Prita.
" Doooor!"
Lim dan Prita terkejut saat seseorang muncul di depan mereka sambil berteriak. Lim bahkan sampai mengusap dadanya karena saking terkejutnya.
" Buset Tari, iih ni anak biasaan deh suka bikin orang jantungan."
Prita benar-benar kesal dengan ulah temanya itu sedangkan Lim, pemuda itu terdiam sambil terus mengusap dadanya.
__ADS_1
Tari yang awalnya tertawa terbahak-bahak mendadak khawatir saat melihat Lim. " Lim lo nggak pa-pa kan?"
Lim hanya diam tanpa sedikitpun merespon pertanyaan Tari. Tari pun mencoba bertanya lagi tapi Lim sungguh tidak merespon. Tari jelas mulai takut, ia takut terjadi apa-apa dnegan ketua komunitas pecinta alam itu.
" Lim, jangan bikin takut gue. Lo nggak apa kan. Lim!"
" Dooor, weeek, emang enak dikerjain. Gimana kapok nggak kamu?"
Tari memukul dada Lim. Sungguh dia tadi sangat takut. Terlebih Lim diam saja sambil memegang erat dadanya. Ia takut Lim terkena serangan jantung atau apa.
" Nggak lucu tahu," ucap Tari ketus sambil membalikkan badan dan berjalan cepat.
" Laah, kenapa jadi dia yang marah. Tari tunggu, aku nggak maksud begitu. Elaah women ... women, ampun deh."
Lim berlari mengejar Tari yang semakin jauh. Prita hanya menggeleng pelan melihat kedua temannya itu." Elaah kalau pada demen mending ngomong deh, nggak kayak bocah begitu."
🍀🍀🍀
Brakk
Pujo membuka pintu dengan keras. Lidya yang sedang membereskan rumah pun terkejut.
" Mas, ada apa? Kenapa terlihat begitu marah?"
" Mana Sella, panggil dia kesini."
Lidya tidak lagi berani bertanya saat gurat kemarahan jelas terlukis di wajah Pujo. Ia pun langsung bergegas menuju kamar sang keponakan. Berkali-kali mengetuknya hingga gadis itu keluar dari kamarnya.
__ADS_1
" Bibi apa an sih. Ganggu aja deh," ujar Sella kepada Lidya.
" Papa mu terlihat begitu marah. Dia meminta bibi untuk memanggilmu. Kamu ada buat salah apa Sel?"
Glek
Sella menelan saliva nya dengan susah payah. Tampaknya apa yang ia lakukan sudah diketahui oleh papanya. Dengan langkah takut-takut dan menundukkan kepala, Sella berjalan mengekor Lidya ke ruang tamu dimana Pujo berada.
" Duduk! Jadi apakah gara-gara kamu mencelakai seseorang terus kamu bertanya kepada papa apakah papa bisa mengeluarkan seseorang? Sebenarnya apa yang kamu pikirkan hah! Papa mana pernah mengajarimu menjadi seorang kriminal. Jika kamu ditangkap polisi papa akan menyerahkan. Biar kamu belajar."
" Papa tega gitu sama Sella dan malah belain cewek miskin itu. Pa, cewek miskin kayak gitu langsung aja drop out dari kampus maka masalah beres. Kasih duit buat tutup mulut."
Pujo terperangah dengan jawaban Sella. Bukannya sadar Sella malah semakin menjadi. Pujo memijat pelipisnya yang berdenyut. Bagaimana bisa putrinya itu seperti itu, sungguh Pujo tidka habis pikir.
" Gadis miskin? Rasanya kamu benar-benar bodoh Sel. Yang kamu katai gadis miskin itu adalah seorang putri dari pemilik Universitas. Rinjani Nestia D atau Rinjani Nestia Dwilaga adalah putri keempat dari Aryo Dwilaga Suseno. Anak perempuan satu-satunya keluarga Dwilaga. Dan atas perbuatanmu itu, papa rasa papa harus resign dari kampus."
Duaaaar
Seperti sebuah petir yang menyambar di tengah hari siang nan terik, Sella jelas terkejut dengan fakta baru yang ia temui. Kepalanya menggeleng cepat karena tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya.
" Bohong, papa bohong. Itu nggak bener. Mana ada, Jani itu anak Pak Aryo, dia jelas cewek miskin. Motornya aja butut."
Melihat ketidak percayaan Sella, Pujo akhirnya memberikan ponselnya di sana ada sebuah foto dimana formasi keluarga Dwilaga lengkap bahkan dengan menantu dan cucu-cucu mereka. Sella membulatkan matanya lebar-lebar. Tampaknya ia sungguh membuat masalah besar dalam hidupnya.
" Bagaimana, apa sudah yakin? Itulah orang kaya yang sesungguhnya Sell. Tidak perlu menyombongkan harta karena bagi mereka itu biasa. Tidak perlu memperlihatkan dirinya kaya karena dia tidak butuh pengakuan. Bahkan kekayaan yang kita miliki tak ada seperempatnya dari milik mereka. Jadi, papa harap kamu harus berani untuk bertanggungjawab dengan perbuatan kamu."
Sella langsung menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia yakin hidupnya akan habis kali ini. Sebuah kesalahan besar ia lakukan kepada salah satu putri konglomerat negeri ini.
__ADS_1
" Aku sudah hancur."
TBC