Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 75


__ADS_3

Di rumahnya Vernon tersenyum puas, ia bahkan tertawa terbahak-bahak karena merasa dirinya telah menang.


" Jani ... Dia menghubungiku. Apa ku bilang. Aku yakin jika dia bertemu denganku kembali pasti dia akan meninggalkan pria tua itu. Aishh, gila apa, pesonaku jelas lebih kuat ketimbang Charles. Baiklah mari siapkan untuk kepergianku dengan kekasihku."


Vernon memasukkan pakaiannya ke dalam koper begitu juga dengan milik Jani. Tidak lupa ia juga membawa surat perjanjian itu. Awalnya ia ingin langsung merobeknya tapi urung. Dia akan mengerti Jani nanti dnegan surat itu. Ya bagaimanapun ia harus waspada. Bukan tidak percaya dengan Jani, ia hanya takut Jani dimanfaatkan oleh Charles untuk menangkap dirinya.


" Tidak akan kubiarkan dia memanfaatkan kekasihku."


Vernon mencengkeram gagang koper dengan erat. Ia merasa marah jika membayangkan Jani yang tertindas oleh Charles. Dalam pikiran Vernon, Jani adalah wanita malang yang disiksa oleh Charles layaknya istri-istri yang teraniaya. Maka dari itu Vernon sungguh berniat untuk segera membawa Jani pergi.


Setelah membereskan semuanya Vernon kemudian mengambil ponselnya. Ia memesan tiket untuk kepergian mereka besok.


" Bagus, semua sudah sempurna. Martin? Aah persetan dengan orang itu. Lagi pula pasti kalau hanya membuat desain dimanapun aku bisa melakukannya. Itu kalau dia mau? kalau tidak pun juga tidak masalah."


Vernon sudah tidak lagi memikirkan pekerjaannya. Saat ink yang jadi fokus utamanya adalah Jani. Ya, membawa Jani pergi adalah hal besar yang paling utama.


***


Drtzzz


Cilla yang baru saja merebahkan tubuhnya itu kembali bangkit saat ponselnya berbunyi. Senyum terbit di bibirnya ketika melihat siapa yang menelponnya malam ini.


" Assalamualaikum kak, ada apa?"


Karena Cilla tahu mereka memiliki keyakinan yang sama maka ia pun menjawab panggilan telepon dari Darius itu dengan salam terlebih dulu.


" Waalaikum salam La, apa aku mengganggumu?"

__ADS_1


" Tidak kak, kami baru saja kembali dari kediaman keluarga Kak Jani. Ada sesuatu yang Bang Charles dan Kak Jani sampaikan."


Cilla dengan gamblang menceritakan apa yang terjadi di kediaman Dwilaga. Dia tidak melewatkan satu pun, bahkan rencana Jani untuk menemui Vernon pun juga gadis itu ceritakan.


" Woaaah ternyata Jani lumayan pemberani juga ya? Oh iya apakah Silvya tidak mengatakan apapun?"


Cilla mengerutkan kedua alisnya. Darius menyebut nama kakak ipar Jani. Apakah mereka saling mengenal? Itu yang ada di pikiran Cilla saat itu.


" Kak Silvya akan membantu Kak Jani untuk menghadapi Vernon."


" Bagus, kau yakin Silvya akan melakukannya. Aaah, iya. Aku adalah teman Silvya."


" Oh ya, astaga. Dunia ini benar-benar sungguh sempit."


Obrolan mereka berlanjut. Kali ini Cilla mulai terbuka dan mau bercerita mengenai apapun. Darius sungguh senang hatinya seperti dipenuhi oleh bunga yang bermekaran saat ini. Suara Cilla bagi candu untuknya.


Cilla, gadis berhijab itu benar-benar telah memikat hatinya. Ia bertekad untuk segera meminang adim dari Charles tersebut.


" La, Cilla. Hmmm tampaknya dia sudah tidur. Tidurlah baby, aku berdoa besok harimu akan lebih membahagiakan. Mungkin aku pengecut karena mengatakan ini saat kamu sudah terlelap. Tapi aku janji akan mengatakan hal ini besok ketika kita bertemu. Cilla, aku mencintaimu sungguh. Entah sejak kapan rasa ini muncul tapi yang jelas aku merasakan cinta itu. Selamat malam cintaku."


Darius kemudian mematikan ponselnya. Ia menghela nafasnya penuh dengan kelegaan. Sepertinya ia ingin segera melamar Cilla.


Jam menunjukkan pukul 11 malam. Darius keluar dari kamarnya ingin ke dapur mengambil minum. Dilihatnya sang ayah duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi.


" Dad, belum tidur?"


Darius urung ke dapur dna memilih untuk duduk di sebelah Albern. Pria yang hampir berusia 70 tahun itu masih terlihat segar meskipun kemarin baru saja keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


" Tadi sudah tidur. Tapi kebangun. Alhasil susah buat tidur lagi. Kau sendiri mengapa belum tidur? Apa ada masalah di perusahaan?"


" No dad. Perusahaan aman. Sejauh ini prosentase penjualan juga naik. Aku malah sedang ingin mengembangkan produk baru, ada dua option. Minuman kesehatan atau minuman isotonik, seperti itulah."


Albern tersenyum, ia merasa bersyukur putra satu-satunya itu tidak mengikuti jejaknya. Dulu Albern begitu ingin Darius bisa menggantikan dirinya menjadi pimpinan klan mafia tapi sekarang jelas ia lebih suka melihat Darius seperti ini.


" Maafkan daddy yang kurang baik sebagai orang tua Dar."


" Jangan bicara begitu, daddy sekarang sudah jauh berubah. Dad apakah mau mulai belajar agama dengan ku. Selama ini daddy, bukan, bukan hanya daddy, tapi kita tidak memiliki apapun yang akan kita gunakan untuk bekal setelah kita meninggal nanti. Darius ingin mulai sekarang kita memikirkan apa yang akan kita bawa saat kita mati. Dna yang jelas, itu bukanlah harta."


Albern mengerutkan kedua alisnya. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang Darius katakan. Dan, Darius bisa melihat ketidakpahaman dari wajah daddy nya.


Secara perlahan Darius menjelaskan apa yang ia maksud. Ia juga mengatakan bahwa selama setahun ini ia sedang belajar sebuah keyakinan dan ia mantab untuk meyakini itu.


" Apakah daddy masih bisa? Sedangkan jika di runut kebelakang dosa daddy sangatlah banyak son."


Albern menundukkan kepalanya. Ia mengingat banyaknya hal salah yang sudah ia lakukan dalam hidupnya dimana sebenarnya ia tidak pernah tenang sampai sekarang.


" Dariua pernah mendengar dad, Tuhan lebih menyukai taubatnya seorang pendosa dari pada ahli ibadah yang sombong. Tuhan Maha Pemaaf, jika kita memohon maaf dengan tulus dan berjanji tidak akan mengulang kesalahan maka pasti permintaan maaf kita akan diterima."


Albern terdiam dan menatap putranya itu. Sepertinya Darius memang sudah banyak belajar. Ia menjadi paham, Darius memang banyak berubah. Ia juga tidak pernah melihat putranya itu menyentuh minuman keras entah mulai dari kapan.


" Baiklah kalau begitu bantu daddy untuk menemukan apa yang hilang dari hati ini."


" Mari kita belajar bersama dad. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi."


TBC

__ADS_1


__ADS_2