Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 76


__ADS_3

Tring


Sebuah pesan masuk ke ponsel Jani. Rupanya itu dari Vernon. Padahal sat ini masih sangat pagi. Jam baru menunjukkan pukul 05.00. Di luar pun masih terlihat gelap. Tapi sepertinya Vernon sungguh tidak sabar.


Di dalam pesan itu Vernon mengatakan bahwa ia ingin mengajak Jani bertemu. Vernon juga meminta Jani untuk membawa paspor karena mereka akan pergi ke luar negeri.


" Waaah gercep kali nih orang. Masih pagi dah ganggu aja," ucap Charles kepada Jani. Ia juga melihat pesan tersebut.


" Hahaha, by please tahan rasa cemburu mu itu untuk saat ini. Semua demi jalannya rencana kita. Sepertinya baby dalam sini juga begitu bersemangat. Aah iya aku akan mengirimkan pesan ini terlebih dulu ke kak Silvya."


Charles mengusap perut istrinya dan menciuminya berulang kali. Meskipun ia khawatir tapi benar kata Jani, semua ini harus segera diselesaikan agar mereka bisa menjalani kehidupan yang lebih tenang.


" Baiklah sudah aku kirimkan. Dan aku juga sudah membalas pesan pria itu."


Charles bergeming. Dia tidak menanggapi apa yang Jani bicarakan karena saat ini ia sibuk menciumi perut Jani. Tapi sepertinya cium perut itu mulai merembet ke atas. Charles menyibakkan baju tidur Jani sehingga sesuatu yang amat ia sukai terpampang jelas di sana.


Charles meraup dengan mulut salah satunya dan memainkan satu yang lainnya dengan tangan. Hal tersebut tentu membuat gejolak dalam diri Jani. Terlebih semenjak hamil ia semakin mudah terpancing hasratnya.


"Sssshh by ... Aku mau."


" Baik, sesuai keinginan nyonyaku. Tapi pelan-pelan saja ya biar baby nggak kaget melihat ada tamu yang datang. Pagi ini acaranya adalah berkunjung melihat baby."


Terserahlah apa yang mau Charles katakan tapi saat ini yang pasti Jani sudah ingin lebih dari hanya sekedar cumbuan. Charles tentu mengerti akan hal itu tapi ya itu tadi dia harus hati-hati.


Ia mulai melucuti pakaian sang istri dan juga pakaiannya sendiri. Keduanya sudah sama-sama polos. Charles, sebelum manarik selimut untuk menutupi tubuh mereka terlebih dulu memindai tubuh sang istri dari atas sampai bawah.


Jani lebih berisi sekarang.bagian dada juga mulai terlihat sintal dan kencang, tidak seperti saat mereka awal menikah.


" Ini ... Ini ... Dan ini ... Semua adalah kepunyaanku," ucap Charles sambil mencium bagian tubuh istrinya yang menjadi favoritnya.


" Sebentar lagi kekuasaanmu hanya yang ada dibawah itu. Dua yang diatas ini akan disabotase olah anakmu nanti."


Pluk,Charles menepuk keningnya dengan telapak tangan. Ia lupa akan hal itu, sekitar 8 bulan lagi dua benda kesukaannya itu akan dikuasai oleh anaknya.


" Baiklah, sebelum dia menjajah aku akan menikmati hingga puas dulu. Tapi sayangnya aku tidak pernah puas."

__ADS_1


" By ... "


Suara merdu mulai keluar dari bibir Jani. Lagi, pagi itu di kamar Jani suara desahaan dan eranggan memenuhi pagi mereka. Charles menyalurkan rasa resah dan kegelisahannya terhadap pertemuan Jani dan Vernon nanti.


Saat ini dia ingin mengatakan bahwa Jani adalah sepenuhnya miliknya dan tidak ada seorang pun yang bisa mengambil miliknya itu.


" Baiklah, mari kita mandi sayang dan bersiap untuk hari ini."


" Ayo by, percaya padaku bahwa aku bisa melakukannya oke!"


🍀🍀🍀


Semua sudah siap. Kali ini Jani tidak akan membawa kendaraan sama sekali. Sesuai rencana Jani benar-benar berpenampilan sebagai seseorang yang kabur dari rumah. Fashion yang dia gunakan adalah celana kargo, kaos lengan pendek, kemeja flanel, sneaker, topi dna kaca mata hitam.


Ia juga membawa tas keril yang ia isi beberapa baju. Jani harus totalitas, agar Vernon percaya skenario yang mereka tulis.


Silvya tidak datang ke rumah. Istri dari kakak keduanya itu sudah menuju lokasi lebih dulu.


" Aah by, ini bawalah. Aku tidak ingin pria itu curiga."


" Huuft, hati-hati sayang. Aku akan selaku ada di sampingmu."


" Bismillah, kita bisa by. Pasti."


Charles memeluk erat sang istri padahal taksi online yang dipesan sudah menunggu. Tapi tak lama Charles sudah melepaskan pelukannya.


Giliran Sekar dan Aryo yang memeluk putri mereka. Kedua orang tua Jani itu masih tidak percaya jika hal ini menimpa anak mereka. Aryo dan sekar tidak tahu saja kalau Dika, putra keduanya pernah mengalami hal yang sama.


" Hati-hati ya sayang."


" Selalu berdoa."


" Iya yah, bund. Pasti. Doakan Jani semoga semuanya lancar."


Jani langsung masuk ke dalam taksi online dan ia meminta sang supir segera menuju ke lokasi. Satu hal yang Jani tahu, ia juga tidka boleh membuat Vernon menunggu lama. Ia tidak boleh membuat Vernon curiga.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Charles bergegas pergi juga. Kali ini dia menggunakan mobil lain. TidK menggunakan mobil yang biasanya. Hal tersebut dilakukan agar Vernon tidak mengenali dan tidak menyadari keberadaannya.


Drtzzz


" Halo Kak Silvya."


" Jan, jangan memakan dan meminum apapun pemberiannya mengerti."


" Aah iya kak aku mengerti."


Jani mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia yakin bisa menyelesaikan ini semua. Dia juga harus yakin bahwa suami dan kakak iparnya akan menjaganya dnegan baik. Jani kemudian mengusap perutnya yang masih rata.


" Bantu bunda ya sayang. Bunda yakin kamu juga ingin ini segera selesai. Setelah ini kita ajak ayahmu liburan oke. Bunda harus menyegarkan pikiran. Aisssh, tes semester kuliah baru juga kelar, sekarang malah main drama. Oke nak, kita semangat menghadapi ini semua."


Jani menganggukkan kepalanya sendiri. Sebentar lagi ia akan sampai. Dia bahkan menghitung mundur saat mobil yang ditumpanginya berhenti di parkiran sebuah kafe. Ya, vernon mengajak Jani bertemu di sebuah kafe yang terletak di ruas arah jalan menuju bandara.


Tak tak tak


Jani berjalan masuk, sebuah tangan melambai ke arahnya. Jantung Jani berdetak dengan sangat kencang. Ia beristighfar terus agar debaran dadanya melambat.


Dengan senyum yang ia buta setulus mungkin, Jani membalas lambaian tangan Vernon.


" Haaah, apakah sudah menunggu lama."


" No, aku juga baru saja sampai. Aku tidak tahu apa yang kamu suka, tapi aku memesankan kopi hangat pagi ini."


" Maaf kak, bukannya menolak pemberian kaka. Tapi aku punya asam lambung, aku tidak bisa minum kopi." Akting yang sempurna, Jani menampilkan wajah sedih dan memelas. Ia membuat seolah-olah dirinya sangat kecewa karena menolak pemberian Vernon.


" Tidak apa sayang, kita bisa pesan yang lain. Jangan merasa tidak enak begitu. Maaf, aku yang sembarangan memesan tanpa bertanya."


Vernon tersenyum lalu mengusap kepala Jani dengan lembut. Hal itu jelas tidak luput dari penglihatan Charles yang saat ini bersembunyi di sebuah tempat.


" Sial, awas kau nanti. Kupatahkan juga tanganmu."


TBC

__ADS_1


__ADS_2