Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 37


__ADS_3

Seseorang mengendap-endap. Ia melihat ke sekeliling memastikan bahwa semua tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Orang itu menyeringai, ia dengan langkah cepat dan sigap langsung menyentuh punggung seseorang. Orang yang berada dalam posisi jongkok dan berada di posisi tanah sedikit miring itu seketika langsung terguling ke bawah. Orang tersebut langsung berlari


Meskipun bukan tebing atau lembah yang curam, namum posisi bukit seperti itu jelas lumayan miring dan jika jatuh maka pasti akan terluka.


" Aaaaah ... !"


Teriakan itu sungguh keras dan melengking. Semua orang jelas terkejut terlebih Tari. Ia sangat mengenali suara Jani.


" Jani ... Tolong, Jani jatuh. Tolong!"


Semua orang pun langsung berusaha menolong Jani. Beruntung tidak ada bebatuan. Jani murni terguling di kemiringan tanah saja. Tapi tetap beberapa luka di dapat oleh gadis itu. Terlebih di bagian wajah, siku tangan dan kaki. Celana dan baju Jani sobek dibeberapa tempat karena mungkin terkena tanaman. Ada beberapa tanaman perdu berduri juga sehingga membuat beberapa goresan di sana.


Jani langsung dibawa kembali turu. Ia harus segera diobati.


" Apa perlu memanggil keluarga nya?" ucap sang ketua kegiatan tersebut.


Jani yang mendengarnya langsung menggelengkan kepalanya. Di tengah rasa perih yang ia rasakan Jani memilih untuk tidak memberitahu semua keluarganya termasuk sang suami. Jani tidak ingin semuanya khawatir.


" Lalu pakah mau pulang saja Jan?"


" Tidak perlu Lim, aku nggak apa. setelah diobati pasti sembuh."


Lim sebagai ketua komunitas ini merasa bertanggung jawab dengan apa yang menimpa Jani. Ia kembali bertanya kepada Jani apa yang terjadi. Jani pun menceritakan semua yang ia rasakan. Ia juga berkata bahwa dirinya merasa ada yang mendorong saat sedang menanam bibit pohon.


" Baiklah Jan, gue bakal urus ini. Bagaimanapun ini harus diselidiki. Gue tentu harus bertanggung jawab ini ke bokap lo."


" Nggak usah terlalu kaku gitu apa Lim, gue baik-baik saja. Jangan khawatir oke."


Lim mendengus berat, ia jelas tahu siapa Jani. Tanggung Jawab Lim seakan begitu besar saat ini. Putri pemilik universitas dicelakai, tentu itu akan menyeret dirinya. Meskipun demikian Lim tetap harus berani menghadapi.

__ADS_1


Lim keluar dari tenda Jani dengan wajah yang kusut. Tapi sebagai ketua, kegiatan ini harus berlanjut. Ia pun kembali ke ats lagi untuk menyelesaikan acara menanam pohon. Lim meninggalkan Jani dengan tari dan satu lagi bagian P3K.


" Jan, bener lo nggak mau menghubungi orang rumah," tanya Tari khawatir. Meskipun tidak parah tapi luka yang di dapat Jani lumayan banyak di beberapa bagian tubuhnya.


" Nggak usah Tar, ini nanti juga baik kok."


Jani menjawab dengan senyum lemah nya. Tapi apa yang dikatakan Jani tidak sesuai dengan reaksi tubuhnya. Jani menggigil, ditambah lagi tubuh Jani panas setelah beberapa saat berlalu. Tari semakin khawatir. Ia mengambil ponselnya tapi sungguh tidak beruntung, ponsel Tari mati. Ia pun terpaksa mengambil; ponsel Jani. Ia melihat seseorang yang terakhir Jani hubungin.


" Charles, siapa dia?" melihat banyaknya panggilan masuk Tari pikir pasti orang ini adalah orang yang dikenal dekat dengan Jani.


Tari tidak berpikir ke kakak-kakak Jani. Saat ini dia hanya berpikir bagaimana menghubungi orang yang bisa dia hubungi.


Tari berlari ke luar tenda dan mencoba mencari sinyal. Tari berjalan sedikit agak jauh dan sinyal pun ia dapat.


" Hallo, ini nomer yang terakhir kali Jani hubungi. Saya sahabat nya Jani. Apakah bisa menjemput Jani. tadi JAni jatuh dan sekarang tubuhnya sangat panas."


Tuuuut


Di kota J, Charles jelas khawatir. Ia yang sedang makan langsung saja meninggalkan piringnya dan berlari menuju mobil. Bukan mobil toyota DX kemarin yang ia pakai. tapi ia mengambil mobil rubicon hijau miliknya. Charles langsung menekan pedal gas nya dalam dan meluncur ke lokasi Jani berada.


" Ada apa ini Jan, Apa yang terjadi dengan kamu. Please aku mohon jangan terjadi apa-apa sama kamu."


Charles semakin cepat melajukan mobilnya. 3 jam perjalanan ia tempuh dan akhirnya sampai juga di lokasi yang di berikan oleh Tari. Charles berlari dan bertanya kepada orang yang ia temui mengenai keberadaan Jani.


Wusss


Charles menyibakkan pintu tenda. Dilihatnya di dalam Jani tengah terbaring lemah. Ada kompres di dahinya.


" Sayang,"


" Looh kok om di sini."

__ADS_1


Jani hendak bangun tapi oleh Charles di larang. Tari jelas bingung, siapa pria itu. Ia tahu nama pria itu Charles karena memang ia tadi yang menelpon dari ponsel Jani. Tapi mengapa Jani memanggil pria itu dengan sebutan Om dan pria itu memanggil Jani dengan sebutan sayang.


Tari jelas tidak salah dengar. Tapi tentu dia tidak berhak ikut campur dengar urusan sang sahabat itu.


" Kamu temannya Jani. Saya akan bawa Jani pulang. Tolong sampaikan ke pelaksananya."


" Ba-baik tuan."


Charles langsung meminta bantuan Tari untuk memposisikan Jani duduk. Charles akan menggendong Jani dan membawanya ke mobil. Tari mengekor sambil membawa tas milik sang sahabat.


Saat Charles sedikit berlari membawa Jani ke mobil Paundra dan Sella yang turun dari atas bukit melihat. Paundra jelas bertanya-tanya siapa pria yang membawa Jani pergi. Dia sebenarnya sangat ingin menemani Jani tadi tapi jelas hal itu dilarang oleh Lim.


" Itu tuh om-om yang nganterin Jani tadi pagi. Mungkin itu bener sugar daddy nya Jani deh," ucap Sella yakin.


Paundra hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Sella. Dari kemarin hanya itu-itu saja yang diucapkan oleh Sella.


" Tapi aku penasaran siapa kira-kira yang mencelakai Jani."


Paundra melirik ke arah Sella, gadis itu terlihat tenang dan sama sekali tidka menunjukkan reaksi apapun. Paundra pun berjalan lebih cepat meninggalkan Sella yang berjalan begitu pelan.


Sesampainya di area perkemahan Paundra langsung menemui Tari dan bertanya keadaan Jani. Mengapa sampai ada yang menjemput gadis incarannya itu.


" Jani demam tinggi, dia tadinya juga ga mau pulang tapi gue menghubungi orang yang ada di kontak Jani."


" Lo kenal Tar dia siapa?"


Tari menggeleng dan hal itu semakin membuat Paundra serta Sella penasaran. Namun tidak ada yang tahu bahwa saat ini Sella begitu gelisah. Terlebih saat Tari mengatakan bahwa Jani panas tinggi. Bukan hanya itu Tari juga mengatakan bahwa beberapa luka Jani bisa saja parah.


" Tidak, tidak apa-apa. Cewek miskin itu nggak akan tahu siapa pelakunya. Pun kalau dia tahu jelas dia nggak akan bisa ngapa-ngapain gue. Gue bakal bilang ke bokap buat mendrop-out dia dari kampus."


Sella bermonolog lirih, dia memilih kembali ke tenda ketimbang melanjutkan kegiatan menanam pohon yang sebenarnya sebentar lagi selesai.

__ADS_1


TBC


__ADS_2