Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua

Cintaku, Mentok Di Perjaka Tua
Cintaku Perjaka Tua 58


__ADS_3

Tari kembali ke kelasnya dan mencari Jani. Tapi tidak tampak Jani dimanapun. Padahal ia ingin memberitahu hasil pembicaraannya dengan Lim. Lim setuju untuk tari mengejar cita, tapi Lim tidak ingin mereka putus. Akhirnya Tari setuju dengan hela itu. Keduanya memutuskan untuk menjalani hubungan ini.


Tari melihat ke seluruh kelas mencoba menelisik keberadaan Jani. Ia bahkan melihat dengan seksama ke sudut-sudut kelas tapi tetap tidak juga menemukan sang teman.


" Aiiihh kemana sih tuh anak. Kalau pulang nggak mungkin. Ini tas nya masih ada di sini."


Tari berjalan kembali ke luar kelas dan mulai mencari Jani. Ia berjalan ke arah mushola, tapi saat bertanya kepada mahasiswa lain ia tidak melihat temannya itu. Namun seseorang menepuk bahu Tari dan memberitahu keberadaan Jani. Mata Tari membulat sempurna saat mendengar hal itu.


Gadis tersebut kemudian berlari cepat ke arah lokasi yang diberitahukan kepadanya. Nafasnya terengah-engah ketika sampai di sana. Mata Tari memindai kembali untuk menemukan sosok Jani.


" Tar, lo nyari apa an." Jani menepuk bahu Tari dan membuat gadis itu terlonjak.


" Ya Tuhaaaan, Janiiiiii!!!"


Tari berteriak tepat di depan wajah Jani. Ia sungguh kesal, dirinya sudah begitu khawatir dengan sang teman, eh yang dikhawatirkan sedang asik makan es krim. Ingin sekali rasanya Tari mencubit pipi Jani yang sedikit tembam itu.


" Lo napa sih. Berisik amat dah," cibir Jani sambil menghempaskan bokongnya di kursi taman. Ya saat ini mereka berdua berada di taman kampus.


" Tadi serius Sella kemari. Si drakula nggak ngapa-ngapain lo kan. Gue denger dari bocah saat ke mushola nyari lo, tadi katanya lo lagi bicara dengan tuh drakula."


Jani mengangguk. Beberapa waktu yang lalu Jani yang sedang berjalan melewati taman di datangi oleh Sella. Sella menepuk pelan bahu Jani. Awalnya Jani terkejut, Sella tidak mengiriminya pesan atau apa pun dan tiba-tiba muncul di hadapannya. Tapi bisa Jani lihat, Sella datang dengan damai. Sella tidak menampilkan wajah benci sedikitpun.


" Jan, bisa bicara sebentar," ucap Sella lirih. Sungguh sangat berbeda dengan Sella yang sebelumnya yang selalu bicara kasar dna ketus kepada Jani.


" Ayo duduk, ada pa Sell?" Jani mengajak Sella untuk duduk.


" Jan, aku kemari mau minta maaf. Mungkin ini sungguh sangat terlambat. Tapi aku benar-benar minta maaf. Aku sudah membuatmu terluka parah, aku beneran jahat. Aku akui, aku iri melihatmu, bahkan sampai kemarin saja aku masih berniat ingin mencelakai kamu." Sella bicara panjang.


Jani terperanjat mendengar ungkapan jujur dari Sella. Ia baru mengerti, ketidak sukaan seseorang terhadap orang lain bisa membuat orang itu berbuat nekat. Bahkan mungkin saja tidak berpikir efek yang akan ditimbulkan.


" Maaf Jan, maafkan aku. Aku harap kamu bisa memaafkan aku," ucap Sella lirih.


Sella menunduk dalam, ia sungguh tulus meminta maaf. Jani bisa merasakan hal itu. Tidak mau banyak bicara, Jani seketika membawa tubuh Sella kedalam pelukannya. Ia mengusap lembut punggung gadis yang pernah membuatnya menginap di rumah sakit beberapa waktu.

__ADS_1


" Aku sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu minta maaf Sell. Hiduplah dengan baik, aku yakin sebenarnya kamu adalah orang yang baik." Jani bersungguh-sungguh dalam mengatakan hal tersebut. Ia memang sudah memaafkan Sella jauh sebelumnya.


Air mata Sella luruh. Lihatlah, orang yan ia benci, orang yang ingin dia celakakan adalah orang yang begitu baik. Selama ini hatinya selalu tertutup oleh sifat angkuh dan sombong sehingga tidak pernah melihat kebaikan seseorang.


" Terimakasih Jan, Selamat untuk pernikahanmu. Oh iya, aku pamit. Aku bersama papa akan pindah ke kampung halaman papa. Semoga kita bisa bertemu di tempat yang baik dan dalam suasana baik pula."


" Aamiin."


Sella melenggang pergi. Ada rasa lega yang luar biasa ia rasakan dalam hatinya. Apa yang dikatakan sang bibi sungguh benar adanya. Kembali pada masa sekarang dan Jani pun saat ini kembali menikmati es krimnya. Tari hanya menatap sang teman dengan heran. Jani hanya diam dan tidak berkata apapun.


" Jan, beneran nggak sih kalau lo ketemu Sella."


" Bener, yook balik ke kelas. Abis ini kakak gue nih, telat repot lagi."


Jani bangkit dari duduknya lalu melenggang menuju ke kelas.tari tak lagi banyak tanya, ia merasa Jani tidka ingin bercerita dan Tari menghormati hal tersebut.Yang utama bagi tari adalah temannya itu baik-baik saja. Satu hal yang Tari tahu yakini adalah Sella tidak berbuat macam-macam terhadap sahabatnya itu.


🍀🍀🍀


Jani dan Charles hanya makan malam berdua. Mbok Nah belum kembali, tapi itu tidak malah untuk Jani, karena sebelum ada Mbok Nah pun ia terbiasa melakukan perkejaan rumah sendiri, tentunya dibantu dengan sang suami.


" Belum mulai by, baru besok mau mulai."


" Ya udah ambil buku, buruan belajar. dah cucian piring tinggal."


Jani memberengut, belajar adalah salah satu kata horor dalam kamus hidupnya. Jani sungguh tidak suka belajar.


" Jangan manyun gitu, cium nih."


" Laah mending cium deh dari pada belajar. Niih."


Charles menggelengkan kepalanya. Istrinya Itu bagaimanapun masih suka bersikap kekanak-kanakan. Charles kemudian mendorong jani ke ruang tengah lalu mengambil semua buku kuliah jani lalu diletakkannya ke atas meja. Charles tidak tahu apa mata kuliah yang besok diujikan maka dari itu ia membawa semua buku kuliah milik sang istri.


" Buseet dah diangkut semuanya." Jani terkejut melihat suaminya dengan banyak buku yang dibawa.

__ADS_1


" Dah jangan banyak protes, buruan belajar. Nanti aku buatkan spaghetti spesial buat istriku yang paling rajiin sejagad raya." Charles mengucapkan hal tersebut dengan merentangkan tangannya.


Jani tersenyum senang. Ia lalu mulai membuka jadwal tes semesternya dan mengambil dua buku mata kuliah. Terlihat ia begitu serius dalam membaca. Charles tersenyum, ia tahu Jani tidak ekspert sama sekali terhadap kuliahnya. Tapi Charles ingin jani tetap bisa menyelesaikannya. Sesuai janji yang pernah ia katakan kepada Jani bahwa Charles akan membuatkan sebuah toko kue buat sang istri.


Drtzzzz


Sebuah pesan masuk ke ponsel Charles. Ia segera membukanya sat mengetahui bahwa kakak iparnya yang mengirim pesan.


< Bang, apakah Jani mau belajar? besok ada tes semester. Kalau semuanya lulus, semester depan Jani bisa susun skripsi dan lulus sesuai masa kuliah normal.> Radi


< Alhamdulillah dia lagi belajar tuh. Aamiin semoga bisa lulus sesuai target.> Charles


< Terimakasih bang, tolong awasi Jani selama tes semester ini.> Radi


Charles tersenyum, kakak sulung istrinya itu ternyata begitu khawatir dengan perkuliahan si bungsu. Charles kemudian menuju ke dapur. Ia membuatkan minuman sereal untuk Jani dan membawanya ke ruang tengah.


" Minum kalau sudah hangat. Kau akan menemanimu di sini."


" Terimakasih ayang suami."


Charles mengusap lembut kepala istrinya. Ia lalu membuka laptop nya dan memulai memeriksa beberapa pekerjaan. Kedua alis Charles berkerut. Ia kembali membaca nya dengan seksama. Sebuah hembusan nafas dilakukan Charles, dan hal tersebut diketahui oleh Jani.


" Ada apa by?"


" Eh tidak ada apa-apa. Pekerjaan banyak, jadi bikin mumet. Padahal niatnya kalau kamu kelar ujian kita mau jalan-jalan."


" Ooh santai aja, kapan-kapan masih ada waktu."


Charles tersenyum simpul. Sebenarnya bukan itu alasan Charles menghembuskan nafasnya kasar. Ada sebuah permasalahan di William Diamond yang ternyata belum selesai. Tapi Charles tidak mau memberi tahu Jani. Ia ingin Jani benar-benar fokus terhadap ujiannya. Ia tidak ingin mengganggu istri kecilnya.


" Cilla, Ben, cek email dari ku segera." Tulis Charles di pesan grup yang hanya berisi mereka bertiga. Itu adalah grup yang Cilla buat untuk membahas perkejaan.


" Gilaaa! ini beneran gila bos!" ucap benzo terkejut.

__ADS_1


" Dia keterlaluan bang!" imbuh Jani tak kalah terkejutnya.


TBC


__ADS_2